Showing posts with label couch surfing. Show all posts
Showing posts with label couch surfing. Show all posts

Tuesday, July 26, 2011

Rincian Perjalanan Pulau Sempu dan Gn. Bromo (beserta laporan keuangannya)

Minggu lalu, saya dan teman-teman memutuskan untuk berangkat ke Malang, menjelajahi Pulau Sempu dan melihat matahari terbit di Penanjakan Bromo.

Inilah awal rencana perjalanan kami, budget semula dengan kenyataan tidak terlalu melenceng jauh, lumayan akurat :)

18 Juli 2011,
13.00: kumpul di stasiun Senen
14.00: Jakarta ke Malang: naik kereta ekonomi Matarmaja

19 Juli 2011
07.30: sampai di St. Malang
08.00: ketemu Mbak Ina dan Riky, cari angkot buat disewa, berhentiinya di depan stasiun aja, banyak angkot kosong yang bersedia disewa.
09.00--10.00: santai-santai di rumah mbak Ina, sambil sarapan.
10.00--12.30: perjalanan ke Pantai Sendang Biru
12.30: tiba di Sendang Biru12.30: makan bakso Rp5.000/mangkok, mandi, cuci muka, ke toilet, urus izin perizinan, sewa kapal buat nyebrang ke Sempu.
12.40--14.00: di pulau Sempu, memulai tracking, (cukup panjang dan menanjak medannya).
14.00: leha-leha, foto-foto, berenang-renang, nggak tau deh ngapain lagi, hampir mati gaya, haha
18.00: makan malam (lebih tepatnya sih mengorek2 logistik kami, karena ternyata kami lupa membawa NASI!!)
19.00: main truth or truth (mau main truth or dare, gak bs juga dare-nya, wong gelap banget!)
21.00: tidur di alam bebas, melihat bintang-bintang yang cerah banget, sambil curhat soal banyak hal :DD

20 Juli 2011
06.00: bangun tidur
07.00--07.40: tracking naik ke tebing, nyari sinyal HP, buat foto-foto, tebingnya serem banget, batunya tajam-tajam. hati-hati aja ya kalau mau naik ke sana.
08.00: main air lagi10.00: tracking pulang ke Sendang Biru
11.30: leha-leha di Sendang Biru, cuci muka, toilet, dll. siap-siap pulang ke kota Malang.

12.40--14.00: di angkot perjalanan balik ke kota Malang
14.00: makan sarapan+siang+sore: di bakso bakar Cak Man (recommended)
15.00: check in hostel, mandi, wisuh-wisuh.
20.00--21.30: ketemu CSer Malang, Martha and the gang, di The Ego Cafe
22.00: keliling kota Malang, kayak Alun-Alun, Tugu, Balai Kota, Gereja Katedral, Toko Es Krim Oen, foto-foto lah
22.30: makan malam sambil ngopi-ngopi di angkringan
23.00: balik ke hostel

21 Juli 2011
00.30: dijemput ELF
03.30: sampai di Wonokitri, tempat terakhir ELF boleh menanjak.
04.00: naik ke Penanjakan, sewa mobil Jeep.
04.30--06.30: menanti matahari terbit
07.30: turun dari Penanjakan ke Wonokitri, naik Jeep lagi
08.00--10.00: Perjalanan balik pakai ELF ke kota Malang
10.00: sarapan pecel Glontongan Rp6000/porsi (nasinya +pecelnya penuh banget, sampai piringnya luber)
10.30: ke hostel ambil backpack
13.00: cari oleh-oleh, cemilan ringan khas Malang, kayak Kripik Apel Malang per bungkus Rp9.500
15.00: sayonara Malang :*(

22 Juli 2011
09.30: sampai di St. Senen Jakarta.

Berikut adalah rincian biaya selama di Malang:
Kereta Api Jakarta--Malang (@Rp51.000) PP: Rp102.000

Biaya di Sempu:
Sewa angkot Rp270.000/10org = @Rp27.000/orang
biaya masuk Sendang Biru Rp5.500/orang
biaya masuk mobil ke Sendang Biru Rp2.000/mobil
sewa kapal antar jemput Sempu--Sendang Biru Rp100.000/14org: @Rp7.000/orang 
(pinter-pinter ngerayu dedengkot yang namanya Mak Endut/ Mami, biasanya satu kapal cuma boleh 10 org, tp gara2 dirayu akhirnya boleh)
Sogok penjaga Sempu Rp25.000/14org = @Rp2.000 (optional, terserah mau kasih berapa)
Sewa Tenda Dome (isi 4org) Rp15.000/hari, terhitungnya minjam 3 hari, jd Rp45.000/4org: @Rp11.500
Kalau mau sewa sleeping bag harganya Rp7.500/hari (sewa tenda dan sleeping bag: adanya di kota Malang, dekat stasiun ada penyewaannya, tinggalin KTP aja).

Hostel Gress Homestay Rp120.000/4 org: @Rp30.000/orang

Biaya di Bromo:
sewa ELF: Rp650.000/11org: @Rp60.000/orang (ELFnya max bisa muat 14 orang kok :)
tiket masuk bromo @Rp4.500/orang (seharusnya Rp5.500 tapi karena supir ELFnya punya kenalan, jadi bisa dimurahin)
toilet di bromo Rp2.000/orang
sewa jeep ke penanjakan Sunrise point Bromo Rp275.000 (bisa muat ber 7-6)
kalau mau ke Bromo yang padang pasir itu, cukup nambah biaya Rp300.000 lagi. akhirnya kami memutuskan untuk nggak ke padang pasir itu.
Angkot di Malang : Rp2.500/orang

Makanan di Malang:
Bakso Bakar Cak Man Rp1.500/butir
Pecel Glontongan Rp6.000/porsi super duper buanyaaak dan nampoool
Rawon Rp6.000
Tahutelor Rp6.000 (makanan khas Malang)
Mie Pangsit Rp3.000
Es Teh Rp1.500
Kopi Rp2.000

Perkiraan awal kami, budgetnya akan sebesar Rp424.500
ternyata, pengeluaran bersih saya hanya Rp380.000, sudah termasuk makan, penginapan, transportasi, toilet, dll. Exclude oleh-oleh. :DD

Mohon maaf untuk no telepon angkotnya saya tidak dapat berikan, karena HP saya hilang sewaktu di kereta api :(( (jalan-jalannya murah, sebagai tumbal HP saya jadi ilang, hiks)
kalau mau sewa ELF, saya masih simpan pin BBnya: 23A014D5 
Kalau soal masalah sewa Jeep, serahkan saja pada supir ELF, biar dia yang carikan untuk kita, karena kalo kita yang nyariin, denger-denger dari orang bisa sampai Rp300.000--350.000.

Selamat berpetualang!

semoga informasinya membantu yaa, 
kalau mau cerita perjalanan lebih lengkap, bisa baca di postingan yang ini. 



Monday, July 25, 2011

Jelajah Malang Bagian I: Berkemah di Pulau Sempu Penuh Bintang Bertaburan

Setelah Ujung Genteng, destinasi perjalanan liburan kali ini adalah kota Malang!
Berangkat dari obrolan iseng-iseng tentang Bromo, akhirnya saya mengajukan diri menjadi ketua geng. Awalnya, teman-teman kampus hanya ingin ke Malang untuk melihat sunrise di Bromo. Ah, saya bilang rugi, lebih baik sekalian saja kita pergi ke Pulau Sempu.

Sebagai Ketua Perjalanan yang mengangkat dirinya sendiri, saya bertugas mengatur segala keperluan teman-teman saya, mulai dari penginapan, transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Setelah saya hitung-hitung, perkiraan pengeluaran kami akan sebesar Rp424.000 (untuk lebih jelas dapat klik di sini). Karena estimasi biaya sebesar itu, saya memutuskan untuk memungut biaya Rp500.000 dalam perjalanan ini, yang tentu kalau uangnya lebih akan dikembalikan. FYI: saya bukan agen jasa travel, ini murni niat baik saya biar bisa liburan bareng teman-teman kampus :)

Rencana yang nggak terlalu dipikirin masak-masak ini, akhirnya terwujud juga pada 18 Juli 2011. Kami bersembilan. Tujuh cewek dua cowok. Tujuh cewek semuanya anak IKSI UI 2009. dua cowok sisanya adalah comotan dari mana-mana. Kami berkumpul di Stasiun KA Senen jam 1 siang, menunggu kereta ekonomi Matarmaja.
Jam dua teng, kami naik kereta. Eh buset, rame aja tuh kereta. Ngomong-ngomong, ini adalah pertama kalinya saya naik kereta ekonomi lho :) hehe.
inilah tim kami pada awalnya...


 
Saat kami hampiri kursi yang tertera pada tiket, ada seorang nenek-nenek yang harusnya nggak duduk di tempat duduk kami, tapi dia tetep ngeyel pengen duduk, walaupun nggak punya tiket. Nenek-nenek itu beli tiket tanpa kursi. Awalnya kami marah, "nggak bisa gitu dong, mau nenek-nenek kek, kita kan udah beli tiket, nggak bisa dia duduk di situ!" sahut salah seorang teman saya. Lama-lama ya kasihan juga ya, akhirnya saya mengorbankan diri, untuk duduk sempit-sempitan bersama nenek itu, kursi yang tadinya buat berdua, akhirnya dipakai buat bertiga. Kebayang dong 18 jam perjalanan dengan posisi duduk yang sempit?
Sebenarnya sih 18 jam itu nggak terasa lama, karena banyak hal yang kami lakukan. Mulai dari main kartu remi, ngerumpi, ngegossip, curhat, tidur, sampai mondar-mandir dari gerbong satu ke gerbong lainnya.

Wanita yang duduk dipinggir saya ini seorang janda yang baru ditinggal suaminya 25 April 2011, matanya selalu berkaca-kaca saat menceritakan suaminya. Saya, Asih, dan Dzi terenyuh mendengarkan curhatan wanita ini. Dia curhat juga soal pengorbanan dia buat menghidupi anak-anaknya yang saat ini tinggal di Malang. Kegigihan wanita itu mengingatkan saya dengan pengorbanan Mama selama ini. Wanita itu dengan mama memiliki kesamaan, yaitu semangat berjuang yang tinggi walaupun suami mereka telah tiada. Saya selalu salut dengan wanita-wanita tegar seperti mereka. Mereka bekerja keras untuk anak mereka. :)
Ada pelajaran yang dapat saya ambil dari wanita itu. Saya beruntung bisa berkenalan (walaupun sampai pada akhirnya, saya tidak tahu nama wanita itu, hehe).

Setelah tidur bangun tidur bangun sampai tidur lagi, sampai bangun lagi, akhirnya kami sampai Stasiun Malang pada pukul 07.30. Nggak berapa lama, teman-teman dari komunitas CS datang, Ina dan Riky. Riky itu alumni SMA saya dulu, tapi saya baru kenalannya kemarin pas ketemu sama dia. haha. dan Mbak Ina itu adalah anak CS Malang. Kami disambut baik oleh kedua orang itu, ah senangnya. Mbak Ina membawakan kami nasi putih, karena dia tahu kami sudah membawa lauk pauk dari Jakarta (lihat, betapa iritnya kami :))

Kami keluar dari stasiun, cari angkot yang bersedia disewa untuk ke Pantai Sendang Biru. Alasan kami kenapa tidak naik angkot satu demi satu, karena pertama akan memakan waktu yang lama, dan kedua biayanya juga tidak jauh berbeda dengan sewa angkot. Sebelum perjalanan ini, saya sempat minta tips dan trik ke Sendang Biru, minggu lalu teman saya membayar Rp35.000 per orang sekali jalan ke sana. Berbekal patokan harga segitu, kami mulai menawar-nawar angkot. Sampai akhirnya kata sepakat jatuh pada supir angkot bernama Yos, supirnya masih muda dan asik diajak negosiasi, harga yang dipatok Rp270.000 untuk 10 orang, termasuk murah kan??

Yaaa, sebelum cabut ke Sendang Biru, kami menaruh barang-barang yang nggak penting di rumah Mbak Ina. Jam 10.30 kami langsung melesat ke Pantai Sendang Biru. Saya sudah dengar sih, katanya Sendang Biru itu 3 jam perjalanan, berhubung supir dan keneknya baru pertama kali ke Sendang Biru, ya alhasil kami menghabiskan waktu hampir 4 jam menuju Sendang Biru. Angkotnya jalannya lelet sih, hehehe. Jalanan menuju Sendang Biru terbilang masih mulus, liuk-liukannya nggak separah jalanan menuju Ujung Genteng, intinya saya nggak sampai mabok deh.

Sewaktu masih di perjalanan menuju Sendang Biru, teman saya dari Multiply.com Danang dan teman-temannya sudah sampai duluan di sana. Ya iyalah mereka kan naik motor. :(
Kami sampai Pantai Sendang Biru kira-kira pukul 13.30. Langsung, saya berkenalan dengan yang namanya Danang, "Halo Danang!" eh dia ternyata dipanggil "Banyu" sama teman-temannnya.

Sebelum nyebrang ke Pulau Sempu, hal pertama yang harus kami lakukan adalah membuat surat izin. Saya dan Danang maju ke kantor yang mengurusi pulau itu. Danang yang mengangkat bicara. Eh, entah salahnya di mana, kita malah diceramahin panjang lebar "Pulau Sempu itu pulau konservasi, bukan pariwisata, dll". Membaca gelagat yang seperti itu, Danang dan saya pamit undur diri. Ganti strategi lain, kami mengutus dua orang teman Danang yang maju. Entah gimana ceritanya, berbekal uang rokok Rp25.000, kami langsung dapat surat izinnya. Yah, tau sendiri lah.

