Showing posts with label my day. Show all posts
Showing posts with label my day. Show all posts

Monday, July 11, 2011

Suam-suam Kuku @Curug Cikaso: Melepas Penat Sisa-sisa Semester IV (bagian I)


Kalau kalian pernah mendengar keluhan saya tentang tugas-tugas kuliah yang menumpuk, tolong dimaafkan. Berakhirnya tugas-tugas gila nan sialan itu adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari Jakarta. Kebetulan, ada seorang teman menawarkan jalan-jalan ke Sukabumi.
Awalnya saya memang tertarik untuk ikut, setelah lirik kanan-kiri, sepertinya teman-teman kampus tidak terlalu tertarik, karena biayanya cukup mahal untuk kantong mahasiswa.

Iseng-iseng saya tawari seorang cewek Prancis dan Belanda untuk bergabung, ternyata hanya cewek Prancis yang tertarik untuk ikut. Tidak berpikir panjang lagi, kami segera mendaftarkan diri. Kemudian, menyusullah Asih, teman sekelas saya, yang bergabung ke acara jalan-jalan ini.

Acara berbiaya Rp250.000 (sudah termasuk makan+transportasi+akomodasi+penginapan) ini berlangsung selama 3 hari, dengan rute Jakarta--Sukabumi--Curug Cikaso--Penangkaran Penyu @Ujung Genteng--Pantai Penarikan @Ujung Genteng--Goa Sungging--Jakarta.

Perjalanan dimulai dari tanggal 1 Juli hingga 3 Juli.

Jumat malam, 1 Juli 2011
titik pertemuan kami di Terminal Luar Kota Lebak Bulus, pukul 20.00.
Rombongan kami ada 68 orang, saya aja sempat kaget sewaktu mengetahui jumlah rombongan sebanyak itu. Tapi ya sudahlah, toh bakal mendapat banyak kenalan baru.
Saya sudah bersiap-siap sejak pukul 5 sore, menanti si Alice, cewek Prancis yang juga berangkatnya bareng dengan saya. Dia baru keluar kantor jam 5 sore, alhasil saya harus menunggu hingga jam 7 sore.
Sebenarnya kondisi Alice saat itu kurang begitu baik, dia lagi mengalami penyakit tipikal bule-bule. aka sakit perut, setiap kali makan pasti muntah. Sebagai teman yang baik, sebelum saya ke halte Transjakarta Harmoni, saya mampir dulu ke Apotek Roxy beli obat untuk dia.
Jam 7 sore, pergilah kalian ke halte TJ Harmoni, cari jalur Lebak Bulus, kalian lihat antriannya yang seperti ada konser Lady Gaga. Untungnya sih, aku dan Alice hanya mengantri sebentar lalu busnya segera datang. Antrinya boleh sebentar, tetapi perjalanan dari Harmoni ke Lebak Bulus cukup dengan membuang waktu 2 jam saja. Ya ampun! kami pasti telat nih. Saya sempat panik waktu itu.

yah, begitu sampai di terminal, panitia masih menunggu beberapa orang yang belum datang. DASAR jam karet Indonesia. Saya sih tidak terlalu gondok, ada yang membuat saya lebih miris, ternyata bus ke Sukabuminya ngaret PARAH selama 3 jam saja lhooo. YA AMPUN!!! saya bela-belain berangkat dengan perut kosong dan naik bus yang penuh sesak selama 2 jam berdiri, dan hasilnya saya terpaksa menunggu bus itu datang selama 3 jam!! PARAH! kecewa pastinya, apalagi muka si Alice udah jutek aja.

Jam 11 malam, sebelum kereta kencana berubah jadi upik labu, akhirnya datang juga bus yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Alice duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja, eh maksudnya pak supir yang sedang menyetir. Saya lupa kalau jalanan menuju Sukabumi itu berliku-liku, beneran aja lho perut kayak sedang buat strawberry-milkshake. Saya beberapa kali jatuh tertidur, juga beberapa kali terenyak karena lampu mobil dari arah berlawanan, jalanan menuju Sukabumi yang kecil itu membuat dua arus lalu lintas seperti akan terjadi kecelakaan setiap kali berpapasan dengan mobil dari arah yang berlawanan. Perasaan was-was selalu saja membangunkan saya.

Bus kecil bermuatan 30 orang itu akhirnya berhenti dekat di rumah neneknya Kety (teman saya yang memberikan tempat tinggal). Begitu keluar dari bus, rasa ingin pipis segera merajalela, ditambah udara yang super super dingin, gigi saya bergemeletuk dibuatnya. Kami menunggu Kety untuk menjemput kami. Tak berapa lama Kety datang dan menggiring kami ke rumah neneknya.

Di dalam perjalanan, tengah malam jalan kaki di tengah udara yang super dingin, seseorang menyapa saya, "Hey Alfi!". Sebelum saya nengok mencari siapa yang menyapa, saya sudah tahu siapa orang tersebut. Dia cowok Kanada yang selama 3 bulan terakhir ini sering ngobrol lewat Skype dengan saya. Pengalaman saya dengan cowok Kanada sebelumnya tidak begitu bagus, kali ini saya juga tidak terlalu tertarik dengan cowok ini, terutama umurnya yang 1 tahun lebih muda dari pada saya. Masih kekanak-kanakan banget menurut saya :P
Saya sudah mengginggil karena dingin, belum lagi saya harus mengginggil karena grogi berbicara dengan dia, oh ya, namanya Sam. Orangnya putih banget, dan kalau ngomong Inggrisnya seperti kumur-kumur. Membuat saya beberapa kali bertanya lagi, "ha, ha?"
Bergabungnya Sam dalam rombongan kami, adalah gara-gara saya yang mengajak dia. Siangnya, dia tiba-tiba menelepon saya menanyakan acara saya malam ini, kebetulan dia sedang ada di Bogor, jadi saya menyarankan untuk ke Sukabumi dan bergabung dengan rombongan kami. Begitulah pertemuan saya dan Sam, bukan sebuah makan malam seperti cowok Kanada yang satu lagi. hahaha.

Rumah Kety ada dua, satu rumah kosong dan satu rumah neneknya. Untuk orang-orang yang masih ingin ngobrol atau main kartu sebaiknya tidur di rumah kosong, namun sisanya yang ingin segera tidur langsung ke rumah neneknya Kety. Jelas, saya, Alice, dan Asih ingin segera tidur karena lelah. Alhasil, saya dan beserta 35 orang lainnya tidur di ruang tamu. Kebayang dong, kami tidur seperti di kamp-kamp pengungsian, tapi tentu lebih seru. Yang membawa kantung tidur lebih beruntung karena tidak berjuang melawan dingin, sedangkan orang seperti saya yang tidak punya, terpaksa tidur beralaskan tikar tanpa bantal, hanya sarung sebagai selimut.

