Saturday, November 12, 2011

Sedikit unek-unek tentang gender mengenai bacaan Injil

Gue bukan ahli agama atau orang-orang Farisi. Tulisan kali ini cuma sebuah unek-unek yang ada di kepala gue. Semester ini kan gue ngambil kelas Gender dalam Sastra, gue belajar memahami bagaimana gender seharusnya diperlakukan. Yah, kalo boleh dibilang, sejak masuk kelas ini gue semakin bertanya-tanya mengenai peran perempuan dan laki-laki.

Berawalnya sih dari minggu-minggu lalu. Sewaktu gue ke gereja, kebetulan tuh otak gue lagi ON banget, jadi gue menyimak bacaan Injil dengan baik (biasanya sih masuk kuping kanan keluar kuping kanan lagi, hehe).
Minggu lalu itu perikopnya: injil Matius 25: 1-13. Tentang mempelai perempuan yang harus bersiap-siap. Setelah mendengar Injil dibacakan oleh pastor, otak gue mulai deh bunyi "nguing nguing", banyak pertanyaan yang gue mencoba untuk berdialog dengan batin gue sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti,
kenapa dalam kisah tersebut harus mempelai perempuan yang menyongsong laki-laki? kenapa tidak mempelai laki-laki? atau, kenapa salah satu jenis kelamin harus yang jadi korban. Kenapa tidak menunggu saja di tempat itu?

Dari bacaan ini, gue kayak gak rela gitu, kenapa mempelai perempuan harus yang repot-repot bawa petromax? lha, kenapa nggak mempelai pria yang baru datang itu yang bawa petromax. Kenapa perempuan harus sibuk mengurusi tetek-bengek pesta pernikahannya? kenapa laki-laki hanya digambarkan tiba-tiba datang (kita nggak tau mereka habis darimana dan ngapain? bisa aja kan mereka abis "jajan"). Kenapa juga si cowok-cowok pada telat datengnya? (yah mungkin aja mereka macet di jalan--masa naik kuda macet?)

Memang sih, saya mengerti pesan yang ingin disampaikan, yaitu manusia sepatutnya selalu siap sedia akan segala hal, baik ataupun buruk. Karena Tuhan datang di saat yang tidak kita duga-duga. Rejeki datang tidak kita duga-duga. Bencana atau kesialan pun sama halnya.
Oke, gue mencoba merumuskan sendiri. Yah, kalian tau kan Alkitab ditulis zaman bahela, ditulis oleh kaum laki-laki, jadi hasilnya ya kayak begitu deh. Sudut pandangnya laki-laki.

Minggu ini gue ke gereja lagi, kali ini bukan mengenai bacaannya, tapi soal pastornya.
si pastornya ini sempit banget pemikirannya soal gender.
Dia bilang, "istri itu bangunnya mesti pagi-pagi.", "Kebangetan kalo istri dibangunin suami" (terdengar nada yang menekan untuk kata "kebangetan"), "Perempuan-perempuan kalau kerja pakai mulut, bukan pakai tangan."

si Pastor bilang gitu gara-gara konteksnya, di Injil dibilang kalo perempuan itu harus bekerja dengan tekun, dll. Terus, si pastor mencoba membandingkan dengan zaman sekarang. dan masalahnya adalah seolah-olah dia sangat menekankan pada beban seorang Istri. istri harus begini harus begitu.

kalo menurut saran gw, boleh-boleh aja homili kayak gitu, tapi harus diimbangi, dia bisa komentar soal peran istri, tapi dia juga harus mengomentari beban peran seorang suami. biar adil.


soal perempuan harus bangun pagi, lebih dulu dari suami. Maaf-maaf aja, gue kurang setuju. Bukan gara-gara gue gak mau bangun pagi, maksud gue, seharusnya selalu ada alasan, kenapa istri boleh bangun lebih siang dari suaminya. Misalnya aja, si istri baru pulang kantor jam 11 malam, terus masa iya besok hari Minggu dia harus bangun jam 4 pagi buat bikinin sarapan suaminya. Masalah siapa yang harus bangun lebih pagi dalam hubungan suami-istri seharusnya bukan masalah dia itu istri dan dia itu suami, atau dia itu perempuan jadi harusnya begini dan begitu, atau dia itu laki-laki harusnya begini dan begitu. NGGAK KAYAK gitu konsepnya.
seharusnya ada negosiasi lah dan fleksibel aja sama konteks, jangan terpacu dengan stereotip yang ada di masyarakat.


oke-oke sekian unek-unek gue, cuma itu yang lagi pengen gue sampaikan. Hmm, jadi melihat dari dua masalah di atas, gue rasa dalam sebuah penjelasan kepada publik memang harus ada penjelasan yang detail, yang jelas. kalo penjelasannya cuma satu sisi, jadinya masalah ini kelihatan bias. Semua harus dijelaskan alasan-alasannya secara terang. Biar masyarakat menerimanya dengan jelas juga.

sekali lagi, tulisan gue bukan mau menghakimi atau gimana-gimana, ini cuma unek-unek aja yang ada di kepala gue, mungkin aja gue banyak salah, atau cara pandang gue emang kurang pengetahuannya mengenai agama. Kalo ada yang mau komentar atau memberi tanggapan silakan aja. gue terima dengan lapang dada, yah, namanya juga lagi belajar. Semoga kalian bisa memberikan gue pencerahan atau masukan.


oh ya, satu lagi nih pendapat gue,
kalian tau kan, agama itu terbentuk dari masyarakat-masyarakat yang hidup di zaman sistem patriarki. Makanya, banyak aturan agama yang "sepertinya menguntungkan pihak pria". Kalo gue pikir-pikir, mau ngomongin soal keadilan gender, tapi kadang suka bentrok soal aturan agama. gue jadi pusing sendiri. lo lebih mentingan agama atau kebebeasan lo sebagai seorang individu yang bebas?
terus kalo gue ngomong gini, pasti adalah gue disodorin bukti-bukti yang menyatakan setiap agama itu memperlakukan perempuan dan laki-laki setara. okelah, gue gak mau banyak ngomong lagi.

2 comments:

Rainiku said...

Sepertinya, masalah yang kita hadapi sama. Gender dan agama.
Ah, kadang-kadang gue juga mikirin hal yang sama kayak yang lo pikirin, kenapa harus perempuan. Tapi, sebenarnya, kalau kita kaji lagi, tinggal sudut pandang kita mau berpihak ke siapa.
Dan gue percaya banget kalo Tuhan enggak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tapi ya itu, lagi-lagi, sistem yang mempertemukan kita dalam keadaan yang sudah telanjur salah kaprah seperti ini. Fiuh.
Sudahlah. Yang penting dari kita gak perlu lagi main gender. hehe

gypsyholic said...

@I'a: makasih ya I'a sudah baca dan komen, kmrn aku jg mampir lho ke postinganmu yg baru :) cuma belom smpet komen2,, hehe
gw jg masih bertanya2, sbenernya masalah gender itu ilmiah gak sih dbahas? soalnya subjektif bgt klo mnurut gw dan bbrapa orang.