Surat izin udah beres, saatnya sewa kapal buat nyebrang ke Pulau Sempu. Sebenarnya, dalam urusan P. Sempu saya tidak banyak mengambil bagian, karena segala urusan ditangani oleh Danang.dkk. Dia yang ngelobi si Mak Gendut/Mami (yah kayak dedengkot di Sendang Biru, tempat mangkalnya di depan Mushola, kalau kalian ke sana, pasti ketemu dia deh). Saat itu, kebetulan banyak tim yang juga mau berkemah di Sempu, akhirnya kami dapet tim yang bisa share ongkos sewa boat. Rombongan saya ada 10 orang, ditambah rombongan Danang 4 orang, jadi rombongan kami 14 orang, Biaya sewa perahunya sebesar Rp100.000 sudah termasuk antar jemput, satu orang kena biaya Rp7.000 (sudah PP). Jelas, ini termasuk murah, karena biasanya, satu orang bisa sekitar Rp10.000--12.000..
Kalian coba googling deh, kalau baca catper orang-orang tentang Sempu, pasti kurang lebih jarak tempuh dari bibir pulau ke Segara Anakan (laguna di tengah Sempu) sekitar 2 jam. Ternyata, tim kami termasuk lumayan cepat, karena kami berhasil menempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. :)

Wah benar saja seperti yang dikatakan orang-orang, jalanan menuju Segara Anakan itu benar-benar tantangan. Medannya mendaki dan terjal, tanahnya penuh akar-akar pohon besar-besar, tanahnya empuk dan dingin, sinar matahari menyempil di sela-sela pucuk daun yang tinggi. Ya, kami berjalan menyusuri jalan setapak di hutan belantara itu. Kanan kiri pohon, bawah tanah dan akar pohon, atas dedaunan dan cahaya matahari. Selama perjalanan saya tidak bisa memperhatikan yang lain selain jalan setapak, kalau saya tidak hati-hati saya takut nanti terpeleset atau jatuh. Kita perlu hati-hati mengamati jalan. Karena banyak jalan yang licin. Karena sandal saya bukan sandal gunung, akhirnya saya nyeker selama perjalanan. Dan nyeker jauh lebih nyaman daripada pakai sandal.
Sepanjang perjalanan, jalan setapak kami sering terhalangi pohon-pohon besar yang tumbang. Sewaktu kami lewat pun, ada sebatang pohon yang tumbang, bunyinya cukup menggelegar, "BUMM!" Untung saja pas pohon itu roboh, kami sudah ada di depannya. :) Terima kasih Tuhan, kami masih selamat.
Sesekali kami juga berpapasan dengan tim ekspedisi lain yang hendak keluar dari P. Sempu.
Satu jam limabelas menit berlalu, letih belum begitu terasa, tapi segala perjuangan kami segera terbayarkan saat kami melihat laguna yang bernama Segara Anakan!!!! "YIHAAAAAAAAAAAAA" kami loncat-loncat kegirangan! Eh, ternyata kami tidak sendiri, kira-kira ada 65 orang di pulau itu yang juga sedang berkemah. 15 orang di antaranya adalah turis Jerman.


foto di atas adalah wilayah bermalam kami. Satu tenda dan satu terpal besar sebagai alat. Lihat gembolan kami! dikit kan?
Setelah mendidirikan satu tenda (karena yang lainnya mau tidur di luar dengan sleeping bag), kami segera berenang ke Segara Anakan. Laguna itu dibentengi oleh karang yang tinggi, dan ada karang yang bolong, dari karang yang bolong tersebut kami bisa melihat deburan ombak Samudra Pasifik yang begitu keras. WOW! Saya sungguh takjub melihat keindahan alam itu. Sayangnya, di sekitar karang ada banyak hewan bernama Bulu Babi, alhasil kami harus sangat ekstra hati-hati untuk menginjakkan kaki di karang itu.
Setelah bersenang-senang di air, matahari pun mulai tenggelam, rasa lapar pun mulai muncul, kami mengorek-ngorek cadangan makanan kami. Ada Choki-choki, Pop Mie, Susu Jahe bubuk, Bubuk Energen Sereal, Silver Queen, Orek Tempe, Abon, Kering Kentang, Roti Tawar, Mentega, Ceres. Tebak, ada hal yang sangat kami lupakan. yaitu: NASI. yaa ampun, kami lupa beli nasi sewaktu di Sendang Biru. Alamak! akhirnya, ya kami makan apa adanya. Pop Mie dan cemilan itu. Setelah cemal-cemil, kami membuat sesi perkenalan, ya maklum timnya Danang dan tim saya belum begitu saling kenal. Setelah haha hihi, ada permainan "Truth or Truth", siapa nanya apa, siapa jawab apa sejujur-jujurnya.tahu dong permainan itu?
ini gambar saat kami sedang mengais-ngais perbekalan kami.
Kami semua berbaring di pasir, memandang bintang-bintang yang bersinar terang. Sumpah, bintangnya keren banget! Saya, dengan kegalauan saya sendiri, saya ingat dulu perkataan seseorang tentang bintang-bintang, seseorang itu pernah bilang "Bintang di seluruh dunia itu berbeda-beda, saya ingin melihat bintang-bintang di setiap negara." aahhhh lalu saya memikirkan seseorang itu. Hati saya kembali terenyuh. ah payah! Well, saya cuma berharap, kalau saya melihat bintang malam itu, semoga bintang yang saya tatap dapat mewujudkan angan-angan saya kelak. Amin.
Di Sempu sama sekali tidak ada aliran listrik, saat malam, suasananya GELAP BANGET. beberapa tim membuat api unggun, cuma tim kami doang yang nggak buat api unggun, kami cuma bermodalkan senter-senter. Itupun nggak membantu banyak. T___T kami ngobrol dalam kegelapan, tapi tetap aja seru :)
Sebagai salah satu orang yang tidak punya kantung tidur, akhirnya saya terpaksa tidur di tenda. Sebenarnya saya ingin tidur di alam bebas, menikmati bintang, sayangnya udara lumayan cukup dingin, daripada masuk angin, lebih baik saya suam-suam kuku di dalam tenda :).

Waah ternyata, saya dan 3 orang setenda tidurnya cukup pulas, kami bangun jam 6 lewat. Langitnya mendung, ah percuma juga kalau mau lihat sunrise. Bingung pagi-pagi mau ngapain, akhirnya kami memutuskan untuk tracking ke tebing paling tinggi di Pulau Sempu. Katanya di puncak tebing ada sinyal telepon, saya harus naik ke sana karena saya perlu SMS supir angkot untuk menjemput kami jam 11 nanti.

dari 11 orang yang ikutan tracking ke tebing, yang berhasil naik sampai puncak tebing hanya 7 orang, sisanya takut. ah cemen! Untung saya bagian dari orang yang berani :) hahha
faktor saya berani juga gara-gara di depan saya ada Ricky yang menyuport kami untuk naik, coba gak ada dia, saya pasti masih di bawah aja.




Gambar ini diambil di atas tebing, sekitar 80 m dpl. Jadi ceritanya, naik ke puncak tebing itu emang benar butuh perjuangan. Rasanya kayak sedang wall climbing gitu deh. manjat-manjat batu karang yang tajam, dan harus banyak-banyak melebarkan paha kaki buat mendaki. SEREM banget tracknya, tapi SERU nya tak terlupakan. Begitu kami orang-orang pilihan sampai atas, perasaan bangga itu membuncah. kayak ada perasaan "Ini lho saya, udah bisa naik ke atas." Sama aja lah kayak hidup, susah-susah dulu, begitu sudah di puncak kita bakal ngerasain enaknya berada di atas. Anginnya kencang, perasaannya jadi berdebar-debar. Sempat sih terlintas buat jasa bungge jumping dari puncak tebing ini. hahah. Nah, setelah asik-asik menikmati puncak tebing, perasaan was-was datang kembali, saya takut buat turun. Tapi, ya lagi-lagi, setelah menyebut nama Tuhan berkali-kali, saya sukses-sukses saja lho turun dari tebing, walaupun dua jari kaki saya sempat bedarah karena kepentok karang. aaahhh mama sakit.. :(
Inilah foto tim kami yang "BERANI" naik ke puncak tebing :)
Selanjutnya acara bebas lagi, sambil mengais-ngais cemilan sisa semalam, karena perut sudah keroncongan. Kami berhura-hura sampai pukul 09.30. Setelah itu, kami memulai tracking pulang. Ahh, sebenarnya saya belum puas main air di Sempu, masih pengen leha-leha, tapi ya apa daya, kami harus balik ke peradaban. Kali ini stamina kami sudah agak menurun, perjalanan pulang jauh lebih berat daripada perjalanan pergi kemarin, karena kami sudah mulai capek. Biarpun begitu, kami berhasil sampai ke bibir pantai dalam waktu satu jam 30 menit. Termasuk lumayan cepat kan?