Sabtu, 2 Juli 2011
Keesokan paginya, pukul 6, kami berberes untuk ke Curug Cikaso. Sebelum berkemas, saya dan Asih berjuang menahan dingin air Sukabumi. Mandi adalah rutinitas yang saya benci di kala airnya sangat dingin, tapi hal itu harus saya lakukan agar tidak BB. hahaha.

Setelah semua rapi, kami dikumpulkan di rumah kosong, lihat gambar di atas. Kami sedang melakukan sesi perkenalan. Selesainya, kami segera menyantap nasigoreng seafood yang telah disediakan. Sayangnya, Alice dan saya tidak makan banyak, pasalnya kami sedang mual. Kalau saya makan saat itu, saya ragu akan muntah di jalan, lebih baik saya menahan lapar dibanding muntah.

Perhentian berikutnya: CURUG CIKASO
perjalanan dari rumah Kety ke Cikaso membutuhkan waktu 2,5jam. Jalanannya tidak usah ditanya, berliku-liku sepanjang perjalanan tidak ada habisnya. Kami naik mobil ELF yang disewa Kety, satu mobil berisi 15 orang.

Setibanya di Cikaso, rasa dingin tadi pagi berubah menjadi panas terik yang amit-amit.
Sebelum melakukan tracking ke curug Cikaso, kami foto keluarga dulu dong :)


yah di bawah ini adalah foto saat kami sedang tracking melewati sawah. Perjalanan dengan mobil ELF dengan medan yang mendaki-daki benar-benar siksaan. Eits, semua itu memang terbayar setelah kami melihat karya agung Tuhan yang begitu indah. Ya, selamat datang di Curug Cikaso!!!
di bawah air terjun ini memiliki sebuah kolam dengan 3 jenis kedalam, pertama 40 m, kedua 20 meter, ketiga 3 meter. Oke, ini alamat saya tidak bisa kecipuk-kecipuk di air seperti yang saya bayangkan sebelumnya.




Yang lain asik-asik berenang, saya dan Asih sibuk foto-foto, hahaa

Ada sekitar 3 jam kami bermain air di airterjun ini. Setelah makan siang di sini, kami bergegas ke Ujung Genteng, dan lagi-lagi pantat saya harus merasakan pegal-pegal yang tidak ada akhirnya, hingga benar-benar berhenti setelah 3 jam perjalanan. LELAH!!

Kelanjutan catatan perjalanan ini dapat dibaca di sini.




Tuesday, July 5, 2011

Jakarta Hitching Race 2011 : Susahnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian III-Tamat)




Wah kebetulan nih, sponsor kami kan Seven Eleven, "Bagaimana kalau kita nongkrong dulu di sevel?" usul saya kepada rekan-rekan. Padahal kami tahu, kami sedang diburu-buru deadline.

Yah nggak ada salahnya kalau kami nge-gaul dulu lah di sevel dengan memanfaatkan voucher dari sponsor :)

setengah jam kami santai-santai di Sevel, kami memutuskan untuk memulai perjalanan.
Coke yang dibawa pulang Uthe tiba-tiba meledak dari dalam wadahnya, alhasil tas Uthe terpaksa basah semua seperti daun dan ranting (inget lagu "tik tik tik bunyi hujan", hahaha). Akhirnya, waktu kami agak terbuang untuk membersihkan tasnya Uthe.
Namun, di situlah kekuatan keajaiban bekerja. Di tengah jalan raya Tebet, kami meminta belas kasihan warga Jakarta untuk memberikan kami tumpangan.

Dua puluh menit berlalu, hingga tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berhenti, dan segera kami kejar.
"Permisi pak, apakah kami boleh menumpang? Bapak mau ke mana?" tanya saya ketika jendela dibuka. Ternyata di dalamnya pengendaranya adalah seorang bapak-bapak yang sudah ngaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat tua!

"Cikini," jawab si pengendara tua itu.

Sontak, hatiku membuncah girang bukan kepalang. "Wah kebetulan sekali pak, kami mau ke Cikini. Apakah kami boleh menumpang?" pinta saya dengan antusias, dengan memasang senyum 100 watt,


dan begitulah kami, dengan manis duduk di mobil sedan yang ber-AC itu. Ini adalah mobil tertutup kedua yang berhasil kami dapatkan.
Apalagi arah kami sama dengan pengendara mobil, belum lagi, bapak Ramli (itulah namanya) juga akan melewati TIM (tempat kami berhenti). bagaimana kami tidak super duper beruntung? memang Tuhan telah mengatur segalanya untuk kami.


Ya, Jakarta Macet sore hari, kala itu sudaj pukul 15.30. Kami (lebih tepatnya hanya saya) yang berbincang-bincang dengan bapak Ramli itu. Karena cara saya duduk di depan, dan dua teman saya duduk di belakang, belum lagi cara berbicara bapak Ramli yang agak susah dipahami, karena seperti orang berkumur-kumur. Setelah berbincang-bincang dengan beliau, saya mengenal sedikit tentang beliau, misalnya ibunya beliau tinggal di Cikini umur ibunya sudah 99 thn, beliau sendiri umurnya sudah 60an tahun, adiknya bapak Ramli seorang dokter yang tinggal di Cikini Raya 3. Bapak Ramli ini seorang wartawan, ya mantan wartawan. Ingatannya termasuk sangat kuat. walaupun jalannya sudah bungkuk-bungkuk.

Kalau di Jakarta ini masih ada 100 orang seperti beliau, saya rasa Jakarta akan aman sentosa :)

Perhentian keempat: Komunitas Backpacker Dunia
Ya, kami diturunkan di depan Taman Ismail Marzuki, di sana sudah ada Komunitas Backpacker Dunia yang menanti kami. Tantangan berikutnya adalah pose aneh di depan spanduk Soekarno, inilah hasilnya :)


Setelah selesai dengan pose aneh, mereka menyodorkan amplop berisi perhentian kelima, yaitu Museum Proklamasi. Sebelum ke sana, Uthe izin salat dulu di TIM, akhirnya kami menunggu di depan parkiran.
Saat sedang menunggu, salah satu anggota Komunitas Backpacker Dunia menghampiri kami dan memberitahukan bahwa kami tidak perlu Museum Proklamasi karena lomba sudah mau ditutup, kami hanya perlu bergegas ke Sarinah.

Setelah Uthe selesai salat, kami pun berangkat ke Sarinah, awalnya kami ingin segera naik angkot, namun kami memilih untuk mencari tumpangan. Kebetulan, di depan TIM ada sebuah mobil yang menunggu majikannya, hanya ada supir di dalamnya.

Kami memberanikan diri untuk bertanya, "permisi pak, apakah kami boleh menumpang sampai sarinah?"
sontak ekspresi si supir kaget, dan dia menunjuk seseorang di belakang kami. Ternyata bossnya datang, saat kami lihat wajah bosnya, si Ino berseru "Eh elo!" yang artinya, mereka saling kenal.

Jadi, singkat cerita, tumpangan terakhir kami ini adalah mobil ketiga yang ber-AC, dan salah satu kebetulan bahwa kami bertemu seseorang yang dari kami kenal :)
si Matthew temen Parkournya Ino ini mengantarkan kami hingga samping gedung Sarinah,
berkat pertolongannya, kami menjadi tim juara keenam dari 36 kelompok. Sesampainya di Sarinah kami mendapat baju dari Hard Rock FM dan disuruh pose foto.


Setelah berfoto-foto di Sarinah lantai 8, depan stasiun radio, tim kami bertemu tim-tim lain yang juga dari Jakarta Barat, dan kami hendak pergi ke Kampung Petualang, di GOR BULUNGAN, dengan cerewet dan riang gembira namun lelah, kami bertukar pengalaman sepanjang jalan menuju GOR Bulungan, sumpah kegiatan ini benar-benar menyenangkan.

Sesampainya di Kampung Petualang, penampilan kami udah lecek kayak kertas diremes-remes, lepek, kucel, dekil, bau knalpot, lengket, ah total deh semua penderitaan. Salah dari sekian keluhan yang saya rasakan adalah rasa haus, soalnya, dari tadi siang persediaan cadangan minuman saya sudah habis, alhasil tenggorokan kering kerontang butuh minuman yang dingin-dingin atau yang segar-segar. WAH kebetulan banget, di meja registrasi panitianya sedang ceria membagikan minuman secara cuma-cuma. Kami disuguhi minuman dari sponsor, ada Coca Cola dan NU Green Tea. Mantap benar!!! Saya pilih NU Green Tea yang Less Sugar,



dan hasilnya mantap juga. Yang tadinya saya lemes karena dehidrasi dan kecapean, setelah minum NU Green Tea saya jadi semangat lagi! Semangat buat melanjutkan aktifitas berikutnya. Bergeser dari meja registrasi, kami mengunjungi beberapa stand, seperti GreePeace, Tembang Pribumi, BaliBackpacker, dll. dan kami bertemu tim dari Jakarta selain barat, kami bertukar cerita, cerita, dan cerita. Sambil ngobrol-ngobrol ngalur ngidul dengan topik yang sangat random, dan ditemani sebotol NU Green Tea, dan yang kalo habis boleh ambil lagi (hehehe, ketauan rakus) malam itu kami benar-benar sangat senang. Kami jadi lupa kalau kami itu sebenarnya lelah.


Hingga jam 9 malam, saya dan beberapa kawan-kawan terpaksa pulang karena tak tahan dengan lengket dan kantuk dan lelah.
inilah ekspresi kami di detik-detik terakhir sebelum naik bus Transjakarta :)

Jakarta Hitching Race 2011 : Susahnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian II)

sebelum menulis catper tentang Ujung Genteng dan Cikaso, saya akan menamatkan catperJakarta Hitching Race 2011 ini.

Perhentian Ketiga: Tembang Pribumi
Posisi saat itu kami masih di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Setelah membaca clue berikutnya, yaitu sebuah lokasi komunitas musik tradisional di Jl. Kavling Polri C, Jelambar, Jakarta Barat, dengan sigap ketua tim, si Ino, menuntun kami untuk berjalan kaki ke arah Stasiun Kota. Kata Ino, di sana arahnya mobil-mobil ke arah Jelambar. Kami perempuan sih nurut aja.
Di seberang St. Kota, kami memberhentikan sebuah mobil pick-up yang ternyata mau berbagi dengan kami :)

hahaha ternyata supirnya malu buat foto bareng aku, hahaha :) (sebenarnya sih doi takut difoto, karena katanya takut kena masalah sama bosnya), baiklah, kami tidak memaksa.


setelah naik mobil bapak yang aku lupa siapa namanya, kami diturunkan di depan pos polisi Jl. Jelambar, daerah Duta Mas (kalo saya tidak salah ingat).
Berhubung di depan ada pos polisi, dengan PD kami langsung ketok-ketok pintu kantor polisi tersebut, muncullah seorang polisi lengkap dengan busananya, kami bertanya di mana letak Kavling Polri Blok C, dan bapak itu malah memberikan kami petunjuk yang sangat rumit.

akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tebengan di depan pos polisi tersebut. Selang berapa menit, di tengah panas dan debu, ada sebuah mobil pickup yang menawarkan jasa tumpangan gratis. Tanpa pikir dua kali, kami segera bergegas menaiki mobil tersebut.
Saya dan Uthe duduk di depan, dan ketua tim, Ino, di belakang.




























Dan ternyataaaa supir ke empat ini baik banget, dia mau nganterin kami sampai ke depan Jl. Kavling Polri blok C, padahal arah awalnya bukan mau ke sana. Sumpah baik sekali orang ini.
Akhirnya, kami diturunkan di depan gang persis. Dari situ, kami harus mencari sebuah rumah dengan ciri-ciri memiliki komunitas musik tradisional. Hal itu tidak mudah, karena Jl. Kavling Polri Blok C itu adalah sebuah perumahan hunian, jadi tidak ada tanda-tanda spesifikasi khusus yang mencerminkan rumah itu adalah milik sebuah komunita, sampai..,

ya sampai kami mendengar ada alunan musik dari sebuah rumah! ya, dan ternyata benar.Tembang Pribumi. Ya, itulah pos perhentian ketiga kami. Tantangannya adalah memainkan alat musik gamelan bali dengan kompak. Setiap anggota harus memilih salah satu alat, dan dimainkan secara bebarengan.

Asal kalian tahu saja ya, bakal saya di bidang musik itu 0 besar, alias gak ada bakat musik sama sekali. alhasil, ya, alunan musik yang dimainkan Ino dan Uthe terpaksa rusak gara-gara saya. Maaf ya kawan.

