Tuesday, July 5, 2011

Jakarta Hitching Race 2011 : Susahnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian II)

sebelum menulis catper tentang Ujung Genteng dan Cikaso, saya akan menamatkan catperJakarta Hitching Race 2011 ini.

Perhentian Ketiga: Tembang Pribumi
Posisi saat itu kami masih di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Setelah membaca clue berikutnya, yaitu sebuah lokasi komunitas musik tradisional di Jl. Kavling Polri C, Jelambar, Jakarta Barat, dengan sigap ketua tim, si Ino, menuntun kami untuk berjalan kaki ke arah Stasiun Kota. Kata Ino, di sana arahnya mobil-mobil ke arah Jelambar. Kami perempuan sih nurut aja.
Di seberang St. Kota, kami memberhentikan sebuah mobil pick-up yang ternyata mau berbagi dengan kami :)

hahaha ternyata supirnya malu buat foto bareng aku, hahaha :) (sebenarnya sih doi takut difoto, karena katanya takut kena masalah sama bosnya), baiklah, kami tidak memaksa.


setelah naik mobil bapak yang aku lupa siapa namanya, kami diturunkan di depan pos polisi Jl. Jelambar, daerah Duta Mas (kalo saya tidak salah ingat).
Berhubung di depan ada pos polisi, dengan PD kami langsung ketok-ketok pintu kantor polisi tersebut, muncullah seorang polisi lengkap dengan busananya, kami bertanya di mana letak Kavling Polri Blok C, dan bapak itu malah memberikan kami petunjuk yang sangat rumit.

akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tebengan di depan pos polisi tersebut. Selang berapa menit, di tengah panas dan debu, ada sebuah mobil pickup yang menawarkan jasa tumpangan gratis. Tanpa pikir dua kali, kami segera bergegas menaiki mobil tersebut.
Saya dan Uthe duduk di depan, dan ketua tim, Ino, di belakang.




























Dan ternyataaaa supir ke empat ini baik banget, dia mau nganterin kami sampai ke depan Jl. Kavling Polri blok C, padahal arah awalnya bukan mau ke sana. Sumpah baik sekali orang ini.
Akhirnya, kami diturunkan di depan gang persis. Dari situ, kami harus mencari sebuah rumah dengan ciri-ciri memiliki komunitas musik tradisional. Hal itu tidak mudah, karena Jl. Kavling Polri Blok C itu adalah sebuah perumahan hunian, jadi tidak ada tanda-tanda spesifikasi khusus yang mencerminkan rumah itu adalah milik sebuah komunita, sampai..,

ya sampai kami mendengar ada alunan musik dari sebuah rumah! ya, dan ternyata benar.Tembang Pribumi. Ya, itulah pos perhentian ketiga kami. Tantangannya adalah memainkan alat musik gamelan bali dengan kompak. Setiap anggota harus memilih salah satu alat, dan dimainkan secara bebarengan.

Asal kalian tahu saja ya, bakal saya di bidang musik itu 0 besar, alias gak ada bakat musik sama sekali. alhasil, ya, alunan musik yang dimainkan Ino dan Uthe terpaksa rusak gara-gara saya. Maaf ya kawan.

Biarpun karya dadakan kami ini benar-benar hancur total, Komunitas Tembang Pribumi ini sangat baik hati, mereka mau memberikan tanda tangan di passport kita. Setelah itu kami bisa deh berfoto bareng dengan mereka.




























Dari Tembang Pribumi, kami mendapat petunjung berikutnya, yaitu:
Apa?? Cikini?? sumpah, di tengah kelelahan dan keputusasaan kami, petunjuk berikutnya semakin membuat kami tertantang. Cikini! ini adalah area yang berlawanan arah dengan Jelambar, atau dengan kata lain, jauh, jauh banget dari Jelambar tempat kami berdiri saat itu.
Belum lagi ditambah, kompleks perumahan yang kami lewati sangat jarang dilalui mobil-mobil, alhasil kami terpaksa jalan hingga jalan raya.

Tiba-tiba ada sebuah mobil pick-up biru melintas di depan kami, akhirnya kami kejar mobil itu hingga kami diperbolehkan menumpang hingga depan perempatan (yah, lumayan hemat tenaga :)) walaupun hanya sebentar tetap saja sebuah rezeki yang tak dapat ditolak.

Lihat deh muka supirnya saat kami bagikan voucher Sevel "biar makin gaul bang!" pesan kami :)
kami diturunkan di depan sebuah jalan antah berantah, dari sana kami segera mencari tumpangan lain. Setelah agak berjalan lama, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil carry, ini adalah mobil tertutup pertama yang berhasil kami dapatkan. Alamaaak susahnya mendapatkan mobil pribadi seperti ini.
Sayangnya, mobil ini tidak terlalu dapat membantu, karena mobil ini mengarah ke grogol, sedangkan kami hendak menuju Cikini. Kami terpaksa diturunkan di pinggir jalan yang saya tidak ingat namanya. Yang jelas, di seberang jalan raya itu adalah jalan masuk menuju tol Tebet dan Kuningan. Kami bertiga berdiskusi sebentar, mengatur strategi, kami memilih untuk mencari tebengan di depan jalan masuk tol, dengan harapan akan diangkut hingga ke Tebet. Masalah dari Tebet ke Cikini, akan dibicarakan setelah kami sampai Tebet. Begitulah pemikiran kami pada saat itu.

Mencari tumpangan di depan pintu masuk tol itu sungguh luar biasa sulitnya, semua pengendara melihat kami, tanpa memberikan tumpangan. Ada satu mobil pribadi menawari kami tumpangan, sayangnya arah mobil tersebut ke Cikampek. yah T_T sama saja bohong...

Akhirnya, dari sejumlah mobil-mobil yang sombong itu, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil box. Supirnya mukanya jutek banget, tapi dia baik mau memberikan kami tumpangan. Selama perjalanan bapaknya tidak banyak bicara. Hingga akhirnya kami diturunkan di depan Seven Eleven Tebet.

Catper tentang nongkrong di Sevel dan titik terakhir, mari klik sini.

2 comments:

Anonymous said...

mau tanya alamatnya tembang pribumi dimana yah?
saya kamrin sudah ke kaving polri blok C tapi tidak ketemu rumahnya

gypsyholic said...

iya rumahnya itu rumah biasa, ada mobil di depannya, ada anjingnya gede, denger2 aja kalo ada alunan dentingan gamelan/suara nyalak anjing. kalo ga salah sih nomor 58, saya juga lupa. kalo nanya orang skitar memang gak tau.