Showing posts with label wonosobo. Show all posts
Showing posts with label wonosobo. Show all posts

Tuesday, July 24, 2012

Semarak Tradisi Potong Rambut Gimbal & Pendakian Telaga Warna (Dieng Trip part 3-end + complete itinerary)

bagian 1 dan 2 sebelumnya dapat dibaca di sini dan di sini
nasi megono + tempe kemul

saat membuka mata, sudah tersedia sego megono dan tempe kemul, sarapan saya ini semacam nasi yang dicampur dengan urapan dan sayuran. Puji syukur sekali kami mendapatkan host yang sangat baik, sehingga kami tidak perlu repot-repot mencari sarapan. 

Urusan Mandi di Wonosobo 
Kata orang-orang, air di Wonosobo itu dingin banget. Kemarin sore saya mandi memang dingin sih airnya. Awalnya sih seperti mau bunuh diri, tapi setelah gayung ketiga dan keempat, airnya sudah mulai bersahabat. 
Katanya lagi, kalau mandi pagi-pagi airnya jauh lebih dingin daripada sore hari. Benarkah? setelah saya coba, memang benar. Tubuh saya lebih menggigil. Brrrr!! Saya kira saya hanya butuh 6 gayung, 2 gayung perkenalan, setelah itu sabunan, 2 gayung untuk membasuh busa sabun, dan 2 gayung untuk cuci muka. Selama di Wonosobo, nggak perlu waktu 10 menit untuk bertahan di kamar mandi. Yang pentingkan kena air dan sabun :). 

Kembali Lagi ke Pegunungan Dieng
Supir angkot kami masih sama dengan yang kemarin. Ia datang setengah jam lebih awal. Berhubung ada beberapa anggota trip yang baru bangun, alhasil kami berangkat telat beberapa menit.  
Di tengah perjalanan kami berhenti untuk melihat panorama desa Tieng. Desa sebelum Dieng. Dari gardu ini kita bisa sejenak menghirup udara pegunungan yang masih asri. Pemandangan di area ini melulu berwarna hijau. Sangat refreshing!


Prosesi Upacara Pemotongan Rambut Gimbal

Kami tiba di kompleks candi Arjuna sekitar jam 10 pagi. Di sepanjang jalan menuju tempat prosesi, orang-orang sudah ramai menunggu arak-arakan yang akan lewat. Kami jadi ikut-ikutan orang-orang itu menunggu datangnya rombongan anak-anak gimbal itu. Rasa penasaran membuat saya betah lama-lama berdiri menantang matahari Dieng yang terik dan kering itu. Hawanya dingin, tapi mataharinya bikin kulit wajah ngelotok. 
Kami menunggu tak berapa lama, kemudian dari kejauhan kami mendengar alunan musik tradisional. Tanda kalau bocah-bocah itu sudah mendekat. Benar saja, barisan tetua adat lengkap dengan kostum dan aksesoris tradisionalnya memimpin arak-arakan ini. Tidak lama berselang, bocah-bocah cilik itu nampak di dalam delman istimewa. Mereka duduk didampingi ibu-ibu mereka, yang duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja. halah.. haha
Jadi menurut kepercayaan suku Dieng, anak-anak yang berambut gimbal itu harus dipotong rambutnya melalui prosesi adat, semacam penolak bala gitu, untuk menghilangkan kesialan. Acara ini rutin diadakan setahun sekali. 
Total ada 8 anak perempuan berambut gimbal, dengan kepala diberi ikatan kain putih, dan baju mereka juga warna putih. Di belakang 2 delman istimewa itu, ada delapan orang yang membawa dua gunungan ketupat dan buah-buahan. Setelah prosesi selesai, gunungan ini akan dibagikan secara massal. satu gerobak yang khusus membawa permintaan para bocah istimewa itu. Ada yang minta lembu, sepeda, giwang emas, dll. Masih di deretan belakang, kemudian munculah segerombolan orang berkostum merah seperti rombongan marching band menampilkan display dengan membawa alat-alat musik tradisional. Saya nggak tau nama alat musiknya, tapi kira-kira mirip angklung. 
Setelah rombongan berbaju merah itu lewat, ada lagi suara berisik yang mengingatkan kita pada kesenian tari barongsai.  Benarlah! ada beberapa naga yang meliuk-liuk menyusul rombongan berbaju merah itu. Rombongan barongsai itu sebagi buntut dari arak-arakan bocah-bocah gimbal tadi. 