Biarpun karya dadakan kami ini benar-benar hancur total, Komunitas Tembang Pribumi ini sangat baik hati, mereka mau memberikan tanda tangan di passport kita. Setelah itu kami bisa deh berfoto bareng dengan mereka.




























Dari Tembang Pribumi, kami mendapat petunjung berikutnya, yaitu:
Apa?? Cikini?? sumpah, di tengah kelelahan dan keputusasaan kami, petunjuk berikutnya semakin membuat kami tertantang. Cikini! ini adalah area yang berlawanan arah dengan Jelambar, atau dengan kata lain, jauh, jauh banget dari Jelambar tempat kami berdiri saat itu.
Belum lagi ditambah, kompleks perumahan yang kami lewati sangat jarang dilalui mobil-mobil, alhasil kami terpaksa jalan hingga jalan raya.

Tiba-tiba ada sebuah mobil pick-up biru melintas di depan kami, akhirnya kami kejar mobil itu hingga kami diperbolehkan menumpang hingga depan perempatan (yah, lumayan hemat tenaga :)) walaupun hanya sebentar tetap saja sebuah rezeki yang tak dapat ditolak.

Lihat deh muka supirnya saat kami bagikan voucher Sevel "biar makin gaul bang!" pesan kami :)
kami diturunkan di depan sebuah jalan antah berantah, dari sana kami segera mencari tumpangan lain. Setelah agak berjalan lama, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil carry, ini adalah mobil tertutup pertama yang berhasil kami dapatkan. Alamaaak susahnya mendapatkan mobil pribadi seperti ini.
Sayangnya, mobil ini tidak terlalu dapat membantu, karena mobil ini mengarah ke grogol, sedangkan kami hendak menuju Cikini. Kami terpaksa diturunkan di pinggir jalan yang saya tidak ingat namanya. Yang jelas, di seberang jalan raya itu adalah jalan masuk menuju tol Tebet dan Kuningan. Kami bertiga berdiskusi sebentar, mengatur strategi, kami memilih untuk mencari tebengan di depan jalan masuk tol, dengan harapan akan diangkut hingga ke Tebet. Masalah dari Tebet ke Cikini, akan dibicarakan setelah kami sampai Tebet. Begitulah pemikiran kami pada saat itu.

Mencari tumpangan di depan pintu masuk tol itu sungguh luar biasa sulitnya, semua pengendara melihat kami, tanpa memberikan tumpangan. Ada satu mobil pribadi menawari kami tumpangan, sayangnya arah mobil tersebut ke Cikampek. yah T_T sama saja bohong...

Akhirnya, dari sejumlah mobil-mobil yang sombong itu, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil box. Supirnya mukanya jutek banget, tapi dia baik mau memberikan kami tumpangan. Selama perjalanan bapaknya tidak banyak bicara. Hingga akhirnya kami diturunkan di depan Seven Eleven Tebet.

Catper tentang nongkrong di Sevel dan titik terakhir, mari klik sini.

Saturday, June 25, 2011

Jakarta Hitching Race 2011 : Sukarnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian I)




inilah perlombaan pertama yang ada di Jakarta, atau lebih tepatnya di Indonesia.

Apa itu "Jakarta Hitching Race"?
Suatu permainan balapan dengan 3/2 orang peserta dalam satu tim. Setiap tim harus berhasil mencapai ke beberapa perhentian. Uniknya terletak pada cara untuk mencapai ke perhentian itu, setiap tim diwajibkan menumpang kendaraan pribadi (mobil). Perhentian yang dituju tersebut merupakan situs-situs unik perwakilan dari komunitas-komunitas di Indonesia, perusahaan dan tempat-tempat menarik atau bersejarah.

Mau tahu peraturannya lebih lanjut? Mari klik di sini.
Acara ini merupakan rangkaian acara dari CouchSurfing Indonesia Festive, dalam rangka memperingati ulang tahun yang keenam.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman unik dan mengesankan selama mengikuti "Jakarta Hitching Race" ini.

Saya sudah mendengar gaung acara ini jauh-jauh hari sebelum acara ini dilaksanakan. Walaupun saya juga tertarik untuk ikut, namun ada beberapa hal yang membuat saya ragu untuk bergabung dengan acara ini, seperti malas, tidak ada waktu, ada acara lain, dll. Kemudian, ada satu teman Prancis saya, namanya Alice, dia sangat antusias ingin ikut berpartisipasi dalam acara ini. Saya memang sibuk akhir-akhir ini, mulai dari rapat dan acara-acara lain, sehingga akhirnya saya memutuskan di H-1 untuk bergabung dan mendaftarkan diri. voila! Saya menjadi bagian tim Kawah Putih, bersama dua peserta lain yang dipilih random.

Starting Point
Starting point merupakan titik permulaan lomba. Titik ini tersebar dalam empat bagian sesuai lokasi regional Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan. Pembagian titik ini ditentukan berdasarkan lokasi peserta. Saya berangkat pukul 8.10 menuju Museum Fatahillah, karena di sana adalah starting point untuk regu Jakarta Barat. Sesampainya di sana, saya kira sudah banyak orang yang berkumpul, ternyata zooooonkkkkka.k.a nggak ada siapa-siapa.

Setelah agak celingak-celinguk, akhirnya satu per satu peserta lomba mulai berdatangan. Mood langsung kembali naik :) Saya dapat kenalan baru, haha-hihi. Tidak berapa lama, teman sekelompok saya datang. Kelompok kami terdiri dari dua perempuan, satu laki-laki. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, namun dalam sekejap kami langsung akrab, itulah hebatnya anak-anak CS, begitu bertemu langsung bisa akrab.


Acara ini agak sedikit ngaret, harusnya dimulai pukul 09.00, namun pelaksanaannya dimulai pukul 10.00. Di depan Museum Fatahilah ini, ada komunitas Historia Indonesia yang membagikan sejarah singkat mengenai sejarah Museum Fatahilah. Banyak fakta-fakta sejarah menarik yang tidak saya dapatkan di buku pelajaran SMA. Saya menjadi semakin bangga dengan sejarah masa lampau. Mendengarkan penjelasan dari Komunitas Historia Indonesia membuat saya menyadari sebenarnya saya ini termasuk dari sejumlah orang yang belum banyak mengenal budaya dan sejarahnya sendiri. Saya sering mengajak bule-bule ke Museum Fatahillah, namun saya hanya menjelaskan sangat ringkas, bahwa museum ini dulunya sebagai kantor pemerintahan. Hanya itu! astaga! betapa saya berhutang cerita pada teman-teman bule yang pernah saya ajak ke museum ini. Saya harus bercerita lebih banyak mengenai museum ini ketika saya mengajak turis-turis lain. Jadi, PR tambahan buat saya: Harus membaca banyak buku-buku sejarah.