sampai di pantai sendang biru, kami harus berpisah dengan rombongan Danang, sedih deh, kan kita baru ketemu, eh udah berpisah aja, kan belum puas ngobrol-ngobrolnya. :(
Perjalanan pulang dari Sendang Biru ke Kota Malang, kali ini jauh lebih lama daripada berangkatnya. Kami berangkat dari Sendang Biru jam setengah dua dan sampai di malang sekitar jam setengah lima. Di tengah jalan saya mulai pusing-pusing, akhirnya daripada takut muntah saya minta pil antimo sama Dzi, dalam hitungan detik saya lelap di lengan Ricky. Maaf ya Ki, kalo ada iler yang jatoh, hahaha

Kebayang dong perut kami semua sangat lapar, kami belum sarapan, belum makan siang, dan akhir dari kelaparan kami berujung di Bakso Bakar Cak Man, denger-denger sih bakso bakar di sini terkenal. Satu butir bakso harganya Rp1.500, kami baru tahu setelah makan. Teman-teman saya pada menggerutu karena harganya mahal. Saya cuma bisa bilang, ya iyalah namanya juga daging, :P

Dari situ kami ke tempat mbak Ina ambil barang, yang cewek-cewek ke hostel, dan yang cowok-cowok stay di tempat mbak Ina.

Catper selanjutnya bisa klik di sini.

Tuesday, July 12, 2011

Penyu-penyu Unyu @Ujung Genteng & Goa Sungging, Sukabumi: Melepas Penat Sisa-sisa Semester IV (bagian II--tamat)

Kami tiba di Ujung Genteng kira-kira jam 4 sore, lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Tempat Penangkaran Penyu. Perjalanan ketempat ini melalui semak-semak bakau yang kecil, dan sepanjang jalan kami melihat deburan ombak hijau yang indah, LALALALAALALA, melupakan pegal-pegal di pantat sejenak.

Agenda kami saat itu adalah menunggu pelepasan bayu penyu, sekitar jam 5.30 sore.
Sambil menunggu moment tersebut, saya dan Alice (Asih lagi salat) duduk-duduk di pinggir pantai menikmati matahari yang bersiap-siap tutup toko.

Alice dan aku membicarakan banyak hal. Saya mengatakan kepada Alice, "Coba bayangkan, kita duduk di pantai, duduk seperti ini, suasana damai dan tenang, menikmati matahari tenggelam dengan orang yang kita cintai, berangkulan, seperti yang ada di film-film romantis."
Alice hanya bisa tertawa, hahaha. Ya sudah lupakan khayalan tingkat tinggimu ini, nak.
Baru saja saya mengkhayalkan hal itu, saat saya melirik ke belakang, ada sepasang sejoli, bagian dari rombongan kami, sedang menggelar kain dan tidur di atas kain sambil menikmati matahari. BAGAIMANA saya tidak terenyuh dan bergumam "so sweeeet!!".

Sedang asyik-asyik ngobrol dengan Alice, tiba-tiba beberapa orang teman datang bergabung dan kami berbincang-bincang mengenai random stuffs.

nah, cowok yang ada di samping saya ini adalah Samuel Fanning, alias Sam. cowok yang saya sudah ceritakan di bagian I.
Asih dan saya sangat bahagia dan senang :)))
matahari tiba-tiba cepat saja bergeraknya.kalau ada kesempatan saya ingin ke pantai ini lagi, bersama seseorang yang saya sukai. pasti romantis :))

Sehabis melihat bayi-bayi penyu yang dilarung ke laut, kami balik ke cottage. Badan mulai terasa lengket dan bau asin. setelah diselidiki, kamar mandinya ternyata tidak ada yang beres. ada 4 kamar mandi, satu tanpa pintu, satu tanpa lampu, satu tanpa pintu dan lampu, satu tanpa atap, dan intinya hanya ada 1 kamar mandi yang ada pintu, ada atap, dan ada lampu.

Saya sempat ragu akan mandi di sana. ewwwwwww saya paling tidak bisa menggunakan kamar mandi yang kotor. maaf.
kemudian, kami menyewa satu cottage lagi, kali ini kamar mandi hanya ada satu di dalam, dan untuk mandi itu kami perlu mengantri. Antriannya cukup panjang, saya dan Asih memutuskan untuk mandi bersama, urutan kami adalah nomor 28. GILAA. Menunggu antrian mandi saja sudah membuat kami lelah, saya sempat jatuh tertidur lelap selama 30 menit.
waktu menunggu giliran mandi, saya gunakan untuk berbagi pengalaman dan berkenalan dengan teman-teman. Saya mendapat pembicaraan yang seru :)) Setelah mandi, saya segera tidur. dengan mimpi yang saya lupa apa.

Minggu, 3 Juli 2011

pagi-pagi kami sudah berjalan 2 kilometer menuju sebuah pantai bernama pantai Penarikan. di sana terdapat sebuah danau bakau yang konon ada buayanya. saya sih tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan buaya.

kami kembali pulang ke cottage dengan berjalan kaki 2 km lagi, total pagi itu kami olahraga berjalan kaki sebanyak 4 km :)

Perhentian terakhir: GOA SUNGGING
ini pertama kalinya saya masuk ke goa, ya olllohhhhh seremnya gak ketulungan, gelapnyaaaaa aduh gila deh. Kalau timnya cuma dikit, pasti saya takut berat, untung yang ikut segambreng, haha. Kami menelusuri goa ini selama 2 jam, dan tanahnya benar-benar licin, salah sedikit jatuh, dan ada beberapa jurang yang curam, HOROR.
katanya sih goa ini kalau diteruskan bisa sampai Banten. ya kali aja deh kita mau jalan kaki sampe banten, mana tempatnya horor begitu. Terlepas dari banyak dedemit dan makhluk-makhluk halus lainnya, petualangan ini benar-benar seru! ditambah oksigen yang sangat tipis, membuat udara jadi terasa sangat panas, berasa lagi di sauna aja :))


Dari goa ini, kami melesat ke Sukabumi kota, 4 jam aja lho perjalanan, saya hampir saja masuk angin, untuk minum Tolak Angin (promosi, haha), ya udah deh, sesampainya di terminal Sukabumi, kami langsung melesat lagi ke Jakarta, 4 jam lagi perjalanan.
setibanya di Lebak Bulus, saya dan Alice celingak celinguk cari tebengan, rata-rata orang-orang sudah berempat untuk naik taksi, sedangkan kalau kami berdua naik taksi jatuhnya pasti lebih mahal. Berbekal kepedean, saya menyapa satu rombongan yang sudah berempat, saya menanyakan kepada mereka apakah satu arah dengan kami. Akhirnya, kami ber- ENAM mencari taksi menuju Jakarta pusat, :))

akhir cerita, saya menginap di kost an Alice karena sudah jam 1 malam. saya takut membangunkan orang rumah,

