Wednesday, July 4, 2012

Bersepeda Keliling Tanah Kelahiran, Jogja Tercinta

Sebelum bergegas meninggalkan Jogja, menuju Temanggung, saya mengajak sepupu saya untuk keluar rumah, mencari angin segar. Berhubung motor sepupu saya sedang dipakai ibunya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi keluar dengan sepeda. 

Tunggu...
SEPEDA??? 
"Takut, Fi?"
hmm, bukannya saya nggak bisa naik sepeda... Bisa sih.. cuma saya jarang aja naik sepeda, paling sering cuma di kampus doang... di luar nggak pernah, soalnya saya sendiri nggak punya sepeda. 

Masalahnya adalah saya tidak terlalu menguasai rem tangan. Tambahan lagi, saya hanya bisa mengendarai sepeda yang ukurannya tidak terlalu besar dan tinggi, karena kaki saya pendek.

Saya pikir bersepede keliling kota Jogja adalah hal yang menarik, dan belum pernah saya lakukan sebelumnya. Sebenarnya sudah lama ingin saya lakukan, tapi malas. hehe.. mumpung lagi ada teman jalan, kenapa nggak. 

akhirnya, pagi itu, sekitar jam 10 kurang, saya dan Bhita mengenjot sepeda, dari Jl. Jambon menuju daerah Malioboro. 

Hal pertama yang saya rasakan ketika bersepeda di tengah jalan raya: STRESS!! waaa saya dikelilingin mobil dan motor. kanan kiri motor, depan belakang mobil, sebentar-bentar saya dengan bunyi klakson. Gimana saya nggak stress?
Aduh.. kalo semangat saya lebih kecil dari pada nyali saya, pasti saya sudah ambil jalan pulang. 

Untungnya, semangat saya lebih besar daripada nyali saya. HAHAHA :D 
Dengan bersusah payah, dan sebentar-sebentar mengumpat, akhirnya sampailah kami di Benteng Vrendeburg. 

Saat itu sedang ada Festival Kesenian Yogyakarta. Tahun-tahun sebelumnya saya sering ke sini, dari tahun ke tahun saya menilai acaranya semakin sepi. Entahlah, atau mungkin hanya perasaan saya saja. Seusai melihat-lihat gerai yang menjual berbagai produk kesenian, kami juga melihat museumnya. Sudah berkali-kali pula saya melihat museum ini. Bosan. :P 

Tiket masuk benteng seharga Rp2.000

Bhita on pose

its me on pose also

crafts.. and so many things
Rasa lapar menghampiri perut kami, setelah lelah melihat-lihat seluruh sisi benteng, kami menyebrang untuk berkunjung ke Mirota Batik. Awalnya sih ingin mencari sesuatu yang menarik.  Akhirnya saya membawa pulang 9 kartupos pilihan.

Saya ingat sekitar dua tahun lalu, saya pernah makan di restoran yang terletak di atas toko Mirota Batik. Namanya, Oyot Godhong.
Kami memesan pisang bakar, es buah, dan es dawet.


Setelah makanan ini habis, kami tidak langsung mengkayuh sepeda ke rumah, tetapi kami mampir dulu ke Jl. Kranggan, untuk mencoba yogurt di Yougurtku. 

Butuh tenaga besar untuk mengkayuh sepeda dari Malioboro ke Jl. Kranggan. Di tengah jalan, setelah Jl. Sudirman, katanya Bhita sih di Jl. Kota Baru, saya jatuh dari sepeda. Sebenarnya sih, hal ini sudah biasa terjadi. Setiap kali saya naik sepeda, selalu saja rentan untuk jatuh. Jadi ingat kata seseorang, "kalau nggak jatuh, bukan belajar namanya"

Kejadiannya waktu itu tidak ada yang lihat, cuma saya dan Tuhan yang tahu kenapa saya bisa jatuh. Waktu itu Bhita sudah jauh di depan. Untungnya, lukanya tidak seberapa, dan untungnya sepedanya tidak kenapa-napa. Kalau rusak kan.. gawat juga. haha.. maaf yaa Bit..

Setelah puas menikmati yogurt yang asam nan lezat itu, kami segera bergegas pulang. Puas banget bisa kembali ke rumah dengan keadaan selamat. Ya ampun... perjuangan besar banget nih bagi saya buat mengkayuh sepeda di tengah jalan raya.   Kalau sepedaan di jalanan sepi sih nggak masalah, sejauh apapun sih saya kuat, tapi kalau sudah di jalan raya.. aduh maaak.. saya stress berat.. biar bagaimanapun, saya senang bersepeda di kota Jogja. suasananya menyenangkan. Saya pikir, di Jakarta saya akan bunuh diri kalau coba-coba bersepedaan di tengah hari bolong seperti waktu itu. 

No comments: