Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts

Sunday, September 20, 2015

Kuliah Lagi: Proses Daftar Kuliah di Belgia

Mudah! 

Ada rencana mau kuliah di Belgia, khususnya daerah Vlaanderen? Prosesnya mudah menurutku.

Jadi setelah 2 tahun ikut les bahasa Belanda di Belgia, saya memutuskan untuk lanjut kuliah. 
Kali ini saya memilih college, karena di college akan lebih banyak belajar hal praktis daripada teorinya, karena saya sudah pernah belajar di universitas, jadi cukup tau lah. 
Nama sekolah saya Hogeschool West-Vlaanderen di Kortrijk, ini websitenya

Syarat untuk mendaftar kuliah di sini tidak terlalu repot, di sini link persyaratannya. 
Biasanya pendaftaran dibuka sejak akhir Juni, jadi yang diperlukan adalah:
  • kartu ID Belgia +fotokopiannya (bisa bikin dulu di balai kota setempat)
  • untuk pelajar asing perlu menunjukkan sertifikat kemahiran berbahasa Belanda tingkat 8 atau setara dengan Vantage 2,  atau B2,  atau tingkat 3.2. Untuk universitas biasanya perlu sampai C1, atau 4.1, atau Richtgraad 4. 
  • Ijazah SMA/Univesitas/pendidikan terakhir yang sudah dilegalisasi kedutaan Belgia dan yang sudah diterjemahkan/ sudah dalam bahasa Inggris.
  • terakhir, bawa kartu debit untuk membayar uang sekolahnya. 
Untuk biaya pendidikan bachelor di college, harganya berbeda-beda setiap jurusan, tetapi biasanya bedanya tidak terlalu jauh, hanya beda beberapa ratus euro :P. Untuk Howest harganya bisa lihat di sini.  Setelah membayar uang kuliah, kalian juga bisa meminta keringanan dari pemerintah Belgia, setiap orang kasusnya berbeda-beda, jadi untuk lebih jelasnya soal keringanan/beasiswa dari pemerintah Belgia bisa langsung baca-baca di sini. Di website tersebut kalian bisa menemukan serba-serbi lengkap tentang hak-hak apakah status kalian bisa mendapat beasiswa/tidak. Atau kalian bisa juga mengajukan beasiswa dari instansi mana saja. 


Untuk tempat tinggal/kos-kosan di Kortrijk ada banyak pilihan, mulai dari 200 euro untuk bayangan harganya bisa lihat di sini. 

Kalau sebelumnya pernah kuliah dengan mata kuliah yang sama, nilai-nilainya bisa ditransfer, tapi sebelumnya ijazahnya harus disetarakan dulu dengan sistem di Belgia. 
Kalau ada kendala-kendala lain, seperti disleksia, ADHD, sudah punya keluarga, sambil bekerja, atau cacat fisik, sekolah-sekolah di sini mempunyai fasilitas yang bisa menyesuaikan dengan kondisi pelajar. Keren kan?

Untuk soal visa pelajar, bisa sebelumnya menghubungi sekolah yang ingin dituju, untuk memberikan surat ke kedutaan Belgia, dan syarat-syarat visa pelajar bisa dilihat /hubungi di website kedutaan Belgia. 




Wednesday, December 7, 2011

Depok-Poncol-Harmoni: sebuah kisah perjalanan hidup yang melelahkan

aah kalau bisa menjabarkan hari ini dengan kata-kata, kayaknya kalian bakal bosan membaca tulisan saya yang super duper panjang.
Yah, begitulah hari ini. SANGAT PANJANG DAN MELELAHKAN.
Pertama, pagi-pagi saya ke kampus dengan jantung yang berdebar-debar, bukan karena minum kopi luwak lagi. Pasalnya, saya menjadi pembicara dalam presentasi jenis-jenis feminisme. Bagian saya adalah feminisme psikoanalisis dan feminisme gender. Puji Tuhan, presentasi sukses, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab untuk minggu depan. Ah, gampang.

Ketika yang lain ikut kelas Bahasa Isyarat, saya sendirian pulang ke Jakarta. Nggak pulang juga sih, tapi mau ke Senen, mau ngeprint kartupos. Tapi, emang dasar ya PT KAI yang nyebelin itu, sudah satu jam menunggu, kereta ekonomi tujuan Kota tidak kelihatan batang hidungnya (Emang kereta punya hidung?). Hasil penantian satu jam yang nongol cuma kereta ekonomi tujuan Tanah Abang. Yah, daripada gak nunggu lama, mendingan naik aja deh. Lagian, kata si Uci ada kok kopaja dari Manggarai ke Senen. Oh ya, di tengah menanti kereta yang tak kunjung datang itu, saya berkenalan dengan cowok anak Metalurgi 08. Ternyata, dia gebetannya teman saya. Hahaha, dunia kok sempit banget. Waktu saya tanya, ternyata dia juga mau ke Senen. (wah, kebetulan.)
Detik itu juga, saya sms teman saya, "Eh, gebetan lu lagi ada di samping gue nih, kita ngobrol-ngobrol gitu deh" pancing saya. Ahh.. ternyata teman saya nangis gara-gara baca sms itu. AAhh maaf gak maksud...

Well, ternyata si Uci boong. Saya sudah turun di Manggarai, tahunya nggak ada yang ke Senen. Ya udah deh, saya naik Transjakarta, harus transit dulu ke Matraman, mana jalan jembatannya panjang lagi. Gapapa deh, bela-belain buat kartupos. Sempat sih, kepikiran, apa langsung balik ke rumah aja ya? Saya sempat bimbang, tapi saya membiarkan kaki saya melangkah, tanpa mencegahnya.
Tau-tau saya sudah ada di luar halte TJ Ps. Senen.
waduh, gimana nih cara ke Kalibaru? dulu sih naik bajaj dan pernah sekali naik mikrolet 01, tapi itu dari Terminal Senen. Cukup jauh kalo jalan kaki dari halte ke terminal. Ya sudah, lagi-lagi saya menyerahkan kepada kaki saya ini. Saya jalan lurus menelusuri arah barat, di tengah panas terik.
Saya melewati Stasiun Senen, melewati Poncol. Tiba-tiba saya terdampar di desa Knalpot, dan Gitar. Isi desa itu hanya dihuni pria-pria sangar, yang disinyalir adalah Preman Senen. Alamak! saya masuk ke sarang penyamun.

