Wednesday, December 28, 2011

Konsumerisme Memperbudak Masyarakat Urban: Sihir Sepasang Sepatu

Crazy Sale @Senayan City

Di kelas Dialektologi, sebenarnya saya sedang sit-in, teman-teman saya sedang sibuk membicarakan tugas akhir mereka. Dan saya duduk manis di pojok kelas sambil bermain laptop, membuka Facebook, Twitter, Tumblr, dll. Pikiran saya sedang disibukkan dengan itinerary ke Kuala Lumpur nanti.
Tiba-tiba, ketika saya sedang berseluncur ria di FB, saya menemukan sebuah foto:

WHAT??
Sontak saya teriak, “WOOY ADA SALE!!”
Teman-teman saya serentak menoleh dengan tatapan seolah, “Lo gak tau apa kita lagi rempong? Udah cuma sit-in  bikin berisik!”

Beberapa yang se-aliran dengan saya, segera mengerubungi saya. “Yuk, yuk, yuk, nanti sepulang kuliah kita langung cus yuk!”

Jam 5 sore, bergegaslah saya, Tari, Zi, dan Atha. Dari St. UI ke St. Sudirman. Dari St. Sudirman naik Kopaja 19 turun di seberang Ratu Plaza. Begitu menjejakan kaki di Senayan, kecepatan berjalan kami seperti orang yang takut telat kelas Semantik.

Kami benar-benar sedang diperbudak oleh sepatu.
SEPATU!!!

For Godshake! Sepatu itu kan cuma alas kaki.

Sesampainya di mall maha luas Senayan City, ada semacam energi ekstra yang saya peroleh. Saya merasa ada escapist dalam benak saya. Saya lupa setumpuk tugas-tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok pagi, saya lupa besok ada presentasi, dan materinya belum saya siapkan.
Saya sadar telah dikuasai oleh konsumerisme. Entah kenapa, perasaan itu menyenangkan. Kata Tari, “Fi, gue berasa lagi jadi salah satu tokoh di Confessions of Shopaholic!”
Saya ini bukan tipe tukang belanja, tapi saya ini adalah tipe yang tidak akan tahan menahan diri dari hal-hal berbau diskon. Semacam naluri hewani, rasanya.
Di benak saya antrian kali ini akan sangat panjang, karena acara diskon ini baru hari pertama.
Dulu, saya pernah sempat datang ke Pesta Diskon Crocs, tetapi karena saya melihat antriannya mengular sepanjang 2 lantai di mall tersebut, saya mengundurkan diri. Waktu itu saya ciut. Cemen. Tidak punya jiwa kompetitif.

Well, tidak untuk kemarin. Dari kampus saya sudah niat, seberapa panjang antrian, akan saya jalani! Demi sepatu!!

Sepertinya, Dewi Keberuntungan sedang berpihak pada kami.  Begitu kami sampai di The Hall lantai 8, bayangan mengenai antrian yang mengular itu sirna. Kami masuk, melenggang kangkung dengan santainya.
Begitu kaki kami menginjakkan area diskon. Ada semacam suara di otak saya, “War is begin”. 
AAAAAh.. ini seperti peperangan. Mata kami dihadapkan pada pemandangan yang menakjubkan. Saya terkesima sejenak. Menyiapkan diri untuk memulai peperangan. Peperangan memperebutkan sepatu-sepatu murah.
Sebenarnya ketika kami datang,pengunjungnya tidak terlalu banyak, tetapi gunungan sepatu dan rak-rak sepatu yang berjejer begitu banyaknya membuat saya takjub, bimbang, galau. Sejenak, otak saya impoten. Tidak mampu memilih, mana yang akan saya ambil.
Dan ketika kami memulai peperangan itu, kami tidak menjadi kami lagi, tetapi menjadi ‘saya’. Saya sudah lupa dengan siapa saya pergi, saya tidak peduli mereka sekarang di mana. Kami berpencar. Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri. Ada dunia baru, saya dan sepatu-sepatu itu. Orang lain tidak pernah ada di dunia itu.Haha.
Dua jam kami membuang waktu mencari-cari sepatu. Pengunjung semakin padat. Oksigen semakin menipis, padahal di sana ada AC. Kami memutuskan untuk segera membayar hasil temuan kami.

Ketika kami menuju area pembayaran, “Welcome to the second step”
Peperangan belum berakhir. Ada antrian yang mengular. Saya pening. Banyak sekali orang sedang mengantri untuk membayar. Ahh… 1 jam lebih kami berdiri di barisan tentara peperangan sepatu murah itu. Kami mengantri untuk mengesahkan ‘hak’ kami sebagai prajurit peperangan ini.
Jam 10 malam saya keluar dari Senayan City dengan perasaan lelah, lega, dan senang.
Hujan badai mengiringi kepulangan saya. Seolah merayakan kemenangan atas sepatu-sepatu itu.
Saya basah kuyup pulang ke rumah. Tapi, saya berhasil mengamankan laptop dan sepatu-sepatu itu dari hujan.

Inilah hasil kerja keras saya.


awalnya, saya melihat sepasang sepatu ini di rak paling bawah. Teronggok begitu saja. Saya menjajalkan telapak kaki saya. Lalu, saya tinggalkan lagi.
Hingga beberapa menit kemudian, Tari membawa tiga pasang sepatu, saya disuruh memilih. Kemudian dia menyisihkan sepatu yang awalnya saya incar itu. Akhirnya, saya ambil tanpa berpikir panjang. Memilih sepatu ini tanpa sebab. Entah kenapa.


The Little Thing She Needs

Sepatu flat biru tua ini saya temukan tanpa sengaja.
Awalnya saya menemukan model ini yang berwarna orange. Kemudian saya coba. Dan kaki saya seolah berkata, "WELCOME". 
SUMPAH! nyaman sekali sepatu ini. Begitu masuk di kaki langsung berasa ingin memilikinya sebagai alas kaki. Awalnya saya ingin menghadiahi sepatu ini untuk mama. Eh, pas sampai di rumah, ternyata sepatunya nggak muat. Yah apa boleh buat, kami sudah jodoh. hehehe...


"Alfi!! Ankle boots?" respon yang didapat saat melihat kantong belanjaan saya. Mereka tidak percaya orang tipe seperti saya ini membeli sepatu seperti ini. 
uhmm,, tidak kah kau lihat keindahan sepatu ini? oh. Ankle Boots! saya sudah mencita-citakannya sejak lama. Akhirnya, tersampaikan juga.

8 comments:

Maya Floria Yasmin said...

segede apa diskonnya Af? =P

gypsyholic said...

90-50% :)

Mentari said...

sampe kapaaaaannn???
haduuuh, mupeeeeenggg....

gypsyholic said...

sampai tanggal 31 Des

Diego Christian said...

Itu lo habis berapa, Fi?

gypsyholic said...

150 aja

dweedy said...

Saya benci melihat diskon sepatu :(( sebagai pemilik kaki kecil, diskonan tidak memberikan efek apapun .__. gak ada yang muat dikaki! kebesaran semua :(( *curcol*
ahh... saya jatuh cinta dengan sepatu kuning kamu :( *tunjuk2*

gypsyholic said...

@dweedy: ukuran kakimu berapa?
ada banyak banget kok yg ukuran kecil, yg paling kecil ukuran 35, :) gak perlu sedih, coba aja datang, spatunya lucu2 :)