After all, perjalanan ini seru banget, banyak teman, menambah pengalaman, harganya terbilang murah, dan capeknya poll!!!


sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya :)

here are the albums @Ujung Genteng & the cave

Monday, July 11, 2011

Suam-suam Kuku @Curug Cikaso: Melepas Penat Sisa-sisa Semester IV (bagian I)


Kalau kalian pernah mendengar keluhan saya tentang tugas-tugas kuliah yang menumpuk, tolong dimaafkan. Berakhirnya tugas-tugas gila nan sialan itu adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari Jakarta. Kebetulan, ada seorang teman menawarkan jalan-jalan ke Sukabumi.
Awalnya saya memang tertarik untuk ikut, setelah lirik kanan-kiri, sepertinya teman-teman kampus tidak terlalu tertarik, karena biayanya cukup mahal untuk kantong mahasiswa.

Iseng-iseng saya tawari seorang cewek Prancis dan Belanda untuk bergabung, ternyata hanya cewek Prancis yang tertarik untuk ikut. Tidak berpikir panjang lagi, kami segera mendaftarkan diri. Kemudian, menyusullah Asih, teman sekelas saya, yang bergabung ke acara jalan-jalan ini.

Acara berbiaya Rp250.000 (sudah termasuk makan+transportasi+akomodasi+penginapan) ini berlangsung selama 3 hari, dengan rute Jakarta--Sukabumi--Curug Cikaso--Penangkaran Penyu @Ujung Genteng--Pantai Penarikan @Ujung Genteng--Goa Sungging--Jakarta.

Perjalanan dimulai dari tanggal 1 Juli hingga 3 Juli.

Jumat malam, 1 Juli 2011
titik pertemuan kami di Terminal Luar Kota Lebak Bulus, pukul 20.00.
Rombongan kami ada 68 orang, saya aja sempat kaget sewaktu mengetahui jumlah rombongan sebanyak itu. Tapi ya sudahlah, toh bakal mendapat banyak kenalan baru.
Saya sudah bersiap-siap sejak pukul 5 sore, menanti si Alice, cewek Prancis yang juga berangkatnya bareng dengan saya. Dia baru keluar kantor jam 5 sore, alhasil saya harus menunggu hingga jam 7 sore.
Sebenarnya kondisi Alice saat itu kurang begitu baik, dia lagi mengalami penyakit tipikal bule-bule. aka sakit perut, setiap kali makan pasti muntah. Sebagai teman yang baik, sebelum saya ke halte Transjakarta Harmoni, saya mampir dulu ke Apotek Roxy beli obat untuk dia.
Jam 7 sore, pergilah kalian ke halte TJ Harmoni, cari jalur Lebak Bulus, kalian lihat antriannya yang seperti ada konser Lady Gaga. Untungnya sih, aku dan Alice hanya mengantri sebentar lalu busnya segera datang. Antrinya boleh sebentar, tetapi perjalanan dari Harmoni ke Lebak Bulus cukup dengan membuang waktu 2 jam saja. Ya ampun! kami pasti telat nih. Saya sempat panik waktu itu.

yah, begitu sampai di terminal, panitia masih menunggu beberapa orang yang belum datang. DASAR jam karet Indonesia. Saya sih tidak terlalu gondok, ada yang membuat saya lebih miris, ternyata bus ke Sukabuminya ngaret PARAH selama 3 jam saja lhooo. YA AMPUN!!! saya bela-belain berangkat dengan perut kosong dan naik bus yang penuh sesak selama 2 jam berdiri, dan hasilnya saya terpaksa menunggu bus itu datang selama 3 jam!! PARAH! kecewa pastinya, apalagi muka si Alice udah jutek aja.

Jam 11 malam, sebelum kereta kencana berubah jadi upik labu, akhirnya datang juga bus yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Alice duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja, eh maksudnya pak supir yang sedang menyetir. Saya lupa kalau jalanan menuju Sukabumi itu berliku-liku, beneran aja lho perut kayak sedang buat strawberry-milkshake. Saya beberapa kali jatuh tertidur, juga beberapa kali terenyak karena lampu mobil dari arah berlawanan, jalanan menuju Sukabumi yang kecil itu membuat dua arus lalu lintas seperti akan terjadi kecelakaan setiap kali berpapasan dengan mobil dari arah yang berlawanan. Perasaan was-was selalu saja membangunkan saya.

Bus kecil bermuatan 30 orang itu akhirnya berhenti dekat di rumah neneknya Kety (teman saya yang memberikan tempat tinggal). Begitu keluar dari bus, rasa ingin pipis segera merajalela, ditambah udara yang super super dingin, gigi saya bergemeletuk dibuatnya. Kami menunggu Kety untuk menjemput kami. Tak berapa lama Kety datang dan menggiring kami ke rumah neneknya.

Di dalam perjalanan, tengah malam jalan kaki di tengah udara yang super dingin, seseorang menyapa saya, "Hey Alfi!". Sebelum saya nengok mencari siapa yang menyapa, saya sudah tahu siapa orang tersebut. Dia cowok Kanada yang selama 3 bulan terakhir ini sering ngobrol lewat Skype dengan saya. Pengalaman saya dengan cowok Kanada sebelumnya tidak begitu bagus, kali ini saya juga tidak terlalu tertarik dengan cowok ini, terutama umurnya yang 1 tahun lebih muda dari pada saya. Masih kekanak-kanakan banget menurut saya :P
Saya sudah mengginggil karena dingin, belum lagi saya harus mengginggil karena grogi berbicara dengan dia, oh ya, namanya Sam. Orangnya putih banget, dan kalau ngomong Inggrisnya seperti kumur-kumur. Membuat saya beberapa kali bertanya lagi, "ha, ha?"
Bergabungnya Sam dalam rombongan kami, adalah gara-gara saya yang mengajak dia. Siangnya, dia tiba-tiba menelepon saya menanyakan acara saya malam ini, kebetulan dia sedang ada di Bogor, jadi saya menyarankan untuk ke Sukabumi dan bergabung dengan rombongan kami. Begitulah pertemuan saya dan Sam, bukan sebuah makan malam seperti cowok Kanada yang satu lagi. hahaha.

Rumah Kety ada dua, satu rumah kosong dan satu rumah neneknya. Untuk orang-orang yang masih ingin ngobrol atau main kartu sebaiknya tidur di rumah kosong, namun sisanya yang ingin segera tidur langsung ke rumah neneknya Kety. Jelas, saya, Alice, dan Asih ingin segera tidur karena lelah. Alhasil, saya dan beserta 35 orang lainnya tidur di ruang tamu. Kebayang dong, kami tidur seperti di kamp-kamp pengungsian, tapi tentu lebih seru. Yang membawa kantung tidur lebih beruntung karena tidak berjuang melawan dingin, sedangkan orang seperti saya yang tidak punya, terpaksa tidur beralaskan tikar tanpa bantal, hanya sarung sebagai selimut.