Oke, saya menyembunyikan mimik "buta arah" itu dengan terus berjalan menatap lurus ke depan. Ada yang siul-siul, saya acuhkan. Di ujung gang, ada mikrolet. Wah, ada secercah harapan.
Sayangnya, mikrolet yang telah dinanti dari jauh itu tidak ke Kalibaru Timur. Tapi, bapak supir mikrolet yang baik itu memberikan masukan, "Jalan kaki lurus saja."

Saya ikuti sarannya. TERNYATA, yang dia bilang "dekat" itu jaraknya kira-kira 1 km. Alhasil, saya jalan kaki sejauh itu dengan matahari tepat di ubun-ubun kepala saya. Semua lelah itu terbayar ketika memasuki ruang ber-AC milik Prima Graphia. Tidak sampai 1 jam, kartupos saya sudah selesai dicetak. Saya pulang, dengan M 12, Senen-Kota. Perjalanannya cukup panjang, kira-kira satu jam di mikrolet. Sewaktu saya ingin berhenti di depan Gajah Mada Plaza, ada kejadian yang membuat memar di punggung saya.

Jadi, ketika mikrolet itu hendak berhenti, kaki saya sudah menggapai tanah, alhasil, tubuh saya terseret dan terjerembab ke trotoar. Tahu dong betapa kerasnya trotoar?
yap, untungnya, kaki tidak keseleo, cuma tanggan lecet-lecet, dan punggung berdarah. Karena posisi saya ketika jatuh adalah terlentang.
Dengan keadaan seperti itu, saya berjalan kaki dari Gajah Mada hingga rumah, yah satu kilometer lagi lah perjalanannya.

Malamnya, saya capek sekali. Tiba-tiba, boss mengajak saya untuk ke gereja, mau bertemu Pastor. Tiba-tiba saya diajak ke sebuah perkumpulan kecil yang membahas mengenai ekaristi. Padahal, saat itu saya sedang Skype-an dengan seorang teman yang besok akan terbang ke US. :(( sedih kan dipotong gitu?
di perkumpulan itu (yang isinya semua orang-orang tua), saya belajar memahami banyak hal.
Tema pokok tahun ini adalah ekaristi. Kami membicarakan bagaimana pentingnya sebuah ekaristi. Iman itu penting dalam segala hal. Pembicara diskusi itu memberikan kami tips bagaimana berdosa yang sesungguhnya. Sebuah contoh, misalnya kita sedang berdoa, tetapi isi doa tersebut jalan hanya permintaan kita kepada Tuhan, sebelum membuat tanda salib, sebaiknya kita hening selama 3-5menit, untuk mendengarkan atau merasakan aba-aba/jawaban dari Tuhan. Hal ini belum pernah saya lakukan.

Kemudian, pembicara tersebut sempat berkata "Manusia yang takut akan Tuhan, akan diselamatkan"
Nah, menyinggung soal feminisme, pikiran saya mulai ngiung-ngiung lagi. Kalau selama ini Tuhan itu He, atau berkelamin laki-laki, kenapa kita perlu takut kepada-Nya? seakan-akan karena konsep itu ada sebuah paradigma di masyarakat bahwa perempuan harus takut / tunduk pada laki-laki.
kenapa?????

Sampai di rumah, saya disuruh ke Carrefour. Jalan kaki lagi.
Yah, kalo boleh saya bilang, hari ini saya telah berjalan 10km.

oke sekian kisah hidup saya.


Thursday, November 24, 2011

Saya dan Kereta Api Sialan Itu: Ketika hidup bergantung pada Rp4.000

Sore kemarin, 23 November 2011, hujan deras, gemuruh, dan kilat menemani perjalanan dari Perpustakaan Pusat UI hingga St. UI.

Uang di dompet hanya Rp4.000, itu hanya cukup untuk membeli tiket Transjakarta dari Juanda ke Harmoni. (hari itu saya sengaja naik kereta tanpa membeli tiket, karena uang saya benar-benar sekarat)

Saya duduk menikmati hujan di tepi stasiun, bersama penumpang lain, para penjaja tissue dan masker, dan manusia-manusia lain. Saya mulai menunggu kedatangan kereta ekonomi jam 6 sore.
Setelah dua jam menunggu tanpa kereta satu pun yang lewat, sebuah pengumuman menyatakan bahwa kereta sedang mengalami gangguan persinyalan.

jam berapa itu?
ya, jam 8 malam. Kalian tahu? bus-bus di Depok arah ke Jakarta selalu sudah punah setelah jam 8 ke atas. Alhasil, cara satu-satunya menuju rumah adalah hanya menggunakan jasa PT KAI.

Apa daya kalau kereta yang mengalami gangguan sinyal itu tidak dapat dipastikan kapan kembali normal?
Saya menghubungi teman sekelas saya, menanyakan ada di mana dia, Dia tenyata telah berada di dalam kereta Commuter Line ber-AC. Dia menawari pinjaman uang untuk sekadar membeli karcis kereta AC dan ongkos pulang.

Tapi saya menolak. Dengan alasan, "ah tidak ah, nanti setelah kereta AC-mu jalan, di belakang ada kereta ekonomi kok." saya jawab dengan yakin, walaupun saya tahu kereta sedang lagi dalam masalah, dan tidak jelas juntrungannya.

Kereta Commuter Line AC yang ditumpangi saya meninggalkan stasiun UI. Meninggalkan saya yang sedang duduk di tepi stasiun menanti kereta ekonomi.

Satu jam menunggu, sekitar jam 9 malam lewat. Akhirnya kereta ekonomi itu tiba di stasiun UI.
Saya mendapat tempat duduk. Sudah 20 menit saya duduk di kereta itu, namun kereta itu tidak kunjung bergerak-gerak. Diam di tempat. di stasiun UI.

Perasaan saya sudah tidak enak. Saya hubungi teman saya yang lain, yang sedang naik kereta di depan kereta saya ini. Ternyata, kereta mereka tertahan juga di stasiun berikutnya, tidak bisa jalan.

Saya mulai berpikir-pikir. Kalau saya tunggu kereta ini hingga benar, mau sampai kapan? saat itu sudah jam 10 malam. Kalaupun kereta itu jam 11 baru beres, saya sampai di stasiun Juanda pasti sekitar jam 12 atau jam 1 dini hari. Jam segitu sudah tidak ada Transjakarta yang beroperasi.
Saya harus jalan kaki dari Juanda ke Harmoni. Ah.. tidak mau!

