Tuesday, June 15, 2010

Kebanggan Saat Membatik

Ini adalah hasil reportase dari kegiatan saya selama mengisi liburan yang super duper suntuk. Juga, sebagai bentuk kepedulian terhadap warisan leluhur.
Setelah seminggu yang lalu saya mengajak teman-teman untuk berpartisipasi dalam acara yang saya buat, ada sekitar 17 kepala yang akan ikut berpartisipasi.
Kenyataannya, Selasa, 15 Juni 2010, pukul 09.00 lebih sedikit, hanya 7 kepala yang hadir, termasuk kepala saya sendiri.
Saya sedikit kecewa ketika 3 bule (Irish dan Brittish) membatalkan niat mereka satu jam sebelum kelas dimulai.

Di bangunan utama yang bergaya Belanda--yang hanya berisi koleksi batik tulis, kami mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas membatik.
Cukup mengeluarkan Rp35.000 kalian sudah mendapat fasilitas membatik yang cukup lengkap. Setelah melakukan registrasi, kami digiring ke bangunan belakang, tempat kelas membatik diadakan.
Pantas saja Happy Salma sering mengasingkan diri ke museum ini, tidak seperti situasi depan museum ini--yang bising dan ramai oleh penjaja barang bekas di sepanjang trotar--
ternyata di dalam area museum ini menyimpan situasi tentram, damai, sejuk, rindang, dan asri--yang tidak akan pernah kita bayangkan bila hanya melihat dari luar bangunan utama.
Bangunan tempat membatik letaknya cukup jauh dari bangunan utama, gaya bangunan ini seperti ala Betawi, seluruh bangunan terbuat dari kayu.
di depan bangunan ini ada dua patung canting yang berdiri tegak menyambut kedatangan kami.

Melihat kedua canting yang cantik itu kami sangat antusias untuk segera memulai pelajaran membatik ini!! Kami adalah satu-satunya rombongan hari itu yang belajar membatik. hehe senangnya..
Di dalam bangunan tersebut, kami langsung diberi segepok sketsa-sketsa motif batik. Saya bingung karena banyak sekali motif yang bagus.
Kita dapat memilih motif yang telah disediakan atau membuat motif sendiri, pokoknya bebas. :D
Kami diberikan sehelai kain seukuran sapu tangan, dan ada beberapa meja lampu yang siap membantu kami untuk menjiplak motif yang akan kita jadikan batik.
Selama tahap pertama, yaitu penjiplakan motif, kami ditemani suara penyiar radio--entah apa nama salurannya--yang sumpah jayus, norak, alay banget.
Kami terpaksa merelakan kuping kami untuk menikmati dengan paksa musik-musik dangdut (bukannya kami mencela dangdut, kami hanya berharap pekerjaan membatik ini akan ditemani lagu-lagu campur sari atau lagu-lagu jawa, sehingga dengan begitu perasaan kami dalam membuat batik semakin terasah).

Pekerjaan menjiplak tidak memakan banyak waktu, karena saya lelet seperti ulur keket saya orang terakhir yang menjiplak dari kertas ke kain. yah sekitar 20 menit paling lama untuk menjiplak motif.
Langkah selanjutnya adalah mencanting..
Panaskan tungku, masukan malam, lalu tunggu hingga malam benar-benar meleleh seperti minyak. celupkan canting, angkat canting, tiriskan canting agar tidak menetes banyak, tiup pelan pelan ujung canting.
Letakkan 45 derajat dari kain, lalu mulailah berkarya diatas kain! Jangan harap tetesan yang mengena pada kain akan hilang!! itu seperti aib yang sulit dikendalikan saat meruak kepermukaan (apaan sih, Fi?).

10 menit pertama, tangan saya gemetaran memegang canting, kaku sekali tangan ini.
15 menit pertama, hasil cantingan di kain masih belum mulus, banyak garis yang tidak sesuai pola.
30 menit pertama, akhirnya saya bisa juga menggunakan canting, walau tidak terlalu mahir.
45 menit pertama, sudah ada beberapa tetesan yang merusak karya saya.
2 jam pertama, kesabaran saya sudah mulai menipis.
2,5 jam pertama, saya memberikan hasil saya pada instruktur, tapi hasil saya ditolak, mas-masnya bilang "itu yang belakang juga dicanting", saya cengo!! mulai mencanting lagi, dengan mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang ada.
yah pokoknya diselingin sendau gurau, gosip sana sini, akhirnya saya dapat menyelesaikan tahap mencanting ini.

Dari semua tahap, tahap mencanting yang paling sulit, karena itu dasarnya. Saat saya sedang mencanting, saya lupa segalanya, saya hanya fokus pada batik. Itu sebabnya batik tulis Indonesia itu memiliki 'soul'. Dan saya bisa mengerti angka 'mahal' yang tercantum disetiap helainya.
Saya merasakan kesulitan yang sangat parah mengerjakan tahap ini.

Oke, sisanya, adalah membilas, merendam dengan warna yang diinginkan, direbus, dibilas lagi dengan air dingin. Dan voila... jadilah batik hasil tangan dan jerih payah saya sendiri. :D
baiklah, hasil saya paling buruk dari semua teman-teman saya. tapi saya tetap bangga. sayaaa bangaaaaa sekali...

kalo orang gembar gembor soal batik, tapi ga tau bagaimana pembuatan dibaliknya, mendingan nyebur kelaut aje deh..capek tau...

Dari seluruh petualangan kami dalam membatik, amat berkesan. Saya mau lagi kesana untuk membatik lagi. Saya ingin belajar lagi..


ah ...lelah tapi tetap senang... senang sekali... :D
Kami selesai sekitar jam satu siang, menunggu hujan reda dibarengi makan somay, lalu keliling ke dalam museum tekstil..
lalu kami pulang membawang keriangan yang melelahkan.


"Dari hasil membatik itu, kita dapat mengetahui watak si pembuatnya. Ada yang sabaran tapi tempramen, ada yang tempramen tapi nggak sabar, ada yang gak sabaran dan tempramen".
yah bolehlah belajar batik, bisa mengasah kesabaran kita.. asal kita mengerjakannya dengan cinta, pasti batiknya akan memancarkan aurora, ada 'soul'nya gitu. percaya ga percaya sih, tapi kalian harus percaya,,.kalo ga percaya ya coba ajaa...

2 comments:

Nnisa Annisa said...

maaf mau tanya.. itu lokasi membatiknya ada di daerah mana ya?
dan fasilitas dari sekolah membatik disana diberikan secara intensif(setiap hr masuk) atau hanya kursus singkat 1 hr saja ya? atau bahkan bs ke 22ny?

makasih sebelumny :)

gypsyholic said...

@Nisa: ini adanya di lokasi Museum Textil, di tanah abang,
bukan sekolah sih ini, cuma tempat buat belajar aja, kalo mau datang setiap hari ya monggo, kalo cuma sehari ya silakan, dia bebas kok masuknya mau hari apa aja, tapi liat2 jadwal museumnya, kalo senen biasanya tutup dh.