Sabtu, 2 Juli 2011
Keesokan paginya, pukul 6, kami berberes untuk ke Curug Cikaso. Sebelum berkemas, saya dan Asih berjuang menahan dingin air Sukabumi. Mandi adalah rutinitas yang saya benci di kala airnya sangat dingin, tapi hal itu harus saya lakukan agar tidak BB. hahaha.

Setelah semua rapi, kami dikumpulkan di rumah kosong, lihat gambar di atas. Kami sedang melakukan sesi perkenalan. Selesainya, kami segera menyantap nasigoreng seafood yang telah disediakan. Sayangnya, Alice dan saya tidak makan banyak, pasalnya kami sedang mual. Kalau saya makan saat itu, saya ragu akan muntah di jalan, lebih baik saya menahan lapar dibanding muntah.

Perhentian berikutnya: CURUG CIKASO
perjalanan dari rumah Kety ke Cikaso membutuhkan waktu 2,5jam. Jalanannya tidak usah ditanya, berliku-liku sepanjang perjalanan tidak ada habisnya. Kami naik mobil ELF yang disewa Kety, satu mobil berisi 15 orang.

Setibanya di Cikaso, rasa dingin tadi pagi berubah menjadi panas terik yang amit-amit.
Sebelum melakukan tracking ke curug Cikaso, kami foto keluarga dulu dong :)


yah di bawah ini adalah foto saat kami sedang tracking melewati sawah. Perjalanan dengan mobil ELF dengan medan yang mendaki-daki benar-benar siksaan. Eits, semua itu memang terbayar setelah kami melihat karya agung Tuhan yang begitu indah. Ya, selamat datang di Curug Cikaso!!!
di bawah air terjun ini memiliki sebuah kolam dengan 3 jenis kedalam, pertama 40 m, kedua 20 meter, ketiga 3 meter. Oke, ini alamat saya tidak bisa kecipuk-kecipuk di air seperti yang saya bayangkan sebelumnya.




Yang lain asik-asik berenang, saya dan Asih sibuk foto-foto, hahaa

Ada sekitar 3 jam kami bermain air di airterjun ini. Setelah makan siang di sini, kami bergegas ke Ujung Genteng, dan lagi-lagi pantat saya harus merasakan pegal-pegal yang tidak ada akhirnya, hingga benar-benar berhenti setelah 3 jam perjalanan. LELAH!!

Kelanjutan catatan perjalanan ini dapat dibaca di sini.




Tuesday, July 5, 2011

Jakarta Hitching Race 2011 : Susahnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian III-Tamat)




Wah kebetulan nih, sponsor kami kan Seven Eleven, "Bagaimana kalau kita nongkrong dulu di sevel?" usul saya kepada rekan-rekan. Padahal kami tahu, kami sedang diburu-buru deadline.

Yah nggak ada salahnya kalau kami nge-gaul dulu lah di sevel dengan memanfaatkan voucher dari sponsor :)

setengah jam kami santai-santai di Sevel, kami memutuskan untuk memulai perjalanan.
Coke yang dibawa pulang Uthe tiba-tiba meledak dari dalam wadahnya, alhasil tas Uthe terpaksa basah semua seperti daun dan ranting (inget lagu "tik tik tik bunyi hujan", hahaha). Akhirnya, waktu kami agak terbuang untuk membersihkan tasnya Uthe.
Namun, di situlah kekuatan keajaiban bekerja. Di tengah jalan raya Tebet, kami meminta belas kasihan warga Jakarta untuk memberikan kami tumpangan.

Dua puluh menit berlalu, hingga tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berhenti, dan segera kami kejar.
"Permisi pak, apakah kami boleh menumpang? Bapak mau ke mana?" tanya saya ketika jendela dibuka. Ternyata di dalamnya pengendaranya adalah seorang bapak-bapak yang sudah ngaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat tua!

"Cikini," jawab si pengendara tua itu.

Sontak, hatiku membuncah girang bukan kepalang. "Wah kebetulan sekali pak, kami mau ke Cikini. Apakah kami boleh menumpang?" pinta saya dengan antusias, dengan memasang senyum 100 watt,


dan begitulah kami, dengan manis duduk di mobil sedan yang ber-AC itu. Ini adalah mobil tertutup kedua yang berhasil kami dapatkan.
Apalagi arah kami sama dengan pengendara mobil, belum lagi, bapak Ramli (itulah namanya) juga akan melewati TIM (tempat kami berhenti). bagaimana kami tidak super duper beruntung? memang Tuhan telah mengatur segalanya untuk kami.


Ya, Jakarta Macet sore hari, kala itu sudaj pukul 15.30. Kami (lebih tepatnya hanya saya) yang berbincang-bincang dengan bapak Ramli itu. Karena cara saya duduk di depan, dan dua teman saya duduk di belakang, belum lagi cara berbicara bapak Ramli yang agak susah dipahami, karena seperti orang berkumur-kumur. Setelah berbincang-bincang dengan beliau, saya mengenal sedikit tentang beliau, misalnya ibunya beliau tinggal di Cikini umur ibunya sudah 99 thn, beliau sendiri umurnya sudah 60an tahun, adiknya bapak Ramli seorang dokter yang tinggal di Cikini Raya 3. Bapak Ramli ini seorang wartawan, ya mantan wartawan. Ingatannya termasuk sangat kuat. walaupun jalannya sudah bungkuk-bungkuk.

Kalau di Jakarta ini masih ada 100 orang seperti beliau, saya rasa Jakarta akan aman sentosa :)

Perhentian keempat: Komunitas Backpacker Dunia
Ya, kami diturunkan di depan Taman Ismail Marzuki, di sana sudah ada Komunitas Backpacker Dunia yang menanti kami. Tantangan berikutnya adalah pose aneh di depan spanduk Soekarno, inilah hasilnya :)


Setelah selesai dengan pose aneh, mereka menyodorkan amplop berisi perhentian kelima, yaitu Museum Proklamasi. Sebelum ke sana, Uthe izin salat dulu di TIM, akhirnya kami menunggu di depan parkiran.
Saat sedang menunggu, salah satu anggota Komunitas Backpacker Dunia menghampiri kami dan memberitahukan bahwa kami tidak perlu Museum Proklamasi karena lomba sudah mau ditutup, kami hanya perlu bergegas ke Sarinah.

Setelah Uthe selesai salat, kami pun berangkat ke Sarinah, awalnya kami ingin segera naik angkot, namun kami memilih untuk mencari tumpangan. Kebetulan, di depan TIM ada sebuah mobil yang menunggu majikannya, hanya ada supir di dalamnya.

Kami memberanikan diri untuk bertanya, "permisi pak, apakah kami boleh menumpang sampai sarinah?"
sontak ekspresi si supir kaget, dan dia menunjuk seseorang di belakang kami. Ternyata bossnya datang, saat kami lihat wajah bosnya, si Ino berseru "Eh elo!" yang artinya, mereka saling kenal.

Jadi, singkat cerita, tumpangan terakhir kami ini adalah mobil ketiga yang ber-AC, dan salah satu kebetulan bahwa kami bertemu seseorang yang dari kami kenal :)
si Matthew temen Parkournya Ino ini mengantarkan kami hingga samping gedung Sarinah,
berkat pertolongannya, kami menjadi tim juara keenam dari 36 kelompok. Sesampainya di Sarinah kami mendapat baju dari Hard Rock FM dan disuruh pose foto.