Kalau begini terus, menunggu ketidakpastian, seperti hubungan yang digantung, hal itu membuang waktu. sia-sia belaka. Otak saya berputar mencari akal. YA, saya hubungi kekasih lesbian saya, Martha. Kebetulan, saya pernah berpesan, "nanti aku boleh ya nginep di kosan mu?"
wah kebetulan sekali, momen ini tepat untuk bermalam di kamar Martha.
Setelah meminta izin mama, saya segera melesat ke kosan Martha.
Malam itu saya tidak makan malam, karena uang saya hanya Rp4.000, sebenarnya bisa saja saya meminjam uang Martha, tetapi perut saya masih kenyang setelah makan siang gratisan yang disajikan oleh Dekanat hari itu. Beruntungnya saya. Rp4.000 di dompet masih aman belum dipakai.

Di kosan Martha kami mulai berdiskusi banyak hal. Lalu, tak berapa lama, setelah mandi kilat dan cuci muka, dan tanpa sikat gigi, kami langsung pergi tidur.

Tidur yang begitu nyenyak tiba-tiba tanpa sadar matahari sudah mulai meninggi, Martha ada kelas jam 8 pagi, saya pun harus ikut siap-siap ke kampus lagi, padahal saya masih ingin berbaring lebih lama karena kelas saya dimulai pukul 10 pagi. Baru kali ini saya ke kampus dengan dandanan super duper kucel, rambut lepek, kusut masai, baju dan celana tidak ganti, badan serasa lengket, jerawat tumbuh gara-gara semalam cuci mukanya kurang bersih. Sempurna untuk mencitrakan kegembelan saya.

Di tengah perjalanan menuju kampus, Martha berhenti di tempat nasi uduk langganan saya. Rp4.000 masih di dompet. Saya tergiur untuk membeli sarapan. Tetapi saya tahan napsu konsumtif saya, dengan harapan saya bisa bertahan dengan sebatang coklat yang dari kemarin saya bawa-bawa di tas ransel. "Pokoknya, uang Rp4.000 itu harus buat bekal pulang saya hari ini"

Sesampai di kampus, saya mendapat kabar kalau kereta masih dalam gangguan persinyalan.
Saya mengucap syukur, karena kalau semalam saya menerima tawaran pinjaman uang dari teman saya, saya pasti naik kereta AC dan sampai di rumah jam 1 malam, dan pagi-paginya lagi saya harus berangkat ke kampus dengan kereta yang gangguan persinyalan itu. aahh untung saya nginap semalam. Untung pula saya bertahan dengan uang Rp4.000 itu.

Di kelas rejeki datang, dosen saya yang telat itu menyogok kami dengan kripik tempe dan bolu kukus. Wah lumayan lah buat mengganjal perut saya.Hemat, tidak perlu membeli ganjalan makanan.
dan setelah kelas hari ini, yang cuma satu, saya langsung ngacir ke stasiun UI untuk pulang ke Jakarta. Masih dengan Rp4.000 di dompet. Saya sengaja tidak membeli tiket kereta. siang itu, sekitar jam 1 siang, kereta nampaknya sudah mulai berjalan normal. Saya naik kereta ekonomi arah Tn. Abang (karena hanya itu yang tercepat), kemudian turun di stasiun Sudirman, dan naik Transjakarta menuju Harmoni.

Saya sampai di rumah dengan membawa sekeping koin Rp500. Inilah kisah saya dengan mempertahankan uang Rp4.000 tersebut.

Kepada PT KAI,
terima kasih, Anda telah sukses membuat saya menunggu hampir 4 jam di stasiun UI, di tengah hujan yang deras. Terima kasih telah membuat banyak orang menggerutu akan pelayanan yang Anda berikan. Terima kasih telah membuat perut-perut pegawai yang pulang kerja semakin meronta-ronta hendak diberi asupan, terpaksa mereka harus jajan di stasiun--padahal mereka seharusnya bisa menghemat dengan makan malam bersama keluarga mereka. Terima kasih telah membatalkan janji-janji ratusan orang malam itu, Anda tidak tahu kan pelayanan Anda telah mengecewakan orang-orang di sekitar penumpang Anda juga secara tidak langsung.
Terima kasih Anda telah memperlama rasa rindu bocah-bocah yang menanti orangtuanya kembali pulang bekerja, mungkin beberapa dari mereka ingin bertanya untuk mengerjakan PR mereka, tetapi karena gangguan sinyal itu, bocah-bocah itu terpaksa frustasi mengerjakan PR mereka. Sadarkah Anda telah membuat pendidikan kita menjadi terhambat (secara tidak langsung)?
dan terima kasih pula, telah membuat karakter-karakter penumpang untuk menjadi orang yang lebih sabar. Kami telah mengorbankan waktu kami dengan sia-sia. Sampai kapankah pelayanan Anda akan terus menerus seperti ini?


terus terang, saya K-E-C-E-W-A.


Tuesday, November 22, 2011

Sebuah Diskusi mengenai Korpus Bahasa Indonesia

Saya yakin Bahasa Indonesia akan mampu membuat korpusnya sendiri :)

pada sebuah kesempatan, setelah kelas Pengantar Metodelogi Penelitian Kebudayaan, tanggal 22 November 2011, awalnya saya akan langsung "bersembunyi" di perpustakaan. Namun, teman-teman mengajak saya untuk menghadiri sebuah seminar kecil mengenai korpus bahasa. Saya pikir nggak ada salahnya ikut diskusi kecil ini, lagipula pasti akan banyak wawasan baru yang akan saya dapat.
wah benar saya, selama hampir 2 jam mengikuti seminar kecil ini, wawasan saya menjadi bertambah buanyaaaaaak banget...
eits, tunggu dulu, apa sih itu korpus? mungkin orang-orang di luar dari bidang Linguistik, akan bingung. Oke, kalau yang belum tahu apa itu korpus, kalian bisa tanya Mbah Wiki, di sini. Atau kalau mau lebih jelasnya, bisa baca versi bahasa Inggris-nya di sini.
Gimana? udah nangkep belom apa itu korpus dalam bidang bahasa?
Acara ini diselenggarakan oleh program studi saya, yaitu prodi Indonesia, sebuah seminar dan diskusi singkat, serta sebuah sosialisasi mengenai korpus bahasa Indonesia. Kesannya akademis banget kan? Kalau kalian pikir acara ini bakal ngebosenin. Kalian salah. Karena seminar ini dibawakan oleh dua dosen andalan saya, yaitu Pak Nazarudin dan Pak Umar Muslim. Jelas aja, kedua dosen tersebut membuat seminar ini semakin menarik. kenapa? yaah cuma anak-anak IKSI dan Tuhan yang tahu kenapa. hahaa :) Belum lagi, anak IKSI yang terkenal dengan suka apapun yang gratisan, sewaktu di seminar ini kami dapat minuman ringan dan coklat-coklat, tambah antusias dong?