Sebelum kami menuju perhentian kedua, kami dibekali passport hitching, gunanya sebagai
barang bukti bahwa kelompok kita telah melalui perhentian-perhentian yang ditentukan. Dipassport hitching race ada kolom visa, yang harus diisi dengan biodata supir yang memberikan kita tumpangan. Kami juga dibekali peta Jakarta yang tulisannya alamaaaaakkk bikin mata jereng. Selain peta, kami diberi souvenir dari sponsor lomba, seperti voucher, kalender, handuk, pin, dll. Lihat deh sponsornya, banyak banget kan? sumpah ini hebat banget. Kalau nggak ada sponsor, nggak mungkin deh peserta dan drivernya dapet banyak merchandise



Perhentian Kedua: Jl. Pangeran Jayakarta, Makam Souw Beng Kong, Kapitan Tionghoa VOC
Dari Kota Tua kami lari menuju Jl. Pinangsia, mencari tumpangan. Tumpangan pertama kami cegat di
depan Plaza Pinangsia, sebuah mobil pick-up yang akan menuju Lintedeves. Kami turun di Lintedeves. Eh... ternyata kami salah strategi! kami pikir Hotel Jayakarta berada di Jl. Pangeran Jayakarta, ternyata kami salah :( ah.. jadi kami harus berjalan panjang menyisiri jalan apalah itu namanya, hingga kami bertemu mobil pick-up lainnya yang mau menampung kami. Tunggu. tunggu, apa? sepertinya saya menjelaskannya dengan mudah. Enak saja, untuk mendapatkan mobil pick-up saja kami sudah menempuh jalan kaki di siang terik yang cukup panas dan jalanan berdebu, belum lagi tatapan sinis pengendara mobil-mobil ber-AC yang tidak menganggap niat baik kami.

Tumpangan kedua kami menurunkan kami di sebuah persimpangan jalan, karena berbeda arah, Untuk menuju Jl. Jayakarta Gang Taruna kami harus berjalan kaki mencari gang yang hanya dapat dilalui motor. Tidak semudah itu mencari gang Taruna, karena kecilnya gang tersebut kami sempat kelewatan beberapa meter. Dan, sampailah kami di perhentian kedua. Makam Souw Beng Kong, mantan Kapitan Tionghoa VOC. Di perhentian ini kami hanya cukup memotret ikan mati yang ada di depan makam.

Setelah passport ditandatangani oleh Aki si penjaga perhentian kedua, kami langsung membaca amplop yang disodorkan. Yah, the next destination is Jl. Jelambar, Kavling Polri Blok C, Komunitas Tembang Pribumi.

Thursday, November 25, 2010

Alfi, Pencuri, dan Dua Telepon Genggam yang Hilang.

Pagi ini, Alfi tidak sempat mampir ke Goa Maria untuk berdoa, karena bus 157 sudah ada di depan mata.
Alfi hendak turun di Stasiun Juanda. Saat ia hendak turun, ada seorang pria yang mendesaknya dari belakang, nampaknya pria itu juga ingin turun. Alfi pun memberikan jalan agar pria itu turun lebih dulu (kurang baik apa coba?), ternyata bukannya turun, pria itu malah berhenti di tangga dekat pintu bus. Alfi sempat mendumal dalam hati, seraya turun dari bus tanpa perasaan yang janggal.

Ketika sesampainya di dalam stasiun, seorang wanita berjilbab menegur Alfi, "Mbak, ritsleting tasnya sengaja dibuka ya?"

Ting!! alarm di kepala Alfi langsung mengacu pada kata "HANDPHONE"
Tergesa-gesa, Alfi membuka tas. Kedua telephone genggam miliknya telah lenyap.
Sebuah Nokia C6 yang baru dibeli empat bulan yang lalu, dan sebuah HP esia model lawas yang telah berumur 4 tahun.

Alfi pun menuruni tangga stasiun, dengan harapan, mungkin saja handphone itu terjatuh, dan ada tukang-tukang ojek yang mengambilnya. Ternyata tidak! Pikiran Alfi kembali pada beberapa saat ketika ia hendak turun dari bus. Ia sadar pria yang mendesaknya itu adalah seorang maling.

Detik itu juga perasaan Alfi kosong. Tidak sedih, tidak kecewa, tidak senang, Semuanya terasa begitu datar di dada Alfi. Ia tidak dapat menangis, Padahal, biasanya dia selalu menangis kalau ada barangnya yang hilang. Kali ini berbeda. Kali ini ia sadar, dua ponsel itu adalah harta duniawi yang tidak pantas ditangisi. Apabila hilang, mungkin sudah saatnya.

Saat menunggu kereta, Alfi berkenalan dengan seorang perempuan yang ternyata anak UI juga. Namanya Egra. Alfi meminjam ponsel Egra untuk SMS. Alfi segera mengirim SMS ke mamanya. Awalnya, Alfi menebak ibunya akan marah besar. Ternyata tidak, ibunya hanya memberikan petuah, "Makanya, hati-hati ya!"

Sesampainya di kampus, Alfi tersadar, mata kuliah pertama itu tidak ada dosen. Alfi bertemu teman-teman, dan perasaaan datar itu masih tetap bercokol di tempat yang sama. Entah kenapa Alfi dapat melalui hari-harinya seperti biasa. Tertawa, bercanda, dan bahagia.

Seperti tidak ada kejadian yang besar.

Sesampainya di depan rumah, ternyata tidak ada orang. Pintu dikunci, kunci dibawa pergi oleh orang rumah. Alfi memutuskan untuk ke Roxy, mengganti Sim Card yang hilang.
Ternyata, kantor Indosat sudah tutup. Alfi telat lima menit.
Perasaan kesal karena terlambat lima menit itu pun tidak datang. Alfi merasakan hal biasa saja. Ini sungguh aneh. Umpatan pun tidak keluar dari hatinya. Padahal, biasanya Alfi sudah memaki-maki kalau bertemu situasi seperti ini.

Intinya hari ini adalah, Alfi masih perlu banyak merenungkan kembali kehidupan ini. Mungkin kejadian ini adalah teguran dari Tuhan agar Alfi harus selalu berada di Jalan Kebenaran.