Setelah barongsai pergi menyusul bocah-bocah gimbal tadi, saya dan kawan-kawan segera menyusul mereka memasuki pelataran candi Arjuna. Saat itu kami yang semula berdelapan sudah terpecah-pecah tak tau di mana rimbanya. Saya bersama Bela dan Ifa berlari untuk melihat proses pencucian rambut gimbal itu di pendopo. Sayangnya, waktu kami ke sana acaranya sudah selesai. Mobilisasinya sangat payah, karena banyak sekali orang yang datang, susah untuk jalan, berasa sedang nonton konser saja :)

Kemudian, setelah acara keramas, bocah-bocah gimbal itu digiring ke depan candi Arjuna. Dan prosesi dimulai. Karena terlalu banyaknya orang. sebagai orang pendek, saya sampai jinjit-jinjit untuk melihat prosesi itu dari kejauhan. Di tengah kerumunan itu, akhirnya 8 orang yang tadinya terpisah terkumpul kembali. Jodoh ya? Dan saya mendapat beberapa kenalan baru, bagi saya ini semua serba kebetulan. Selama datang di Dieng ini, saya merasakan berbagai kebetulan yang saya alami. Aneh, tapi menyenangkan :)
Saya beruntung sekali bisa ke Dieng untuk menghadiri tradisi yang hanya dilakukan satu tahun sekali ini. Terlepas dari pihak penyelenggara festival ini yang kurang professional bagi saya, saya cukup kagum dengan semangat orang-orang yang berbondong-bondong datang untuk melihat tradisi pemotongan rambut gimbal ini. Salut saja saya. 

Matahari semakin terik, sekitar jam 12-an, setelah sesi foto-foto kami segera meninggalkan pelataran candi Arjuna dan segera menuju situs Telaga Warna. 
Ada apa sih di sana?

Pendakian Telaga Warna
Mendengar namanya, saya sudah membayangkan dalamnya seperti  telaga Kalimutu.  Memasuki situs ini, walaupun jaraknya sangat dekat dengan candi Arjuna, saya segera merasakan perbedaan suhu udara. Yang tadi panas, sekarang tiba-tiba sangat sejuk. Lagi-lagi, 8 orang ini terpencar. Kali ini saya bersama Wili, Max, dan Yuvi. Kami berempat awalnya hanya berjalan mengikuti jalan setapak yang ada. Ternyata jalan setapak itu membawa kami untuk melakukan pendakian. Kami mendaki dan terus mendaki karena kami penasaran di manakah puncaknya? Ternyata setelah hampir mendekati puncak, kami baru sadar, area ini adalah area pertanian. Para petaninya menanam kentang, kacang dieng, dll. Dari atas puncak itu, telaga warna jauh lebih cantik daripada kita melihatnya dari bawah. 
Telaga Warna view from the top

Seusai sesi foto-foto dan menikmati keindahan alam itu, kami segera turun dan menyusul teman-teman kami yang sudah menunggu kami untuk pulang. 

Akhir dari Trip yang singkat ini...
di dalam perjalanan pulang ke Wonosobo, sebagian besar di antara kami  tertidur pulas, termasuk saya. Wajah-wajah kami mengisyaratkan kepuasan, karena selama dua hari ini kami puas melihat, menonton, dan merasakan apa yang kami cari. Pengalaman, tempat baru, makanan lokal, dan teman baru. Kami senang sekali   :) 
Saya merasakan "Jangan berakhir segala kesenangan ini!" aah saya belum rela untuk berpisah dengan mereka. Dan saya juga belum cukup puas untuk menjelajah Wonosobo.  Tapi kata terlanjur terucap, kami harus pamit. 
Sebelum kami pulang, lagi-lagi, keluarga Pak Harry menyediakan lauk pauk untuk santapan siang kami. Begitu menyenangkan akan segala keramahan keluarga Pak Harry. Kami diperlakukan seperti layaknya saudara. Pada dasarnya kita ini semua bersaudara kan?
With our kindly host :) Harry and wife

Max adalah orang yang paling pulang duluan, karena dia harus segera ke Yogyakarta dengan motor pinjamannya itu. Saya, Bela, Wili, Yuvi, dan Ifa menyusul untuk pamit dari rumah Pak Harry, karena arah kami sama. Tika dan Sovi masih bertahan di rumah Pak Harry karena mereka menunggu rombongan dari Semarang yang akan pulang juga hari itu. 