Oke, seminar ini dimulai dengan penjelasan apa itu korpus dalam bidang linguistik. Korpus itu secara singkat adalah sebuah kumpulan teks, dengan menggunakan metode penelitian yang berbasis data elektronis.
Jadi, korpus adalah sebuah temuan canggih yang menggabungkan dua dunia, dunia IT dan dunia linguistik.

Sistem Komputer + Ilmu Linguistik = Korpus

Korpus ini lebih dapat diandalkan daripada intuisi. Kalau selama ini, penelitian linguistik Bahasa Indonesia itu masih mengandalkan intuisi dan kata-kata para pakar linguistik (yang katanya belum tentu kebenarannya, kita masih pada tahap percaya pada mitos-mitos yang dikatakan mereka),
Munculnya korpus ini, tentu dapat mendeteksi:
1. Kolokasi : dengan korpus kita bisa mencari kata-kata yang berkolokasi. misalnya kita ingin mengecek kebenaran, apakah kata "garam" selalu berkolokasi dengan kata "dapur"?? naah, untuk melakukan itu kita gak bisa sembarang menentukan, dengan adanya korpus,penelitian akan jauh lebih objektif.

2. Frekuensi: korpus akan membantu menemukan kata-kata/frase-frase mana yang lebih banyak digunakan. Misalnya, dalam sebuah teks masa lampau, kita ingin menemukan/mengetahui sejak kapan penggunaan kata "Ada"? korpus akan segera memberikan jawabannya :) ringkas dan menghemat waktu bukan? Korpus juga bisa menjawab/menunjukkan kepada kita frekuensi penggunaan kata-kata/frase-frase sesuai dengan penelitian kita.

3. Makna Pragmatis / Prosodi : dengan korpus juga lah kita bisa membentuk kamus yang berdasarkan makna pragmatisnya. Selama ini kan, Pusat Bahasa membuat definisi lema-lema entah berdasarkan apa, kalau ada korpus, bahasa Indonesia akan semakin jelas, dan definisi-definisi dalam kamus itu akan lebih relevan dengan pemakaiannya di masyarakat.

4. Fraseologi (idiom): dengan korpus pula lah kita bisa mengecek frase-frase idiomatis secara akurat.

canggih ya? Tapi, dibalik kecanggihan itu semua, ada juga kekurangannya,
1. korpus tidak dapat memberikan informasi sesuatu unsur bahasa. Kalau kalian mau tau informasi lebih lanjut, kalian harus melakukan analisis, ya iya lah, korpus kan cuma alat bantunya, otaknya kan terletak pada manusianya, gimana mengolah sumber data tersebut.
2. korpus hanya menampilkan unsur-unsur yang terdaftar, Jadi, misalnya kalian mau teliti teks yang belum dimasukin ke korpus, mau sampai ubanan juga gak akan berhasil. Datanya dimasukin dulu lah, baru bisa diproses.
3. Korpus hanya berfungsi sebagai data, penyungguh informasi. Percuma aja kalau sama manusianya nggak diolah. Misalnya, korpus cuma nunjukkin, penggunaan kata "adalah" sekian persen. Nah, kalo cuma gitu doang sih buat apa? justru itu, manusia-manusia seperti kita harus mengolah agar data jumlah itu bisa memiliki arti.

Sebenarnya, kalau boleh dibilang Indonesia ini ketinggalan jauuuuh banget sama negara-negara maju yang lain (ya iyalah, dari segala aspek kali). di negara-negara lain, contohnya aja UK, misalnya di Universitas Oxford deh, mereka itu udah punya korpus yang hampir dikatakan lengkap banget. Jadi penelitian mereka menggunakan korpus itu lebih mudah.

nah gimana dengan di Indonesia? yaa Allah, kita itu masih lagi dalam tahap masukin data-datanya menjadi soft-file, kalian tau kan data-data itu banyak bangetttt... kayak masih butuh 20-50 tahun lagi buat nyaingin si korpusnya Oxford.

Sebenarnya sih kita bisa-bisa aja bergerak cepat menyusul mereka, asal kucuran dananya ada. Kalian pikir bikin korpus nggak pake duit? ya elaah, di mana-mana semua juga pakai duit kaliiii..
sekarang lembaga yang bertanggung jawab untuk bahasa siapa?
Pusat Bahasa. Oke, pusat bahasa ya? dia kan di bawah pemerintah, mereka punya dana yang disalurkan pemerintah kita. Tapi, sampai saat ini, Pusat Bahasa belum tergerak untuk membuat korpus bahasa Indonesia. Laah, terus kapan dong???? kapan penelitian bahasa akan dianggap penting?

Malah, sekarang program studi saya di UI sedang membuat korpus sendiri, lingkupnya masih dari data-data ilmiah yang di UI saja. Kalau bukan dari orang-orang UI sendiri yang bergerak, siapa lagi? kita ini nggak boleh salah-salahan. Kita harus perlu mandiri, kalau misalnya Pusat Bahasa belum bergerak dalam hal ini, ya udah, kalau kita mau nungguin mereka bergerak, saya rasa perlu waktu yang bikin kita semakin senewen. Nah, daripada senewen terus dan energi yang dikeluarkan sia-sia, mending kita memulainya dari diri kita atau kelompok-kelompok kecil kita sendiri. Nungguin dan berharap orang lain akan melakukan sesuatu untuk kita itu sulit, bung.

Dalam dunia bahasa dan sastra Indonesia, kita nggak akan bisa maju-maju penelitiannya kalau cuma berdasarkan mitos-mitos yang disampaikan para sesepuh. Perlu ada pembuktian.
begitu aja sih inti dari seminar mengenai korpus.
Semoga bermanfaat juga untuk menambah wawasan teman-teman yang baca, semoga bisa menambah masukan, dan pengetahuan mengenai dunia bahasa kita sendiri.