Sebenarnya, bukan masalah nomina harga handphone itu yang Alfi sesalkan, ada yang lebih berarti dari pada itu. Yaitu, 149 sms dari Si L hilang. Padahal itu salah satu bukti kenangan yang berharga yang bisa membuat Alfi tersenyum mengingat L. :(

Baiklah Alfi, sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu dengan si L, dan ponsel-ponsel itu.

Sekarang, ayo bangkit, berusaha lebih giat, bekerja keras!

Sunday, November 21, 2010

Tutoring without salary? Why not? The Poverty isnt big problem for kids to get a better education.


Hello pals,

Last Friday, I got a call from my church. They offered me to teach kids every Saturday morning. It is one of social projects of the church. They give a class for kids who are from disadvantaged families background. Its class is for free. Every kid can join this class. everyone.

Without thinking anymore,I grabbed the chance. I said, "Okay."
I don't know why I answered yes. Maybe, because I think, God sends me to the kids. I want to do something good in my life. If I have better education, so why they don't?
besides, I want to share my knowledge with them. They deserve a good education.
I hate if the poverty is the biggest problem to reach a better education.






So, last Saturday, I join to the class. There was 12 students. 11 boys and 1 girl. Mostly, they from 2nd--5th grade.
Oh ya, I was not alone, there were 2 tutors as volunteers, like me. :)

We taught them English, Math, and other subjects.
Tutoring is always fun. I learn a lot from the kids.
I also found a pathetic fact from one of my kids. It was from Dewi. When I taught English to her, she gave me a flat face.
I asked her, "Got it?"
she nodded. but I know SHE LIED, she didn't understand what I was saying.
So, I asked her, "What is your problem in English?"
she didn't answer me.
anyway, all the conversation I did with Bahasa, not in English.
I gave her some words in English, such: walk, get up, breakfast, dinner, etc. I asked her again whether she understand the words or not.
and she shook her head.
And then, I asked "If you find difficult words in your textbook, what do you do with it? how do you search the word's meaning?"

Her answer was, "skip it"

ugh.. I lil bit shock. Then, I asked her again, "Do you have dictionary?"
she said, "Nope"

"Bang!!!" something shoot my head.
I need time to face it. It is reality,I have 12 dictionaries in any languages, but the girl who sat beside me has none.

In the end of class, I gave her a tips to remember difficult words in English, "Dewi, if you find difficult words, you need to underline it, then you check the meaning from the dictionary in library, or ask your friends. If you already find the meaning, write down the meaning besides the difficult word, So when you study again at home it easily for you to remember. Understand?"

her flat face was gone, and she smiled. I smile. I'm happy. :)

Life is not always about money. Sometimes you need to make your life to be more valuable. In my way, I do it by spending my time for social projects.

be smart, be good, and be better. :)

Thursday, September 16, 2010

the reasons why I can't go out more often at night time.

Dear friends,

I'm sorry if I often do not attend your party or events.
I'm sorry if I often reject any important meetings.
Or, I'm sorry if I often suddenly cancel our appointment in the last second.

I'm so sorry. I don't meant them.
I have some explanations behind those all.
first, I live in that house. not my house-- my mom's boss. My mom and I are living with the boss and her family. Yes, I'm a servant since I understood what kind of my mom's job is.
I can't go out from that house in the night time. Actually, I can go out sometimes, but I have the limit late hours which is 9.pm no more.
Maybe this reason doesn't make sense for you. But, it works for me.
We're living with that family almost 17 years, and as my exchange I need to serve my life to the Boss. Sounds like slavery? yes, it is!
So, if you want to ask me out, the first thing you have to think about are the time and the date, I'm available at noon, because i have reason to go to campus (so I can see you after class) :)
if weekend, probably I can't, My mom's boss is busy with church-thing, so she needs my helps.

the good news is if my mom's boss isn't at that house (going to abroad) Naaahh.. I can see you anytime, I can go out late :)
but, it rarely happen. :(

Oya, one more reason why I often suddenly cancel my appointment in the last second:
The boss often suddenly asks me to do something which I can't reject (yeah, just because I don't want to hear any complaints from her).

For example, I was ready to go out for important meeting with my campus friends (we're doing project at campus) , but while I was stepping my foots out of the door, she yelled my name, "Alfiiiiiiiiiiiiiii, please blablabalablabla.... would you?"

and, yeah, I remember I'm just a servant, so I was back inside that house. "Yes, Madam. Is there anything I can help?" ask me with politely.
enough for this confession, I don't hate my life, I'm trying to live in it. I also try to step out from this situation, I'll reach my dreams. soon. yes, soon.
I'm not complaining. I'm grateful. I know behind this all, there is good things for me. I believe God never sleeps. And mother Marry always listens to my pray. Amen.

regards,
Alfi

Wednesday, September 1, 2010

Si pu� parlare italiano? Sto imparando l'italiano adesso.

ciao!
Mi chiamo Alfi. No, ho il cognome.
buongiorno!

come sta? bene. e tu?

lalalaa.....
Today I'm so so soooooo happy.
why? because today is my first time at Italian class.
and why I have to learn Italian? well, I chose this language because I couldnt get Spanish class, so I moved on Italian.
how?

I didn't have much interested with Italy before, but since I attended the class, I was soooo excited to learn more and more about Italian. And my Italian teacher was so awesome. Shes like Sandra Bullock, man... you have to believe me..
kyaaaaaaaaaaaaaa
argh.. I cant wait to the next lesson... you know how much I like European country..
arrivederci

Tuesday, June 22, 2010

Argh, Google translate you made me haven't face in front of someone.

before last night, i thought Google Translate is one of my best friends, because it helps me to translate many things which i don't understand.

but, suddenly there is one thing came up into my life. Tring!
There was someone who told me that he used Google Translate for translating my blogs which written by Bahasa.

How I couldn't screw Google Translate for this matter?
maybe for the reader who regularly read my blogs knows what happen in my life these days.

but when someone, who was told by me in blogs also read my thoughts, its made disaster for me.
I shame on him. really really shy. OMG!! i have no face anymore.

I hate lie, I couldn't hide my feeling inside my heart, i need to speak out loud in my blog. Because I couldn't say it by speaking in reality. blog is the best media for me to express my condition. yeah, because I'm not a good speaker. I have many thoughts but couldn't speak them out loud.

why i have to write all my thoughts in a blog?
its not for gossiping someone who I crush on, or someone who I hate to.
for me the function of my blog just for documentaries of my life. I think maybe if I was died my grandchildren or maybe someone has interest with my life, I'm glad if in the future there is someone still read my blogs.
and just because i have always forget about everything, because i'm forgetful person, i need to write all my day inside the blog, then i can recall my past with read my blog.