Berikut ini saya lampirkan pengeluaran saya selama Dieng Trip:
Transportasi Rp87.000
Naik Colt Temanggung Wonosobo Rp10.000/orang
Naik angkot/mikrolet dari terminal Wonosobo ke alun-alun Rp2.000/orang
Naik angkot/mikrolet dari alun-alun ke desa kalianget Rp2.000/orang
Sewa angkot hari I (allday) : Rp350.000/8 orang = @Rp44.000/orang
Angkot hari II Rp150.000/8 orang (@Rp18.000/orang) Dari 8am-2pm.
Angkot dari Kalianget ke Varia Rp2.000
Bus dari Wonosobo ke Temanggung Rp9.000

Biaya Masuk ini-itu Rp32.000
Masuk kawasan wisata Dieng harusnya Rp10.000/orang, setelah dimerayu penjaganya kami berhasil mendapatkan Rp50.000/8 orang.
Biaya retribusi Gunung Sikunir Rp3.000/orang
Biaya retribusi Kawah Sileri Rp15.000/8orang (harga setelah dinego)
Biaya retribusi Telaga Merdada Rp15.000/8orang (harga setelah dinego)
Toilet di danau Cobong Rp1.000
Tiket masuk Permandian Kalianget Rp2.000
Tiket masuk Telaga Warna Rp6.000

Konsumsi selama 3 hari Rp26.000
Makan malam, nasi goreng, Rp7.000
Jajan Sagon di Gunung Sikunir Rp5.000
Jajan jagung bakar di candi Arjuna Rp3.000
Mie Ongklok di depan telaga warna Rp5.000
Gandos Rp6.000

Oleh-oleh
Carica 3 botol kaca (Rp30.000), 4 botol plastik (Rp20.000), satu dus teh tambi Rp6.000 : Rp56.000

Total Pengeluaran Bersih dan sudah termasuk oleh-oleh Rp201.000
untuk melihat album foto selama trip ini bisa mampir ke sini.
Kalau tertarik mau jalan-jalan ke Dieng dan Wonosobo dengan angkot, saya masih menyimpan kontak supirnya, bisa hubungi saya kalau mau. 

Thursday, July 12, 2012

Rahasia Bedak Penari Topeng Dieng dan Semangkuk Cinta Mie Ongklok (Dieng Trip Part 2)


Perjalanan dilanjutkan menuju ke kompleks candi-candi. Ada Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, dll. Mulanya saya pikir akan menemui candi-candi besar seperti Borobudur, sayangnya yang saya lihat hanya candi dengan ukuran agak kecil. Karena kami datang di hari pertama Dieng Cultural Festival 2012, wajar plataran parkir area candi dipenuhi bus dan mobil. Sepertinya ada banyak sekolah yang sedang melakukan study tour ke tempat ini. Karena di mana-mana yang saya lihat adalah remaja-remaja rewel yang menggunakan seragam olahraga. 

Pemandangan di kompleks candi ini bagus, udaranya juga sangat segar untuk dihirup. Saya sampai sana sekitar jam 10 pagi sehingga matahari belum terlalu terik. Kami duduk-duduk manis sambil beristirahat sejenak di depan Candi Arjuna. Di tengah menikmati pemandangan alam nan hijau itu, si Max tiba-tiba diserbu sekawanan remaja labil. Pasti kalian dapat menebak apa yang terjadi! Seperti yang sudah saya katakan, secara fisik Max itu tergolong cowok bule ganteng, dengan perawakan yang ideal, wajar dong kalo ABG-ABG ini berbondong-bondong untuk minta foto bareng? 