Friday, November 18, 2011

Bincang Tokoh bersama Nh. Dini



Siapakah beliau??





Jangan bilang kalian nggak tau siapa beliau???

Hmm, baiklah, akan saya ceritakan dari awal...


Minggu lalu, dosen saya bilang, "Tanggal 18 November, saya akan menjadi pembicara untuk acaranya Nh. Dini."
Sontak, satu kelas mulai rempong, "yuk yuk dateng yuk, kapan lagi kita bisa ketemu Nh. Dini?"
Saya, Diego, dan lain-lain sudah membuat janji untuk menghadiri acara tersebut. Ketemu Nh. Dini itu sebuah kesempatan yang langka, kapan lagi coba??

Jumat, 18 November 2011
Pagi-pagi, di kelas Semantik--yangdosennyatidakdatang--ternyata anak-anak mulai heboh membicarakan SEA Games, mereka berencana untuk menonton pertandingan final bulu tangkis, sebagian lagi ada yang punya kegiatan masing-masing.
Yah, alhasil, saya menghubungi teman lesbian saya, Martha. "Yuk, Tha, ikut, ada diskusi sama Nh. Dini, abis itu ada pemutaran film plus diskusi tentang feminisme di Kineforum. Ada dua acara seru nih di TIM"

Awalnya, saya dan Martha menunggu bersama hingga jam 1 siang, Tiba-tiba, ada aja kendala, temannya Martha belum datang-datang juga, padahal kami harus segera berangkat. Hingga jam 2 lewat, ternyata si Martha masih ada urusan dengan temannya itu. Ya sudahlah, saya langsung pergi sendiri. Sempet kesel juga sama Martha, tapi ya udah lah ya, lain kali pelajaran aja. Saya ini orangnya cukup sebel kalo udah janjian tapi batal. Pelajaran buat diri sendiri: Jangan nunggu-nungguin temen yang gak pasti, terlalu bergantung sama temen juga bikin kesempatan baik jadi ilang. Coba pikirin, kalian ada nonton konser The Script nih, udah beli tiketnya malah, terus ada teman kalian yang dandannya laamaaaaaaaaaaaaa banget, kalau saya punya teman kayak gitu sih langsung saya tinggal. Saya nggak punya masalah untuk pergi kemana-mana sendirian. Sayangnya, ada beberapa temen-temen saya (semoga mereka baca tulisan ini), mereka itu gak akan pergi kalau nggak ada temennya. Hmm, jadi orang itu harus mandiri. nggak boleh manja. ya gak? Well, maaf yaa saya melenceng dari jalan cerita.

Balik lagi ke cerita, jadi gara-gara si Martha, saya berangkat dari Depok jam 2.15. sampai Cikini jam 3 lewat. Stasiun Cikini--TIM saya jalan kaki buru-buru. Sampai di sana, saya nggak tau tempatnya di mana. Sempat ketemu alumni Prancis 2007 yang lagi latian nari Bali, namanya Muthia, dia juga gak tau juga. :(

Setelah mondar-mandir sana sini, sempat nyasar juga ke tempat diskusi yang lain, yang isinya cuma wartawan dan artis (dengan PD-nya saya masuk ke situ, gak taunya itu pertemuan yang tertutup)
ternyata lokasi diskusi adanya persis di samping bioskop TIM. Hahaha bodoh!
Ya ampun, begitu masuk, udah penuh gitu. Akhirnya, saya memilih tempat duduk yang agak pojok (karena hanya itu yang tersisa). Awalnya sempet minder juga, karena saya seorang diri datang kesana, tapi ya bodo amat lah ya, PD-PD aja :)
Guess what??
saya duduk di samping siapa??
yes. Ayu Utami. Penulis novel Saman, Larung, Bilangan Fu.

waah ini pengalaman pertama saya ketemu dengan dia. 
Dan saya mengamati mbak Ayu Utami ini, dan adalah pikiran saya kemana-mana. Membuat saya berpikir kesana dan kemari. Tapi cukuplah hanya saya dan Tuhan yang tahu :) 

Saya lirik kanan-kiri, tenyata banyak muka yang saya kenal, tapi saya lupa namanya. Intinya sih, di sana banyak orang-orang Sastra, baik itu penyair, sastrawan, penulis novel, wartawan, ataupun kritikus sastra. Ada artis juga lhoo, tapi lupa namanya..

Di awal acara ada pemutaran film tentang Nh. Dini, berhubung saya telat jadi tidak sempat nonton.
Saya datang ketika dosen saya, Ibnu Wahyudi, sedang memberikan ulasan mengenai karya-karya Nh. Dini. Setelah Mas Iben berbicara, disusul Akmal Nasery Basral, dan kemudian Nh. Dini sendiri yang bercerita dan menanggapi komentar kedua pembicara.
Dari kejauhan, saya melihat moderatornya seorang perempuan berjilbab yang sepertinya saya kenal dan pernah lihat. Wah, betul saja. Ternyata dia alumni IKSI, namanya Mbak Ken, orang dari Lentera Timur. Keren! setelah diskusi langsung saya hampiri Mbak Ken, untuk sekadar cipika-cipiki :) hhihiihi (sok kenal, saya yakin dia lupa nama saya. gapapa lah yang penting eksis :))

Setelah ketiga pembicara itu memberikan tanggapan mereka masing-masing. Mbak Ken selaku moderator mulai membuka sesi-sesi pertanyaan. Dan.... banyak lah orang-orang yang mengangkat tangan. Ada yang memberi tanggapan, komentar, kritik, saran, pujian, pertanyaan berat, pertanyaan ringan, pertanyaan berbobot, pertanyaan yang melenceng dari konteks diskusi. Pokoknya macam-macam. Diskusi sore itu kemudian menjadi alot dan diselingi humor.
Beberapa penanya dalam diskusi ini adalah orang-orang Sastra, yang 'ngerti' bener-bener dunia sastra. Saya yang mendengarkan selalu manggut-manggut. Karena mereka mengungkapkan masalah-masalah yang sebenarnya ada, dan sering dilupakan.
Saya sebenarnya tidak terlalu fanatik dengan karya-karya Nh. Dini, suka, tapi yaa.. biasa aja.
Ada satu kesamaan, antara aku dan Nh. Dini. yaah, cukup lah saya dan Tuhan yang tahu, (sebenernya sih teman-teman dekat saya pasti bisa menebak, apa kesamaan itu, hahaha)
dan kesamaan itulah yang membuat saya tertarik membaca karya-karyanya.
Mendengarkan Nh. Dini bercerita tentang kisah hidupnya membuat saya semakin bersemangat untuk melakukan sesuatu.  (lagi-lagi cuma saya dan Tuhan yang tahu, hehe)
Saya merasa beruntung sekali bisa duduk dan mendengarkan diskusi ini. Pertama, saya menjadi kenal orang-orang Sastra secara lebih dekat. Kalau selama ini saya hanya melihat nama mereka, kali ini saya melihat bentuk aslinya. Salah satunya, Martin Aleida. Setelah melihat wujud aslinya, saya semakin kagum. Ingin sekali ikutan diskusi dengan mereka secara lebih personal. Mereka memiliki pemikiran-pemikiran yang kritis. Kalau saya agak lebih berani sih, saya kepengennya langsung menghampiri mereka satu persatu dan berbincang, sayang PD saya belum sampai ke taraf itu, hehe