PS: for someone, i think you know you do.
I'm glad you translated my blogs, and i'm glad that google translate couldn't help you to translate the slangs words.haaahaha
if it did, i will really shame on you. def.
You no need to get confused. actually, inside my heart i still confused about my feeling, so sometimes i can have feeling for you, but sometimes i feel nothing, hmm idk why it can be, but i keep trying to figure it out soon.


first day of running away from home

hmm, after I had disaster trouble with my mom, I decided to run away from Jakarta.
Lucky me, I got free transportation. how come? yeah, there was a man who offered me to accompany him to Jogjakarta. Sounds like being a lady escort, right? hehehe..
we ride from Jakarta at 6.00 am. and arrived at Jogja at 6.00 pm.

ooh,,this journey made me PITA (pain in the ass), seriously!
and what we had done inside the car entire of our journey?
at first we was stiff, no talking, just listening lullaby instruments..ooh made me soo sooo sleepy.
And after half of our journey. we started to talk about many things.
He told me that he doesnt agree with Moslem's rule which said "Heaven is in Mother's foot".
I agree with him, that we don't have to obey all the parent's words, we just need to give them regarding. just it.

heaven is in God's hand. no one in this word give us heaven.

and we talked about religion, i knew its kinda bored. but i dont mind. :)

he treated me for lunch, we ate a lot of meals and only costs as much Rp37.000 for two person (ayam goreng 2, tahu 2, tempe 1, nasi satu bakul, air putih, es teh 4 gelas, ati ampla, sayur labu, bakwan goreng) gila ga tuh??
and after we arrived at Jogja, he treated me again for dinner, we ate meatballs. and then went to his home.
I met his daughter and wife. I slept in his home only for one night. and I like living in here because there is connection which i can write this blog..

so see you yaa.. im sorry if im not coming online, its mean there is no connection in my place.

Monday, June 21, 2010

Kencan kedua sekaligus pertemuan kelima

Nah, masih penasaran dengan perkembanganku dengan si L?
baiklah, akan kuungkapkan sejujur-jujurnya.

Setelah ulang tahun housemate si L, L langsung mengajak untuk kencan berdua lagi. sayangnya, malam minggu kemarin aku menolak ajakannya dengan mengajak dia untuk menghadiri Language Swap Meeting di Sky Dining.
Akhirnya, setelah pertemuan malam minggu itu, ternyata dia belum puas. Masih mencobaku untuk kencan berdua, tau kan? aku dan dia.
Sepulang dari malam minggu, kami langsung chattingan, dia tertarik untuk menghadiri Batavia Art Festival dan Jakarta Fair.
dan aku menyanggupi untuk menemaninya.

Hari Minggu itu tiba, 20.06.10. Pagi sepulang gereja, aku sms L. tidak dibalas. Aku kirim IM. Lama baru dibalas.
ternyata dia lagi sakit perut, karena mungkin dia semalamnya makan nasi padang yang sudah basi.
Akhirnya, kami baru jalan pukul 3 sore.
Dia sudah menungguku di Kota Tua. Apa yang terjadi di sana? LAUTAN KEPALA MANUSIA.
oke, banyak alay menatapku dengan pandangan aneh, terutama kaum ceweknya. Ada juga yang menatap si L, kayak nggak pernah liat bule aja, padahal di sana tuh bule berjibun (emang sih, yang muda, cowok, kayak L, jarang hahahha).

Kami mau memasuki Museum Sejarah Indonesia, tetapi museum sudah tutup.
Selanjutnya Museum Wayang, dan di sinilah yang perjalanan kami yang paling sial, belum apa-apa kami sudah dihadang seorang bapak bau apek tua yang mengaku sebagai Local Guide.
PADAHAL, kami tuh gak minta diberikan guiding, tapi dia tetep nyerocos, megang2 si L. aku sih udah tau apa yang bakal terjadi pada akhirnya nanti, aku mencoba untuk memberi tahu si L, tapi si bapak bau apek ini terus saja nyerocos dalam bahasa inggris yang sunda banget.
Tuh bapak bau apek ngakunya orang jawa, padahal setiap ngomong F atau V dilafalkan secara P.
Si L aja sampai bilang, "dia bohong, gak mungkin org jawa ada yg ngomong F jadi P, dia pasti orang sunda" tuhkan si L pinter.
Kalian harus tahu yaaa??? apa yang terjadi setelah 30 menit diguiding sama si bapak bau apek itu, DIA MINTA DUIT 50.000. IH GILA banget!! aku sampai teriak!! gila tuh gak ada etikanya sama sekali.
bangke!! terus si L langsung ngasih 100.000. PARAH!!! kan aku sebagai orang Indonesia jadi nggak enak, kesannya kita tuh morotin duit para bule.

dan selama guiding, tuh bapak bilang "kalian tuh good couple, mbaknya cantik, masnya ganteng" blablabla...intinya semua orang di museum pada mengira kami pacaran. bego banget sih orang-orang!!
tambahan pula, jalan sama si L selain mengundang lirikan mata sirik dari orang-orang, ditambah lagi banyak orang yang minta foto bareng L, udah macam jalan sama artis aja, payah nih.. kalah saingan aku.hahaa
yang minta foto bareng tuh mulai dari anak SD, alay-alay, sama ibu-ibu. parah deh...terus si L minta aku untuk ikutan foto bareng mereka, pas lagi foto dia megang pinggangku lho..hahhaha

selanjutnya, kami keliling-keliling taman fatahilah, eh pas banget kami ketemu stand anak jurusan Arsi UI, si L seneng banget sama stand itu terus tanya2 gitu deh ttg jurusan arsi UI.
di stand Pramuka, ada bendera Canada, dia minta aku foto sama bendera kanada, dia bilang aku persis banget sama orang Kanada. (maksud L??)

dari fatahilah, kami menuju asemka dan petak sembilan, this is china town. dan blabla.. kami menelusuri gang-gang kumuh nan kecil di China Town itu, dia bilang persis banget sama di Hongkong.
dari pancoran, kami lanjut ke glodok, aku kasih liat gudangnya DVD bajakan, aku kenalin dia sama cici DVD aku..hahhaa