Setelah berfoto-foto di Sarinah lantai 8, depan stasiun radio, tim kami bertemu tim-tim lain yang juga dari Jakarta Barat, dan kami hendak pergi ke Kampung Petualang, di GOR BULUNGAN, dengan cerewet dan riang gembira namun lelah, kami bertukar pengalaman sepanjang jalan menuju GOR Bulungan, sumpah kegiatan ini benar-benar menyenangkan.

Sesampainya di Kampung Petualang, penampilan kami udah lecek kayak kertas diremes-remes, lepek, kucel, dekil, bau knalpot, lengket, ah total deh semua penderitaan. Salah dari sekian keluhan yang saya rasakan adalah rasa haus, soalnya, dari tadi siang persediaan cadangan minuman saya sudah habis, alhasil tenggorokan kering kerontang butuh minuman yang dingin-dingin atau yang segar-segar. WAH kebetulan banget, di meja registrasi panitianya sedang ceria membagikan minuman secara cuma-cuma. Kami disuguhi minuman dari sponsor, ada Coca Cola dan NU Green Tea. Mantap benar!!! Saya pilih NU Green Tea yang Less Sugar,



dan hasilnya mantap juga. Yang tadinya saya lemes karena dehidrasi dan kecapean, setelah minum NU Green Tea saya jadi semangat lagi! Semangat buat melanjutkan aktifitas berikutnya. Bergeser dari meja registrasi, kami mengunjungi beberapa stand, seperti GreePeace, Tembang Pribumi, BaliBackpacker, dll. dan kami bertemu tim dari Jakarta selain barat, kami bertukar cerita, cerita, dan cerita. Sambil ngobrol-ngobrol ngalur ngidul dengan topik yang sangat random, dan ditemani sebotol NU Green Tea, dan yang kalo habis boleh ambil lagi (hehehe, ketauan rakus) malam itu kami benar-benar sangat senang. Kami jadi lupa kalau kami itu sebenarnya lelah.


Hingga jam 9 malam, saya dan beberapa kawan-kawan terpaksa pulang karena tak tahan dengan lengket dan kantuk dan lelah.
inilah ekspresi kami di detik-detik terakhir sebelum naik bus Transjakarta :)

Jakarta Hitching Race 2011 : Susahnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian II)

sebelum menulis catper tentang Ujung Genteng dan Cikaso, saya akan menamatkan catperJakarta Hitching Race 2011 ini.

Perhentian Ketiga: Tembang Pribumi
Posisi saat itu kami masih di Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Setelah membaca clue berikutnya, yaitu sebuah lokasi komunitas musik tradisional di Jl. Kavling Polri C, Jelambar, Jakarta Barat, dengan sigap ketua tim, si Ino, menuntun kami untuk berjalan kaki ke arah Stasiun Kota. Kata Ino, di sana arahnya mobil-mobil ke arah Jelambar. Kami perempuan sih nurut aja.
Di seberang St. Kota, kami memberhentikan sebuah mobil pick-up yang ternyata mau berbagi dengan kami :)

hahaha ternyata supirnya malu buat foto bareng aku, hahaha :) (sebenarnya sih doi takut difoto, karena katanya takut kena masalah sama bosnya), baiklah, kami tidak memaksa.


setelah naik mobil bapak yang aku lupa siapa namanya, kami diturunkan di depan pos polisi Jl. Jelambar, daerah Duta Mas (kalo saya tidak salah ingat).
Berhubung di depan ada pos polisi, dengan PD kami langsung ketok-ketok pintu kantor polisi tersebut, muncullah seorang polisi lengkap dengan busananya, kami bertanya di mana letak Kavling Polri Blok C, dan bapak itu malah memberikan kami petunjuk yang sangat rumit.

akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tebengan di depan pos polisi tersebut. Selang berapa menit, di tengah panas dan debu, ada sebuah mobil pickup yang menawarkan jasa tumpangan gratis. Tanpa pikir dua kali, kami segera bergegas menaiki mobil tersebut.
Saya dan Uthe duduk di depan, dan ketua tim, Ino, di belakang.




























Dan ternyataaaa supir ke empat ini baik banget, dia mau nganterin kami sampai ke depan Jl. Kavling Polri blok C, padahal arah awalnya bukan mau ke sana. Sumpah baik sekali orang ini.
Akhirnya, kami diturunkan di depan gang persis. Dari situ, kami harus mencari sebuah rumah dengan ciri-ciri memiliki komunitas musik tradisional. Hal itu tidak mudah, karena Jl. Kavling Polri Blok C itu adalah sebuah perumahan hunian, jadi tidak ada tanda-tanda spesifikasi khusus yang mencerminkan rumah itu adalah milik sebuah komunita, sampai..,

ya sampai kami mendengar ada alunan musik dari sebuah rumah! ya, dan ternyata benar.Tembang Pribumi. Ya, itulah pos perhentian ketiga kami. Tantangannya adalah memainkan alat musik gamelan bali dengan kompak. Setiap anggota harus memilih salah satu alat, dan dimainkan secara bebarengan.

Asal kalian tahu saja ya, bakal saya di bidang musik itu 0 besar, alias gak ada bakat musik sama sekali. alhasil, ya, alunan musik yang dimainkan Ino dan Uthe terpaksa rusak gara-gara saya. Maaf ya kawan.

Biarpun karya dadakan kami ini benar-benar hancur total, Komunitas Tembang Pribumi ini sangat baik hati, mereka mau memberikan tanda tangan di passport kita. Setelah itu kami bisa deh berfoto bareng dengan mereka.




























Dari Tembang Pribumi, kami mendapat petunjung berikutnya, yaitu:
Apa?? Cikini?? sumpah, di tengah kelelahan dan keputusasaan kami, petunjuk berikutnya semakin membuat kami tertantang. Cikini! ini adalah area yang berlawanan arah dengan Jelambar, atau dengan kata lain, jauh, jauh banget dari Jelambar tempat kami berdiri saat itu.
Belum lagi ditambah, kompleks perumahan yang kami lewati sangat jarang dilalui mobil-mobil, alhasil kami terpaksa jalan hingga jalan raya.

Tiba-tiba ada sebuah mobil pick-up biru melintas di depan kami, akhirnya kami kejar mobil itu hingga kami diperbolehkan menumpang hingga depan perempatan (yah, lumayan hemat tenaga :)) walaupun hanya sebentar tetap saja sebuah rezeki yang tak dapat ditolak.

Lihat deh muka supirnya saat kami bagikan voucher Sevel "biar makin gaul bang!" pesan kami :)
kami diturunkan di depan sebuah jalan antah berantah, dari sana kami segera mencari tumpangan lain. Setelah agak berjalan lama, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil carry, ini adalah mobil tertutup pertama yang berhasil kami dapatkan. Alamaaak susahnya mendapatkan mobil pribadi seperti ini.
Sayangnya, mobil ini tidak terlalu dapat membantu, karena mobil ini mengarah ke grogol, sedangkan kami hendak menuju Cikini. Kami terpaksa diturunkan di pinggir jalan yang saya tidak ingat namanya. Yang jelas, di seberang jalan raya itu adalah jalan masuk menuju tol Tebet dan Kuningan. Kami bertiga berdiskusi sebentar, mengatur strategi, kami memilih untuk mencari tebengan di depan jalan masuk tol, dengan harapan akan diangkut hingga ke Tebet. Masalah dari Tebet ke Cikini, akan dibicarakan setelah kami sampai Tebet. Begitulah pemikiran kami pada saat itu.