Semakin lama, semakin banyak yang datang minta foto. Akhirnya saya berseloroh, “Max!” Kemudian Max menoleh dan tersenyum, “Good call!” dan kami segera meninggalkan pelataran Candi Arjuna yang sesak dengan ABG labil itu J

Sebelum meneruskan perjalanan kami jajan jagung bakar dulu. Lumayan buat mengganjal perut yang belum diisi dari tadi subuh. Setelah pendakian, terasa perut mulai meronta-ronta untuk diberi makan. Tidak jauh dari kompleks candi, ada situs pariwisata yang kerap dikunjungi, yaitu Telaga Warna.

mie ongklok + sate ayam
Setiba di sana. Kami mulai berunding lagi. Kalau kami masuk hari ini, besok kita pasti akan masuk lagi ke sana, karena kami besok akan melihat pelarungan rambut di telaga itu. Untuk menghindari masuk ke situs itu sebanyak dua kali, kami akhirnya memutuskan masuk ke telaga besok saja. Di seberang situs ada berbagai pedagang makanan. Kami mampir ke salah satu warung yang menjual mie ongklok. Rasanya lumayan untuk perut yang lapar dan untuk harga Rp5.000/mangkok.

Masih ada dua situs lain yang kami kunjungi hari itu, yaitu Kawah Sileri dan Telaga Merdada. Untuk masuk ke situs itu pengunjung dikenakan biaya retribusi. Berkat kepiawaian supir angkot dalam berdiplomasi, kami akhirnya mendapat harga Rp15.000 untuk 8 orang! Murah kan?
all of us, behind the Sileri cauldron 



Sebenarnya tidak banyak yang dapat diceritakan mengenai Kawah Sileri. Sewaktu kami mau ke sana, di tengah jalan kami terpaksa berhenti karena ada perbaikan jalan. Akhirnya kami hanya dapat melihat Kawah Sileri dari kejauhan. Dibandingkan Kawah Sikidang, kawah ini jauh lebih kecil.
Tidak banyak wisatawan mengunjungi Telaga Merdada. Terbukti waktu kami ke sana, suasananya sungguh sepi. Telaga ini tidak seperti danau-danau yang sering saya temukan, yang biasanya menyisakan lahan untuk pengunjung berduduk-duduk. Telaga Merdada ditemboki oleh pegunungan dan dipadati oleh lahan sawah. Jadi kebayang dong para wisatawan mau duduk di mana? Sehingga kalau pengunjung berharap akan menikmati pemandangan dari pinggir telaga, hal itu salah besar. Selain bau pupuk CM yang menyengat, telaga ini tidak ada ruang untuk pengunjungnya duduk di pinggirnya. Jangan sedih dulu, kalau kalian mau duduk sambil menikmati keindahan telaga ini, kalian bisa duduk di viewing point yang terletak tidak beberapa jauh dari telaga.

Di telaga ini kami sudah mati gaya. Pasalnya, saat itu baru jam 12-an, dan kami sudah mengunjungi hampir semua situs di pegunungan Dieng. Mau apalagi coba? Setelah berunding lagi, kami sepakat untuk balik ke Wonosobo. Saat perjalanan balik, kami melalui kompleks candi lagi. Di sana kami melihat kerumunan orang semakin menyemut. Kami segera memutuskan untuk melihat keramaian itu lagi. 

Saat kami datang, sedang ada pertunjukan seni tradisional. Pagelaran tersebut termasuk salah satu rangkaian acara Dieng Cultural Festival 2012. Sebelum kami datang , sudah ada beberapa pertunjukkan. Kami hanya berkesempatan menikmati Tari Topeng Dieng. Kalau dilihat dari jadwal yang dikeluarkan Dinas Pariwisata, kenyataannya tidak sesuai. Telat banget acaranya!

Terik matahari benar-benar panas pada jam 1 siang. Anehnya hembusan angin terasa tetap dingin di tengah terik yang menyengat itu. Saya rela berdiri panas-panas untuk menonton Tari Topeng yang magis itu sampai selesai. Saya dapat melihat pada penari sedang dalam kondisi trans. Mereka menari, memakan bunga, dan memecut. Seram, magis, mistis, entahlah.