Setelah, sesi pertanyaan selesai, ada beberapa kata terakhir dari Nh. Dini. Awalnya, saya agak jiper juga, semua orang punya kubu masing-masing, sedangkan saya sendirian. Saya lihat Nh. Dini sedang dikerubuti orang-orang, yahh... tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, saya langsung membawa novel yang 3 hari lalu saya beli untuk minta tanda tangan beliau.
Awalnya saya pesimis nih gak bakal bisa foto bareng sama Nh. Dini, soalnya saya gak ada kenalan di sana. Tapi, ada aja bala bantuan yang mau menawarkan jasa, "mari mbak saya potoin, nanti gantian ya?" tawar seorang mbak-mbak yang kelihatannya fans fanatik Nh. Dini.
Tanpa babibubebo, saya iya-iya aja.
Selesai tanda tangan dan foto bareng, saya ke bagian cofee-break, di sana ada minuman dan snack-snack.
Pas lagi ngantri gitu, di belakang saya ada Mas Zen Hae, orang dari Komite Sastra. Awalnya, dari tadi saya liatin ini orang, kayaknya orang ini alumni saya deh di IKSI, kayaknya udah jadi friends di FB. Seakan bisa membaca gelagat saya, Mas Zen tersenyum kepada saya, dan menjabat saya, "gimana kabarnya?"
terus saya semakin yakin aja, kalau dia alumni saya. Eh, ternyata bukan alumni, tapi pokoknya orang penting lah di dunia Sastra. terus kita sempet ngomongin sebentar soal sastra. Keren siii, pengen ngobrol lebih banyak, tapi saya jiper gitu, gak PD, haha. ya udah lah yaa..

Secangkir teh udah di tangan, tapi saya bingung mau duduk di mana. Akhirnya. saya duduk sendirian di pojok, kayak cewek gak laku. Ternyata, lagi sruput-sruput teh yang anget itu, ada dua cewek jilbaban yang tersenyum pada saya. Tanpa malu-malu, saya langsung mengajak mereka ngobrol.
Taraaaaaa, dan kami nyambung, seneng banget deh bisa punya kenalan baru :) udah langsung akrab gitu.

Oke, rencana saya sih awalnya mau sekalian ikut nonton pemutaran film dan diskusi feminisme, tapi waktu saya lihat jam sudah pukul 7. malam, yaaah, minggu depan aja lah..

oh ya, waktu acara ini, saya sempat melihat Remy Silado lhoo, waah gahar sekali om satu itu :))

oke sekian laporan saya tentang diskusi Nh. Dini.
sejak saat ini, saya harus rajin datang-datang ke acara ini, supaya wawasan saya semakin luas :) Amin.

sampai jumpa!

Wednesday, October 12, 2011

Disain Kaos Falasido 2011



Kaos Falasido 2011: Ayo silakan dipesan, dipesan!!!
Hub: Irfan (IKSI 2011): 085743074430, Winasti (IKSI 2010): 085695411943, Lucy (2009): 085711772110. Senior dan alumni juga dapat memesannya langsung :)) Pemesanan ditutup tanggal 15 Oktober 2011. Terimakasih :)

Tuesday, November 9, 2010

Di persimpangan jalan mrita dan amrita

Lembar Tugas Mandiri Mata Kuliah Penulisan Populer

Alfi Yusrina

Tugas PenPop: unsur budaya lokal

Seluruh penghuni griya[i] sudah sangat sibuk pagi itu. Jarum jam di dinding menunjukkan angka delapan. Petoyan, sebuah upacara besar, akan di gelar di Griya Kedangsan. Panggung tinggi telah dipasang di muka kuri gede[ii]. Penjor-penjor berjajar. Para wong jero[iii] sibuk merangkai bunga, kue, dan janur, dan terciptalah simbol-simbol khusus untuk mengucap puji dan syukur atas anugerah-Nya kepada kehidupan. Di luar griya, pancalang-pancalang[iv] terlihat tertib berbaris.

Upacara ngaben[v] itu dipuput[vi] oleh empat pandita[vii]. Keempat pandita itu adalah Ida Pandita Mpu Nabe Reka Darmika Sandiyasa dari Griya Kertasari, Kayu Mas, Denpasar; Ida Pandita Dharmika Sandi Kertayasa dari Griya Anomsari, Pesanggaran, Banyuwangi; Ida Pandita Mpu Rastra Guna Wibawa dari Griya Amertha Kusuma, Kaliakah, Negara dan Ida Sri Bhagawan Dharmika Tanaya dari Griya Jimbar Giri Sari, Brambang, Negara. Sebelum memimpin upacara ini, keempat pandita itu telah melakukan nyiramin layon[viii].

Sekar selalu terpukau sekaligus ngeri melihat ‘bade dan lembu’[ix] yang berdiri megah di halaman utama griya. Sesuai adat, ‘bade dan lembu’ yang berisi jenazah itu akan diusung dan diarak menuju setra[x], kemudian dibakar. Nantinya, setelah ‘bade dan lembu’ menjadi abu, kumpulan abu itu akan dilarung menuju pintu nirwana, yang oleh masyarakat Hindu diasosiasikan dengan laut.

Tak jauh dari tempat pembakaran ‘bade dan lembu’, nampak Sekar berdiri sendirian sambil menelungkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang tampak lelah. Matanya perih. Sekar memejamkan mata. Ia diam-diam menghitung sudah berapa banyak upacara seperti ini yang pernah ia hadiri. Alasan lain lagi adalah Sekar menghindari titik-titik air mata yang akan jatuh di kedua pipinya.