Kami meninggalkan area bapuk di Kota, menuju PRJ!! yeay!!
lumayan lama sih nunggu bisnya jalan, terus kami ngobrol-ngobrol, duduknya deket banget lagi, sial!!
sampai di PRJ langsung cari makan, soalnya dia udah lapar banget, terus udah deh keliling-keliling.
PRJ sumpah yaaa rame banget!!
terus ketemu irna, dkk.
Selama keliling-keliling PRJ tuh dia usil banget deh, masa gw dikelitikin!! terus, nggak cuma itu sih, pokoknya dll.
Memang sih, buat yang hal-hal yg touchy-touchy kami masih kaku, atau gw nya kali yang kaku, dia juga kayaknya sadar, biar kita nggak terlalu deket-deket. (padahal gw ngarep tuh..hahahah)
kan di PRJ tuh kayak ada mistletoe gitu, lo pada tau nggak sejarahnya?? cari tau deh.
dia bilang "may i kiss you?"
gw bilang "haha no way"
dia bilang "im rejected, huhuhu you broken my heart"
gw bilang "haha I know the story behind, and if I broke your heart let me to sewing it then ironing it.hahaha"
dia bilang "huuu"
Ah padahal mah gw pengen banget tuh.hahaha

BAGIAN ENDINGNYA NIH YAA YG GAK ASIK>>>sumpah ga asik banget.
nyokap gw nelpon, 2 kali, bilang kalo jam 9.30 malam ga sampai rumah, gw bakal tidur di luar. Langsung aja, gw minta Laszlo buat cabut pulang.
lo mesti tau semua: gw di bis tuh udah mumet mikirin nyokap gw yang kayak gunung brapi lagi meledak, saking stressnya gw ketiduran di bis.
pas udah sampai tempat pemberhentian, di monas, si Laszlo bilang "good morning", damn!! its so sweet!! lo liat dong??itu kan harapan gw kalo ada cowok ganteng yang merhatiin gw selagi tidur di transportasi publik, kayak film Bangkok Traffic Love gitu..
udahlah, langsung kita berpisah. seperti biasa dia bilang "Come on, give me a big hug" dan.bug! lebih deket lebih asik,lebih lama (walopun cuma beberapa detik).
gw langsung cari taksi, dia langsung ngeloyor pergi gitu aja katanya mau ambil foto-foto di monas waktu malam hari.
ternyata, taksi-taksi yg ngetem itu nggak ada yg blue bird, dan jelek-jelek, gw jadi serem, udah gitu minta harga tembak, ya ogah banget gw..
terus pas gw balik badan, berencana untuk naik Transjakarta aja, eh si Laszlo tuh masih berdiri di tempat yang sama, nungguin gw sampai dapat taksi. Menurut lo???
udahlah, gw bilang "Aku nggak yakin sama taksi disini,"
gw nyetop taksi yang lagi lewat aja, ternyata gw salah nyetop taksi, taksi yg gw stop bahkan lebih buruk dari taksi-taksi yang ngetem.
Eh, tiba-tiba si Laszlo ikut gw masuk ke dalam taksi, dia bilang "Aku mau mastiin kamu sampai rumah atau nggak"
dan sialnya si tukang taksi minta, 20rb, padahal monas sama harmoni tuh deket banget!! sial!! dan gw yg bayar lagi..

udah gitu, sampai rumah, beneran aja lho, NYOKAP GW NGGAK MAU BUKAIN GW PINTU, tega banget!! sial.
begitu nurunin gw dari taksi, si Laszlo pulang naik taksi itu.
eh gw udah teriak teriak manggil nyokap gw, tetep aja nggak dibukain. telepon gak diangkat.
Lo mesti tau, pas gw nengok di samping itu, si L lagi berdiri dengan jarak 50 m dari rumah gw. dia menunggu ku. SHIT. itu tuh bener-bener parah!!

gw samperin lah tuh si L yang lagi berdiri, gw bilang "udah lah lo pergi aja, besok kan kita sama-sama kerja. gw tuh makin gak enak kalo nungguin gw di sini"
dan dia cuma bisa diam, menatap mata gw,
gw balik meninggalkan dia menuju depan rumah dan masih berusaha memanggil manggil nyokap gw.
gw SMS si L, yg sudah duduk ngedeprok di depan rumah tetangga gw, "just go! please im okay"
dia bales "aku udah coba, tapi nggak bisa.., sorry"
GILAA,,,gentleman abis sumpah deh nih orang!!
akhirnya kita SMSan, padahal jarak kita nggak terlalu jauh, (ITU SO SWEET BANGET menurut versi gw sih) haha
dan sialnya batere gw pakai acara mati segala. udah deh, dia masih tetap menunggu gw.
Akhirnya, gw nggak tega juga biarin dia nunggu gw di ujung sana, gw samperin lagi buat yang ketiga kalinya.
pas lagi ngobrol-ngobrol, gw maksa banget dia buat pulang ke apartemennya, dia bilang "udah lo tidur di rumah gw aja"
gw bilang "wah itu sih alamat gw digorok besok pagi".
pas lagi ngobrol berdua gitu, ada satpam rumah gw lewat.
gw bilang sama si L "dia satpam"
dia bilang "dia bisa nggak bantu kamu buat masuk?"
gw bilang "nggak bisa"
dia bilang "jadi gunanya apaa dong?"
gw bilang "ya menjaga rumah-rumah agar tidak ada maling"

eh baru aja gw bilang gitu, di ujung sana, si satpam udah teriak-teriak sama nyokap gw.
"BU BU RT, bukain dong pintunyaa, kasian tuh anaknya"
langsung deh gw lari ngibrit, buat nyetop bacot si satpam tua itu. eh pintu rumah gw udah terbuka saat gw mau nutup mulut si satpam.

udah deh, gw nggak bisa balik ke tempat si L bersembunyi, gw langsung masuk drpada gw dikunciin lagi dari luar. kan horor.

hmm, sebenarnya aku masih bingung sama perasaan si L sama aku.
Aku sih merasa dia ada perasaan, tapi kadarnya sudah jauh berkurang dari kencan pertama, aku merasakan itu dari awal perjalanan kami kemarin.
Kontak mata juga semakin jarang, ada sih beberapa kali, tapi ya gitu deh..
oya soal foto-foto, kamera gw emang gak kooperatif deh, masa batery lemah pas di bis menuju PRJ, aku menunjukan beberapa foto-fotoku waktu masih kecil lho..haha

dan sebetar lagi gw akan meninggalkan jakarta, untuk waktu yang belum ditentukan
gw sedih banget nggak bisa ketemu si L sering-sering. aduh padahal gw pengen banget deh tiap hari jalan tiap hari ngobrol..
ih gw tuh udah kayak apa aja ya, padahal perasaan gw biasa aja sama dia, emang sih gw pengen jadi temen dekatnya, tapi nggak lebih.