Selesai tari topeng, saya melihat beberapa anak perempuan menghampiri penari perempuannya untuk meminta secolek bedak. Saya dan Bela terheran-heran. “Untuk apa ya?” “Biar bikin cakep kali, yuk minta yuk!”

Awalnya kami malu-malu untuk minta, akhirnya dengan dalih foto bareng kami mendekati penari perempuannya. “Mbak boleh minta bedaknya?” kata saya akhirnya. Si penari dengan baiknya menyodorkan bedaknya itu. “Buat apa sih Mbak anak kecil minta bedak dari Mbak?” tanya saya penasaran.
“Biar nggak kesurupan,” jawabnya sederhana. Saya dan Bella berpandangan dan mulut kami membentuk huruf O. Owalah… kami pikir dengan minta bedak akan ada kepercayaan akan menambah kecantikan seseorang, sayangnya hanya untuk nggak kesurupan. Hahah J
the dancers, Bela, me, and Sofi behind us.

Sebelum balik ke Wonosobo, kami duduk-duduk dulu di warung makan cemilan, ada kentang goreng, kripik-kripik, dan sambil menyeruput purwaceng. Denger-denger sih purwaceng berkhasiat untuk menambah energi pria. Tapi kalau diminum perempuan gimana ya? Hehehe :D

Butuh satu jam untuk kembali ke rumah Pak Hary. Kami sampai sana kira-kira pukul 15.30. Masih ada waktu untuk ke permandian air hangat di Kalianget. Sebelumnya, istri Pak Hary sudah menyediakan mie ongklok buatannya untuk kami. Waaaah…. *o* kami semua tersentuh akan keramahan keluarga Pak Hary. Mienya enak banget! Karena dibuat dengan …cinta.. (halah..!) Tapi serius memang enak banget! Selain mie ongklok, kami juga disuguhi tempe kemul. Tempe kemul itu sejenis tempe mendoan yang menggunakan daun kucai.

Tidak semua rombongan pergi ke permandian Kalianget. Hanya ada saya, Bela, Ifa, Yuvi, Tika, dan Max. Permandian ini memiliki dua pilihan, kolam renang atau bath up. Kolam renangnya sih normal-normal saja. Sewaktu melihat bath up-nya. Jeng Jeng! Saya langsung patah arang. Lebih baik saya mandi dengan air dingin di rumah Pak Hary, daripada harus mandi air hangat di bath up yang sudah dipakai ratusan orang tanpa dicuci lebih dahulu. Ewww ogah!
Liat aja sumber air hangatnya berasal dari kali yang banyak sampahnya.

Dari 6 orang yang pergi, hanya Bela saja yang mencoba sensasi bath up-nya. Setelah keluar dari sana, dia no-comment gitu deh.. yaah…

Balik ke rumah Pak Hary, kami ngobrol-ngobrol lagi, ngalur ngidul, becandaan, cerita ini itu. Seru! Malam itu adalah malam terakhir kami bersama, karena besok kami akan pulang ke tempat kami masing-masing. Ada rasa sedih yang menyelinap tiba-tiba. Kami baru berkenalan kemarin, kami senang-senang bersama, tapi besok sudah harus berpisah. Sedih rasanya.

Malam itu kami mampir ke tetangga Pak Hary yang buka usaha pabrik oleh-oleh. Banyak kripik jamur, kacang dieng, kripik tempe, dan lain-lain. Yang lain banyak yang beli kripik-kripikan, saya hanya belanja teh tambi (teh khas Dieng) dan manisan carica. 

Malam itu karena lumayan lelah, kami tidur lebih awal, dan bersiap untuk acara pemotongan rambut gimbal di Dieng Cultural Festival 2012. 

kalau mau lihat foto-foto kami bisa mampir ke sini atau sini

Tetap ikuti dan simak catatan perjalanan ke Dieng di hari terakhir tetang pemotongan rambut gimbal. 

Untuk catatan perjalanan Dieng bagian pertama baca dulu di sini. 