Mencari tumpangan di depan pintu masuk tol itu sungguh luar biasa sulitnya, semua pengendara melihat kami, tanpa memberikan tumpangan. Ada satu mobil pribadi menawari kami tumpangan, sayangnya arah mobil tersebut ke Cikampek. yah T_T sama saja bohong...

Akhirnya, dari sejumlah mobil-mobil yang sombong itu, kami mendapatkan sebuah tumpangan dari mobil box. Supirnya mukanya jutek banget, tapi dia baik mau memberikan kami tumpangan. Selama perjalanan bapaknya tidak banyak bicara. Hingga akhirnya kami diturunkan di depan Seven Eleven Tebet.

Catper tentang nongkrong di Sevel dan titik terakhir, mari klik sini.

Saturday, June 25, 2011

Jakarta Hitching Race 2011 : Sukarnya mencari tebengan di Jakarta (Bagian I)




inilah perlombaan pertama yang ada di Jakarta, atau lebih tepatnya di Indonesia.

Apa itu "Jakarta Hitching Race"?
Suatu permainan balapan dengan 3/2 orang peserta dalam satu tim. Setiap tim harus berhasil mencapai ke beberapa perhentian. Uniknya terletak pada cara untuk mencapai ke perhentian itu, setiap tim diwajibkan menumpang kendaraan pribadi (mobil). Perhentian yang dituju tersebut merupakan situs-situs unik perwakilan dari komunitas-komunitas di Indonesia, perusahaan dan tempat-tempat menarik atau bersejarah.

Mau tahu peraturannya lebih lanjut? Mari klik di sini.
Acara ini merupakan rangkaian acara dari CouchSurfing Indonesia Festive, dalam rangka memperingati ulang tahun yang keenam.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman unik dan mengesankan selama mengikuti "Jakarta Hitching Race" ini.

Saya sudah mendengar gaung acara ini jauh-jauh hari sebelum acara ini dilaksanakan. Walaupun saya juga tertarik untuk ikut, namun ada beberapa hal yang membuat saya ragu untuk bergabung dengan acara ini, seperti malas, tidak ada waktu, ada acara lain, dll. Kemudian, ada satu teman Prancis saya, namanya Alice, dia sangat antusias ingin ikut berpartisipasi dalam acara ini. Saya memang sibuk akhir-akhir ini, mulai dari rapat dan acara-acara lain, sehingga akhirnya saya memutuskan di H-1 untuk bergabung dan mendaftarkan diri. voila! Saya menjadi bagian tim Kawah Putih, bersama dua peserta lain yang dipilih random.

Starting Point
Starting point merupakan titik permulaan lomba. Titik ini tersebar dalam empat bagian sesuai lokasi regional Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan. Pembagian titik ini ditentukan berdasarkan lokasi peserta. Saya berangkat pukul 8.10 menuju Museum Fatahillah, karena di sana adalah starting point untuk regu Jakarta Barat. Sesampainya di sana, saya kira sudah banyak orang yang berkumpul, ternyata zooooonkkkkka.k.a nggak ada siapa-siapa.

Setelah agak celingak-celinguk, akhirnya satu per satu peserta lomba mulai berdatangan. Mood langsung kembali naik :) Saya dapat kenalan baru, haha-hihi. Tidak berapa lama, teman sekelompok saya datang. Kelompok kami terdiri dari dua perempuan, satu laki-laki. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, namun dalam sekejap kami langsung akrab, itulah hebatnya anak-anak CS, begitu bertemu langsung bisa akrab.


Acara ini agak sedikit ngaret, harusnya dimulai pukul 09.00, namun pelaksanaannya dimulai pukul 10.00. Di depan Museum Fatahilah ini, ada komunitas Historia Indonesia yang membagikan sejarah singkat mengenai sejarah Museum Fatahilah. Banyak fakta-fakta sejarah menarik yang tidak saya dapatkan di buku pelajaran SMA. Saya menjadi semakin bangga dengan sejarah masa lampau. Mendengarkan penjelasan dari Komunitas Historia Indonesia membuat saya menyadari sebenarnya saya ini termasuk dari sejumlah orang yang belum banyak mengenal budaya dan sejarahnya sendiri. Saya sering mengajak bule-bule ke Museum Fatahillah, namun saya hanya menjelaskan sangat ringkas, bahwa museum ini dulunya sebagai kantor pemerintahan. Hanya itu! astaga! betapa saya berhutang cerita pada teman-teman bule yang pernah saya ajak ke museum ini. Saya harus bercerita lebih banyak mengenai museum ini ketika saya mengajak turis-turis lain. Jadi, PR tambahan buat saya: Harus membaca banyak buku-buku sejarah.

Sebelum kami menuju perhentian kedua, kami dibekali passport hitching, gunanya sebagai
barang bukti bahwa kelompok kita telah melalui perhentian-perhentian yang ditentukan. Dipassport hitching race ada kolom visa, yang harus diisi dengan biodata supir yang memberikan kita tumpangan. Kami juga dibekali peta Jakarta yang tulisannya alamaaaaakkk bikin mata jereng. Selain peta, kami diberi souvenir dari sponsor lomba, seperti voucher, kalender, handuk, pin, dll. Lihat deh sponsornya, banyak banget kan? sumpah ini hebat banget. Kalau nggak ada sponsor, nggak mungkin deh peserta dan drivernya dapet banyak merchandise



Perhentian Kedua: Jl. Pangeran Jayakarta, Makam Souw Beng Kong, Kapitan Tionghoa VOC
Dari Kota Tua kami lari menuju Jl. Pinangsia, mencari tumpangan. Tumpangan pertama kami cegat di
depan Plaza Pinangsia, sebuah mobil pick-up yang akan menuju Lintedeves. Kami turun di Lintedeves. Eh... ternyata kami salah strategi! kami pikir Hotel Jayakarta berada di Jl. Pangeran Jayakarta, ternyata kami salah :( ah.. jadi kami harus berjalan panjang menyisiri jalan apalah itu namanya, hingga kami bertemu mobil pick-up lainnya yang mau menampung kami. Tunggu. tunggu, apa? sepertinya saya menjelaskannya dengan mudah. Enak saja, untuk mendapatkan mobil pick-up saja kami sudah menempuh jalan kaki di siang terik yang cukup panas dan jalanan berdebu, belum lagi tatapan sinis pengendara mobil-mobil ber-AC yang tidak menganggap niat baik kami.

Tumpangan kedua kami menurunkan kami di sebuah persimpangan jalan, karena berbeda arah, Untuk menuju Jl. Jayakarta Gang Taruna kami harus berjalan kaki mencari gang yang hanya dapat dilalui motor. Tidak semudah itu mencari gang Taruna, karena kecilnya gang tersebut kami sempat kelewatan beberapa meter. Dan, sampailah kami di perhentian kedua. Makam Souw Beng Kong, mantan Kapitan Tionghoa VOC. Di perhentian ini kami hanya cukup memotret ikan mati yang ada di depan makam.

Setelah passport ditandatangani oleh Aki si penjaga perhentian kedua, kami langsung membaca amplop yang disodorkan. Yah, the next destination is Jl. Jelambar, Kavling Polri Blok C, Komunitas Tembang Pribumi.