Kepulan asap hitam membumbung tinggi. Ada kesan gaib yang menggiring kepulan asap itu menuju langit biru nan cerah. Seperti ada suatu rahasia yang membawa kepulan asap hitam itu menuju suatu tempat tersembunyi. Nirwana, mungkin.

Sekar sering bergidik bila menghirup aroma dupa, bunga, dan beraneka tumbuhan yang disusun menjadi sesaji. Juga, bau mayat yang tengah leleh oleh apipengabenan. Ada sesuatu yang tak terlihat membuat bulu kuduknya meremang. Sekalipun, mayat yang terbujur di sana adalah satu-satunya wanita yang disayangi Sekar di griya ini, Tuniang[xi] Komang.

Wanita yang pemakamannya dilakukan secara besar-besaran ini adalah salah satu tokoh sastra yang berpengaruh di Bali. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk berkarya dan mengajar sastra. Tulisan-tulisan wanita itu sudah sering mewarnai khazanah sastra Indonesia. Kecintaan wanita itu terhadap sastra memutuskan dirinya untuk tidak menikah, begitulah anggapan orang-orang selama ini. Hanya satu orang yang mengetahui rahasia besar wanita itu. Hanya Sekar.

Hati Sekar seakan teriris-iris setiap kali mengingat kenyataan bahwa guru spiritualnya sudah seda[xii]. Hyang Jagat, kuatkanlah tiang[xiii] supaya tidak menangis. Tidak boleh, perintah Sekar untuk kedua matanya. Ada suatu kepercayaan di Bali, jika ada orang yang menangis di saat upacara ngaben, niscaya roh yang dilepaskan tidak dapat kembali ke nirwana. Roh itu akan bergentayangan dan tidak tenang di bumi.

Tugeg[xiv]...” Sekar merasakan ada seseorang yang menarik-narik ujung kebayanya. Gadis kecil itu menatap Sekar dengan wajah yang polos.

“Oh, Luh[xv] Wayan, tiang becik-becik kemanten[xvi]. Luh, jangan khawatirkantiang. Sekarang, Luh, tolong sampaikan kepada Ratu Aji[xvii] bahwa tiang tidak ikut melarung. Tiang mau istirahat saja di kamar, tiang sudah lelah,” kata Sekar sambil mengusap-usap kepala Luh Wayan, salah satu anak dari wang jero. Bocah berumur lima tahun itu pun mengangguk patuh dan kemudian berlari menuju ayah Sekar.

Sekar masih termangu melihat kobaran api. Di dalam kobaran api itu ada jenazahTuniang Komang yang dibalut kain kasa kuning, tanda bahwa orang yang meninggal belum pernah menikah. Kuning juga melambangkan bahwa jenazah itu masih perawan. Sekar menyimpan suatu rahasia. Rahasia atas pertanyaan mengapa Tuniang Komang memilih untuk tidak menikah.

Dulu, saat Tuniang Komang berusia 24 tahun, ia pernah jatuh cinta kepadatukakiang[xviii] Sekar, yaitu Tukakiang Gede. Tukakiang Gede adalah dosen pembimbing Tuniang Komang saat ia kuliah S2. Kedekatan keduanya saat penggarapan tesis Tuniang Komang menyebabkan Tuniang Komang menjadi jatuh cinta. Sayangnya, waktu itu Tukakiang Gede sudah menikah dengan tuniang meme[xix]. Tuniang Komang tidak pernah mencoba menarik perhatian TukakiangGede, karena ia tahu hal itu adalah perbuatan yang salah. Saat itu, hal yang selalu membuat jantung Tuniang Komang berdegup-degup kencang adalah menerima pujian-pujian dari Tukakiang Gede atas hasil karya-karya sastra yang ia tulis, entah itu puisi, cerpen, atau novel. Pujian-pujian itu memotivasi TuniangKomang hingga akhirnya menjadi sastrawan terkenal. Sampai detik ini, TukakiangGede tidak pernah sadar bahwa selama ini adik iparnya pernah menyukainya secara mendalam.

Pertama kali mendengar rahasia terbesar dalam hidup Tuniang Komang ini, Sekar langsung berpikir bahwa Tuniang Komang adalah wanita yang sangat bodoh. Buat apa menunggu pria yang jelas-jelas tidak dapat ia miliki? Buat apa menyukai pria yang mendatangkan karma apabila Tuniang Komang gigih untuk mendapatkan cinta pria itu? Tuniang, tuniang, masih banyak pria di luar sana yang mengantri untuk menikahimu. Tidakkah kau sadar itu, Tuniang? Tidakkah kau merasa hidupmu sia-sia selama 40 tahun belakangan ini hanya karena memendam cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Tidak perlu Sekar mengucapkan pikirannya secara langsung, Tuniang Komang sudah dapat membacanya sendiri. Lalu, tak lama ia berujar kepada Sekar, “Di dalam hidup ini, kita dianjurkan untuk menempuh jalan amrita[xx], jalan yang menuju ke kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan itu pastilah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada kenyataan—yang rasanya seolah-olah kita alami. Pada saat itu pasti kita akan tertawa, tapi ingat sebentar pula tawa itu akan disusul oleh tangisan yang lebih lama. Hal ini apa yang suka disebut sukhasyanantaram dukham.

Kita perlu memiliki kesadaran spiritual untuk membedakan jalan mrita[xxi] dengan jalan amrita. Spiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktek agama yang kita terapkan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religius. Sejati kita adalah spiritual maka objek kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi[xxii]. Setiap tiang punya masalah, tiang selalu berdoa, Om..., tamaso ma jyotir gamaya[xxiii]. Sekar mengerti sekarang? Mengapa tiang memilih untuk melawan perasaan tiang.”

Sekar mengangguk dan menunduk malu atas pikirannya semula yang sangat dangkal. Cinta memerlukan rasio. Sekar meresapi setiap petuah Tuniang Komang. Ia harus dapat membedakan antara cinta dan nafsu. Saat petuah itu diberikan, Sekar tidak menyangka perkara membedakan cinta dan nafsu itu adalah hal yang sulit. Karena, ia belum mengalami secara langsung. Akan tetapi, baru-baru ini Sekar mulai menyadari posisinya. Ia menyadari sekarang dirinya berada di persimpangan jalan amrita dan mrita.