Friday, July 6, 2012

The Golden Sunrise of Sikunir dan Napas Raksasa Sikidang (Dieng Trip Part 1)


Ada sedikit oleh-oleh cerita dari Dieng, selain manisan carica. 

Tadi sore saya mendapat SMS dari Suci (teman sekelas), "Lu ke Dieng? Kok nggak ngajak-ngajak???" Untuk menjawab pertanyaan itu, 160 karakter sepertinya tidak cukup. Maka saya hanya membalas, "Lihat di blog aja, detailnya."

Jadi begini ceritanya... (*soksok pasang tampang misterius)
sebelum ke Temanggung, saya sudah mendengar desas-desus Dieng Cultural Festival 2012. Tertarik banget buat datang! Tapi, sama siapa??? Garing banget kayaknya kalo harus sendirian, walaupun nggak menutup kemungkinan juga sih. Siapa takut?

Selidik punya selidik, di forum CS ada beberapa orang yang tertarik juga untuk datang ke acara ini. Sayangnya, mereka sebagian besar berangkat dari Jakarta, Semarang, dan Jogja.  Saya berharap ada seseorang yang berangkat dari Temanggung. 

H-1 (28/6) saya masih belum mendapat teman ke sana, saya punya firasat 80% pasti akan pergi sendirian.
Pada pagi hari, saat hari H, (29/6), saya tiba-tiba dilanda sakit diare, sakit kepala, nggak enak badan, alamak sial banget! Gara-garanya kemarin saya kebanyakan makan cabai rawit! Ini alamat batal deh ke Dieng. Keluarga saya semua menyarankan untuk membatalkan trip ini. 
Tiba-tiba ada SMS masuk, "Alfi, saya dan teman saya akan berangkat dari Jogja ke Temanggung pukul 10.00 ya.." SMS itu berasal dari salah satu anggota CS. 

HOORAAY!!! Di detik-detik terakhir sebelum saya menyerah untuk membatalkan trip ini karena alasan kesehatan, akhirnya dapat teman juga ke Wonosobo. Thanks a lot to CS!

Dua orang itu bernama Willy dan Bella, mahasiswa jurusan sosiologi Atmajaya Jogja. Tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan orang baru. Obrolan kami langsung mengalir lancar jaya tanpa macet.
Sebelum melanjutkan perjalanan dari Temanggung ke Wonosobo, saya mengundang mereka untuk menyantap sate lontong di rumah. Keluarga saya pikir, mereka adalah teman lama saya. Hmm, mungkin agak lebih sulit bagi mereka untuk menerima penjelasan kalau saya katakan "Mbah, kami baru berkenalan 5 menit yang lalu!"

Antara Temanggung dan Wonosobo
Hanya  butuh waktu 1,5 jam perjalanan dengan bus colt pintu 2. Di dalam perjalanan, saya duduk di sisi jendela, di sebelah saya ada Bela. Wili duduk di depan kami. Saya dan Bela terus mengobrol, melantur ke mana-mana. Terselip pembicaraan mengenai media literacy, poskolonial, gender, dan tentang etnisitas.Tiba-tiba pembicaraan terhenti, saya terkesima sesaat, saat menoleh ke jendela, saya menemukan keindahan alam yang luar biasa. Gunung, sawah, langit biru dan gumpalan awan putih. Sepanjang perjalanan, kami melalui bentangan alam yang sangat cantik itu. Ahh, betapa besar karya agung Tuhan!

Pertemuan di Kalianget
Kalianget adalah nama dusun yang kami singgahi. Kami mendapatkan tumpangan untuk menginap di salah satu rumah anggota CS. Hanya butuh naik 2x angkot untuk sampai ke Kalianget dari terminal Wonosobo. Sesampainya di rumah Pak Hary (nama host kami), ternyata sudah ada 2 orang yang menumpang di sana, mereka Yuvi dan Ifa (kakak-adik). Kelak saya baru mengetahui ternyata Yuvi dan saya kuliah di fakultas yang sama. What a small world?
Sewaktu, saya-Bela-Willy sampai di rumah Pak Hary, tuan rumahnya masih di luar, jadi yang menyambut kami adalah istrinya. Ia sungguh ramah kepada kami. Tidak perlu waktu lama juga untuk berkenalan dengan istri tuan rumah dan anak-anaknya, serta berkenalan dengan Yuvi dan Ifa. Mereka semua orang baik J Tidak berapa lama, saya bertemu dengan Pak Hary. Disusul dengan kedatangan Max, cowok Kanada, yang mengendarai motor dari Pengandaran hingga Wonosobo. SALUT!!!

Saya agak sedikit speechless juga sih saat melihat Max untuk pertama kalinya. Oke, semua cewek di trip ini bilang Max itu ganteng. Masalahnya adalah, dia orang Kanada cuiii!!! kalau kalian baca blog-blog saya dua tahun lalu, tahu-lah ada apa hubungan saya dengan Kanada. Hehe.. Jadi, saya agak sedikit galau-galau gimana gitu. Oke, next!

Dan setelah Max, agak lebih malam, datanglah dua orang dari Semarang, yaitu Tika dan Sofi. Total ada tujuh orang baru yang akan menemani trip ini. Waah saya senang sekali dengan pertemuan ini. Terlepas dari kondisi saya yang agak lemah, karena perut saya sedang tidak beres, tambahan lagi sakit maag, dan badan agak kurang fit. Saya mencoba untuk mengacuhkan itu semua, dan fokus pada trip ini. Malam itu kami segera merundingkan acara untuk besok. Kami sepakat untuk berangkat pukul 03.00 dari rumah untuk mendaki Bukit Sikunir. Dalam hal ini, Pak Hary sangat baik, ia mencarikan supir angkot yang mau kita sewa untuk trip ini. Makasih sangat ya Pak!

ALASKA itu ada di Gunung Sikunir Wonosobo: Sebuah perjuangan untuk menemui Sang Surya.
this is the view from the half way to the top
Keesokan paginya, pukul 03.00 dini hari, angkot sudah menjemput kami. Perjalanan dari Dusun Kalianget ke Desa Sembungan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Perjalanannya lebih singkat daripada waktu saya ke Bromo. Kata orang, Desa Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa! Sekitar 2.100 m dpl. Wow!

Sayangnya, walaupun sudah berkali-kali meyakinkan diri sendiri bahwa saya telah sembuh, dan sudah saya coba untuk tidak mengeluhkan penyakit saya kepada orang-orang, akhirnya tubuh saya menyerah juga. SAYA MUNTAH! Tepat di saat yang bersamaan, angkotnya berhenti untuk menanyakan arah ke Gunung Sikunir. Sewaktu ke luar, saya melihat begitu banyak bintang di langit. Saya takjub. Keindahan kerlap-kerlip bintang seolah menguatkan saya untuk kembali sehat dan melanjutkan perjalanan. Pasca-muntah dan melihat bintang-bintang itu kondisi badan saya sudah lumayan enak.

Setibanya di area Gunung Sikunir, hal pertama yang harus saya atasi adalah suhu yang seperti di kutub. DINGIN SEKALI!!! Sanggupkah saya naik ke atas? Ada semacam pergulatan batin yang membutuhkan waktu beberapa menit untuk akhirnya memutuskan, “Ya, saya sanggup!”.
Sebelum memulai pendakian untuk melihat The Golden Sunrise of Sikunir, kami harus membayar biaya retribusi sebesar Rp3.000.
Langkah-langkah awal memang mulanya berat, saat itu suhu kira-kira kurang dari 10 C! Semakin ke atas, semakin tinggi tanjakannya, langit masih gelap, saya susah untuk melihat hal di sekitar saya. Napas saya mulai pendek-pendek. Saya hanya fokus pada satu hal: jalan setapak. Tidak ada pikiran lain. Tidak ada kata keluhan, saya harus mencapai puncak, demikian saya menyemangati diri saya.