Tidak jarang Tuniang Komang memberikan petuah-petuah kepada Sekar. Terpahat dengan jelas kata demi kata ajaran Tuniang Komang di benak Sekar. Ia mengingat kembali kenangan-kenangan bersama Tuniang Komang, wanita tertegar yang pernah Sekar kenal. Memori bersama Tuniang Komang mendadak buyar saat seseorang menyentuh bahu Sekar.

Bli[xxiv]...” Sekar tersentak kaget. Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Sekar

“Dayu[xxv] Sekar, tiang jagi mapamit mangkin[xxvi],” ujar pria itu sopan.

Sebelum meninggalkan Sekar, pria itu sempat meninggalkan tatapan yang lebih dari sekedar salam pamit dalam sepersekian detik. Makna tatapan pria itu melebihi pesan yang hendak disampaikan. Sekar tak berdaya, hanya mengangguk, lalu mengawasi kepergian pria itu hingga punggung pria itu tak nampak dari pandangnya. Pria itu pergi meninggalkan sepotong pilu di hari Sekar. Saat ini, Sekar hanya membutuhkan bahu pria itu untuk bersandar. Sekar tidak cukup kuat untuk melepas kepergian Tuniang Komang sendirian.

Sebenarnya, Sekar sudah muak dengan segala aturan adat yang mengekangnya. Pria yang baru saja lewat di depan hidung Sekar adalah Chahya Dhegana. Satu-satunya pria yang dicintai Sekar. Pria itu adalah cinta pertama Sekar. Mereka sudah menjalin hubungan selama delapan bulan. Aturan adat yang dinilai Sekar tidak masuk akallah yang menjadi hambatan hubungan mereka. Mereka terpaksa menjalin hubungan secara bersembunyi-sembunyi.

Seharusnya, hubungan mereka tidak perlu serumit seperti ini. Seharusnya, Chahya Dhegana bisa mempunyai gelar Ida Bagus pada depan namanya, kalau saja orang tuanya tidak menikah sebelum janin Chahya berusia empat bulan. Ya, Chahya adalah anak astra, hasil dari hubungan di luar pernikahan. Ayah Chahya adalah seorang Ida Bagus, ibu Chahya adalah seorang Ida Ayu, namun menurut adat Chahya tidak berhak menyandang gelar Ida Bagus, sekalipun tetesan darah Chahya adalah murni dari keturunan bangsawan Brahmana. Seluruh adik Chahya mempunyai gelar. Lalu, di mana letak keadilan? Haruskah anak yang selalu menjadi korban dari perbuatan orang tuanya? Sekar ingin sekali menyuarakan pemikirannya. Sayang, adat di Bali masih terlalu kuat, satu suara tidak dapat mengubah apapun.

Status Chahya yang tanpa gelar itu membuat Sekar dan Chahya di mata adat tidak sederajat. Sekar adalah seorang Ida Ayu. Seorang Ida Ayu tidak dapat sembarangan menikah dengan pria yang bukan dari kastanya. Sekar selalu kesal jika mengingat aturan adat yang menyatakan seorang Ida Bagus dapat menikahi wanita dari kasta apapun. Di manakah letak kesetaraan gender dalam adat ini?

Sistem kasta adalah kebodohan masyarakat zaman dulu. Haruskah Sekar menggugat Sang Hyang Jagat? Sekar sudah siap untuk nyerot[xxvii] dan diusir dari griya. Ia sudah tidak tahan harus menutup-nutupi hubungannya, terutama di depan keluarga besarnya. Atau, haruskah cinta dikalahkan oleh adat istiadat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan?

Tuniang, Tuniang Komang, andai tuniang masih ada. Sekar bingung apakah keputusan nyerot sudah menjadi keputusan yang tepat? Haruskah Sekar memperjuangkan cinta ini? Apakah ini cinta atau hanya ilusi? Hyang Jagat, berikanlah Sekar petunjuk menuju jalan amrita.

Tuniang Komang boleh menunggu cinta yang bertepuk sebelah tangan hingga akhir hayat. Karena Tuniang percaya di kehidupan berikutnya, bilah Sang Hyang Widhi mengizinkan, ada kesempatan cinta tuniang tersampaikan kepadaTukakiang Gede.

Mendobrak adat adalah misi Sekar saat ini. Di sisi lain, ia juga memikirkan petuahTuniang Komang mengenai jalan amrita. Sampai detik ini, Sekar masih bingung, apakah hubungannya dengan Chahya sudah berada di jalan amrita, atau jangan-jangan hanya tipuan dari jalan mrita.

Biarlah ini menjadi kisah cinta yang belum usai, sama halnya perasaan cinta Tuniang Komang yang belum berbalas. Kelak di kehidupan selanjutnya, sistem kasta sudah dibumihanguskan.

Sekar mendesah panjang, lalu mengucapkan, “Om..., tamaso ma jyotir gamaya.”

[i] Nama rumah tinggal bangsawan khususnya kasta Brahmana

[ii] Gerbang masuk griya

[iii] Pembantu perempuan

[iv] Semacam polisi di Bali

[v] Upacara kematian adat Bali, kremasi.

[vi] dipimpin

[vii] Sebutan untuk pedanda dalam bahasa Bali

[viii] Memandikan jenazah.

[ix] Bade (menara) dan lembu (patung mirip lembu yang menjadi tempat jenazah)

[x] Kuburan dalam bahasa bali

[xi] Panggilan nenek untuk bangsawan Brahmana.

[xii] meninggal

[xiii] saya

[xiv] Tugeg, singkatan dari Ratu-Jegeg, panggilan kehormatan untuk perempuan bangsawan.

[xv] Panggilan untuk anak perempuan kebanyakan.

[xvi] Saya baik-baik saja.

[xvii] ayah

[xviii] Panggilan kakek untuk bangsawan Brahmana

[xix] Tuniang, panggilan nenek untuk bangsawan Brahmana, Meme, ibu.

[xx] kebenaran

[xxi] kematian

[xxii] Tingkat di mana kita sepenuhnya dilindungi oleh kedasaran.

[xxiii] Ya Tuhan..., jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang.

[xxiv] Panggilan untuk laki-laki yang lebih tua

[xxv] Singkatan dari Ida Ayu

[xxvi] Saya mohon pamit sekarang.

[xxvii] Perempuan bangsawan turun kasta untuk menikah