taken from the top of Sikunir

Sebelum pukul 05.00, kami semua telah mencapai puncak Sikunir. Sang surya agak telat datang karena tertutup awan. Saya merasakan, “Inilah rasanya berada di puncak gunung, angin dingin nan sejuk, pemandangan yang permai, suasana yang membuat hati menjadi riang gembira”. Untuk beberapa saat saya menemukan kedamaian dan kebahagiaan di saat yang bersamaan. Sekilas saya mengenang masa-masa menikmati sunrise di Bromo. Ah.. betapa menyenangkannya hidup ini. Saya sungguh bersyukur bisa melihat pemandangan sealami dan senatural ini. Tidak hanya kekaguman atas pemandangan alam saja yang saya dapatkan, pencapaian ini juga memberikan saya pelajaran. Pengalaman ini seolah ingin mengajarkan kepada saya, “Ini lhoo, setelah kamu bersusah-susah naik ke atas, sakit kamu lalui, akhirnya kamu mendapatkan hadiah yang indah tak terkira.” Benarlah pepatah yang mengatakan, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

among those flowers in the middle of Sikunir's jungle


Seusai sesi foto-foto, sekitar pukul 07.00 kami turun ke tempat di mana angkot kami menunggu. Di bawah sana, ada yang menjual sagon hangat, seharga Rp5.000/porsi. Lumayan untuk mengganjal perut yang lapar.
  Sebelum meneruskan perjalanan, dan sambil menunggu beberapa yang masih di toilet, saya dan beberapa teman foto-foto di danau Cebong. 
sat in the edge of Cebong Lake
Di sisi-sisi danau ini dipenuhi oleh lahan pertanian, sebagian besar menanam kentang. Aroma terasi kental tercium di area danau itu. Kami pikir petani di sini ada yang membakar terasi atau bagaimana. Kelak kami mengetahui dari Pak Supri, supir angkot kami, bahwa itu adalah aroma dari pupuk CM. Huahaha.. kami tertipu.

Kawah Sikidang: Napas Raksasa Dieng
Dari Sikunir ke Sikidang, tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit kurang. Kawah Sikidang ini terletak di dusun Dieng Kulon, kecamatan Batur, dan sudah termasuk bagian dari Banjarnegara. Kata Pak Hary, Dataran Tinggi Dieng itu 80% milik Banjarnegara dan 20% milik Wonosobo, itu namanya politik teritori. Di tengah jalan, kami dicegat untuk membayar biaya retribusi sebesar Rp10.000 per orang, satu tiket berlaku untuk dua tempat, yaitu Kawah Sikidang dan Kompleks Candi. Berkat jasa diplomasi Willy, kami masuk kawasan ini dengan hanya membeli 5 tiket, padahal di dalam mobil kami ada delapan manusia. Lumayan ngirit J

Begitu turun dari angkot, segerombolan penjual masker mengerumuni kami. Mereka menjajakan masker dengan dalih di kawah sana nanti sangat bau. Apakah benar?? Well, saat pertama kali masuk kawasan kawah belerang itu, kesan yang saya tangkap adalah napas raksasa, telor busuk, kentut, dan segala bau-bau yang tidak menyenangkan. Setelah berjalan beberapa puluh langkah, kami menemukan kawah vulkanik yang banyak dibicarakan orang-orang. Kawah Sikidang, dengan suhu lebih dari 98 C tidak henti-hentinya mendidih, “blup..blup…blup”. Asap putih dengan aroma khas belerang terus mengepul di atas kawah ini. Uniknya, lokasi ini menjadi tempat favorit untuk pembunuhan atau bunuh diri. Waaw…

Finally we reached the top of the hill!!
in the top of Sikidang hill.
Di saat yang lain masih asyik mengamati keajaiban alam itu. Max sudah berlari mendaki bukit kecil di samping kawah. Terpacu Max, tidak beberapa lama, saya, Bela, Ifa, dan Yuvi menyusulnya. Tidak semudah yang saya lihat. Kalau Max mendaki hanya cukup dengan lari-lari ringan. Tapi saya???? Saya harus sangat pelan-pelan karena takut tergincir. Ini bukit batu berpasir, rawan terpeleset. Bagaimana si Max bisa begitu lincah naik sampai atas?




see my face? was so happy after successfully got down from the top. Finally, I was saved!
Bagaimana catatan perjalanan selanjutnya?
to be continued... masih ada ulasan kawah sileri, danau merdada, nasi megono, mie ongklok, tempe kemul, itinerary ke dieng, dan masih banyak lagi. sabar yaa.. :)